
"Ayah, ini aku Satria. Putramu," jawab Satria dengan mata yang nanar. Entah mengapa, setelah bertemu dengan ayahnya. Satria merasakan energi yang aneh. Meneyruak begitu saja, sampai lelaki tersebut mengatakan keberadaan Satria yang seharusnya di negara X.
"Apa yang kamu lakukan di tengah hutan seperti ini? Seharunya, kamu berada di negara X bersama ibu, bukan?" tanya Penus heran.
"Ada sesuatu yang aku ingin tanyakan, kepada ayah!" balas Satria dengan sorot mata serius.
"Apa itu?" tanya Penus dengan penasaran.
"Sebaiknya, kita bicarakan hal itu di rumah saja," ajak Satria.
"Sebenarnya ... ."
Terlihat sekali, jika lelaki itu sangat gelisah. Mmebuat Satria merasa telah terjadi sesuatu. Lalu, kembali bertanya, "Ada apa, Yah?"
Terdengar hembusan nafas panjang dari Penus, dia hanya menarik Satria untuk masuk ke dalam mobilnya dan mulai mengendarai kendaraan beroda empat itu.
Mobil pick up, yang selalu Penus gunakan, untuk naik dan turun gunung. Mengantar sayur–mayur yang ditanam sendiri oleh lelaki itu, untuk di jual ke desa-desa yang berada di bawah kaki gunung.
Begitulah, cara lelaki itu bertahan hidup. Menjadi seorang petani, tidak bisa menjanjikan apapun. Tetapi, dia bisa merasakan ketenangan. Dengan, memutuskan komunikasi dengan dunia luar, yang terdadang tidak bersahabat.
Selama di perjalanan, Satria terus memperhatikan pergerakaan matahari dan mengira-ngira. Sudah jam berapa, karena dia memiliki waktu yang snaagt sedikit. Sebelum sang ibu, berubah menjadi Manusia kembali.
Hingga, mereka telah memasuki area yang sangat luas. Bukan hanya menajdi petani, Penus ayahanya Satria. Juga, menjadi seorang peternak dan memelihara beberapa sapi.
"Ayah! Aku tidak memiliki banyak, waktu lagi!" terang Satria. Ketika, mereka baru saja sampai. Bahkan, snag aayah baru saja mematikan mesin mobilnya.
"kamu kenapa? Datang tiba-tiba dan ingin pergi begitu saja?" cibir lelaki itu. Namun, membuat Satria mendesah kasar.
"Aku tidak memiliki banyak waktu! Aku datang ke sini, hanya ingin menanyakan. Tentang keluarga Lubis!" jelas Satria dengan sorot mata serius.
Penus agak terkejut dengan apa yang Satria tuturkan, hingga suara teriakan seseorang. Membuatnya menajdi tegang seketika.
"Ayah!"
__ADS_1
Satria yang juga mendengar ada seseorang yang memanggil 'Ayah,' sontak saja. Matanya mencari asal suara tersebut, betapa terkejutnya ia. Ketika, melihat sosok yang snaagt dikenalinya.
Tanpa banyak berbicara, Satria segera keluar dari mobil dan menghampiri seorang wanita cantik yang kini tengah berdiri di ambang pintu.
Satria segera memeluk wanita itu, melupakan perasaan rindunya yang tidak tertahankan lagi. Akhirnya, dia bisa melihat wajah cantik tersebut lagi.
"Haruna!" panggil Satria dengan suara lirih.
"Kamu siapa?"
Sontak saja, Satria segera melepaskan pelukannya. Dia menatap wanita yang sangat diyakini, adalah Dewi Haruna. Entah, bagaimana. Wanita itu ada di rumah ayahnya. Namun, dia tidak perduli.
"Kamu siapa?"
Pertanyaan itu, kembali Satria dengar. Seolah tidak percaya, jika Haruna melupakannya dnegan begitu saja. Bahakan, setelah percintaan singkat mereka.
"Dia anak, Ayah. Ayo, masuk," ajak Penus dan di anggukan oleh wanita itu.
Bagaikan mimpi buruk, Satria menatap ke arahnya dengan sinis. Dia yakin sekali, jika lelaki itu telah melakukan sesuatu yang membuat Dewi Haruna sampai berada di sini.
"Haruna! Tidak mungkin kamu melupakanku, bukan?" tuduh Satria dengan mata yang nyalang. Dia tidak bisa mengendalikan, emosi yang sudah memuncah di dalam dadanya.
Ditambah, sikap dingin yang wanita itu tunjukan. Menambah emosi Satria semakin menjadi-jadi saja.
"Namanya, Dewi. Bukan, Haruna, Sat. Ayah menemukannya, kemarin. Ketika, kesungai. Sepertinya, dia kehilangan ingatan," jelas Penus. Dia melihat dengan jelas, bagiamana sikap dan raut wajah Satria. Ketika, menatap wanita cantik yang dia selamatkan kemarin.
Satria tidak percaya dengan apa yang baru saja ayahnya jelaskan, ditambah dirinya yang dipacu oleh waktu.
Membuat Satria, kembali mendesah. Dia bingung, memilih mencari tahu apa yang terjadi kepada Haruna yang bisa bersama dengan ayahanya. Atau, menanyakan tentang keluarga Lubis.
Hingga, membuat Satria pada pilihan yang sulit. Sedangkan matahari, semakin tergelincir. Menandakan, jika malam akan segera datang.
"Satria, kamu baik-baik saja, bukan?" tanya Penus yang merasa cemas dengan keadaan putranya yang seolah tidak tenang.
__ADS_1
Namun, Satria hanya bisa mengangguk kecil. Dia tidak mungkin, menceritakan. Masalah yang tengah dihadapinya, sudah dipastikan. Jika, ayahnya tidak akan percaya.
Sedangkan Haruna hanay diam dan emnundukan kepalanya, entah mengapa wanita itu. Seolah, enggan untuk menatap Satria ataupun berbicara. Kecuali, kepada Penus.
"Oh iya, kamu tadi menayakan. Tentang keluarga Lubis, bukan?" tanya Penus ingin memastikan.
"Semuanya! Apapun tentang keluarga Lubis, apalagi tentang kemampuan mereka," balas Satria cepat. Dia sudah terdesak, nanti dirinya akan kembali lagi. Setelah, memperlajari ilmu sihir dan bisa membuat Haruna kembali ke pelukannya. Setidaknya, dia tahu. Jika, wanita itu berada di tangan yang tepat.
"Semuanya?" tanya Penus yang ingin memastikan. Tidak bisa dipingkiri, jika dia merasa terkejut akan peryataan Satria tersebut.
"Iya, semuanya! Apalagi, tentang 'Heypersek' sebuah kemampuan yang dimiliki oleh keturunan Lubis."
"Darimana kamu menegtahui, tentang hal itu?"
Suara Penus berubah, seolah lelaki itu sedang terancam dengan kata-kata yang Satria ucapkan.
"Aku tidak meiliki banyak waktu, untuk menjelaskan semuanya! Jika, Ayah bisa? Maka, terbanglah ke negara X dan bawa wanita itu!" terang Satria.
Dirinya, semakin kehabisan waktu. Sampai terdnegar suara gerangan dari luar rumah, membuat Satria seegra berlari ke luar.
Hari telah menjadi gelap, ternyata waktu Satria semakin sedikit. Kembali, suara erangan tersbeut terdengar. Membuat Satria berteriak, sebab yakin. Bahwa, itu suara ibunya.
"Ibu! Tunggu sebentar! Aku akan menemuimu! Setelah berbicara, sebentar lagi dengan ayah!"
"Apa ada ibumu disini?" tanya Penus kepada Satria, dia menyusul putranya yang berlari tiba-tiba. Dia berpikir, ada sesautu yang membuat Satria keluar dan nyatanya benar.
"Aku sudah kehabisan waktu! Aku ingin, Ayah terbang ke negara X dan menemuiku di sana! Aku tinggal di kastil Profesor Ruden!" jelas Satria. Hanya cara ini, yang bisa dia lakukan. Berharap, sang ayah mau melakukan. Apa yang dipinta olehnya, walaupun hal itu kecil kemungkinannya. Mengingat, sang ayah yang memiliki kebun dan beberapa bintang peliharaan yang ahrus di jaga.
Disaat mereka tengah teriam sesaat, karena Penus yang masih memebrikan jawaban. Atas apa yang baru saja Satria katakan. Tiba-tiba saja, mendarat sebuah binantang besar dengan tubuh yang dipenuhi oleh sisik keras. Ditambah, binatang itu menyemburkan nafas panas yang berapi.
Blurrr
Api yang disemburkan, membuat mereka bisa melihat dengan jelas. Binatang tersebut, Penus yang juga melihatnya mengambil langkah mundur. Merasa, tidak percaya dengan apa yang dilihat olehnya saat ini.
__ADS_1
"Tidak mungkin!" gumam Penus pelan.
"Kamu, terlalu lama!"