Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 72


__ADS_3

"Akhirinya ... ."


Setelah melihat keadaannya yang menguntungkan, Satria berhasil menyergap tubuh Put dan membuat wanita itu tidak bisa bergerak.


Satria memang pandai dalam membaca situasi, dia bisa mengecoh Put yang hanya fokus kepada Haruna dan mengabaikan dirinya yang sedari tadi berusaha mencari celah.


"Lepaskan!" teriak Put yang sudah berada dalam dekapan Satria. Ada perasaan aneh yang menyeruak di dalam dirinya dengan posisi Satria yang membeluk tubunnya dari belakang.


Bahkan Put bisa merasakan senjata yang mematikan milik Satria yang telah dalam mode aktif, beberapa kali Put memejamkan matanya dan mengatur nafas. Agar tidak terpancing dengan apapun yang dimiliki oleh Satria.


Walaupun tidak bisa Put pungkiri, apa yang melekat pada Satria begitu dia dambakan. Bahkan di dalam hidupnya, hanya terukir nama Satria. Tidak ada yang lainnya, Put terlalu Zing kepada Satria.


Namun sayang, perasan Put telah di abaikan begitu saja oleh lelaki yang berada di belakangnya saat ini. Tangan kekar Satria yang mlingkar di tubuhnya, ingin sekali dia usap.


"Kenapa kamu tidak melawan, Put?" bisik Satria tepat di telinga Put dan membuat sekujur tubuh wanita itu meremang. Karena merasakan sensasi yang aneh, bibirnya bisa menolak apapun yang terjadi.


Namun, tubuh dan pikirannya tidak. Put kalah sebelum berperang, ketika menghadapi Satria. Pesona lelaki itu terlalu kuat dan tidak bisa dia hindari dengan mudah.


"Aku hanya menginginkanmu, Sat. Kenapa kamu tidak mau membalas Zingku?" lirih Put.


Ada rasa yang menyentuh hati Satria di saat mendengar pertanyaan dari Put, perlahan dia melepaskan cengkeramannya dari wanita yang terlihat rapuh di dalam dekapannya itu.


Perlahan Satria membalikan tubuh Put yang transparan, dia menatap ke dalam manik mata wanita yang dulunya seorang Blogger dan menjadikannya sebagai peliharaan.


Namun keadaan telah banyak berubah, walaupun Satria tahu. Perasan dan Zing yang di miliki oleh Put tidak berubah sama sekali, masih sama seperti mereka pertama kali bertemu.


Ketika Put membela dirinya di depan Bob yang ingin melenyapkannya, mengingat kebaikan wanita itu membuat Satria tanpa sadar mengecup bibir Put dengan lembut.


Haruna yang melihat semaunya naik darah, cemburu membuat seorang Dewi bisa lepas kendali dan menjadi makhluk yang mematikan.


"Aaaaa ... ."

__ADS_1


Haruna berteriak dengan sekuat tenaga, melepaskan semua energi yang ada di dalam dirinya begitu saja. Satria dan Put tersentak, kemudian mereka mencari tempat untuk berlindung.


Cahaya yang berkobar seperti api yang bisa membakar apapun yang berada di dekatnya, kekuatan yang dilepaskan oleh Haruna begitu mengerikan.


Satria bisa melihat perubahan itu dengan begitu jelas, bahkan hampir sama dengan Alex membuat Satria mencari akal untuk membuat Haruna kembali sadar.


"Apa yang akan kamu lakukan, Sat?" pekik Put dan menahan tangan Satria yang hendak beranjak.


Mendekati Haruna dengan dan adaan seperti itu akan membuat siapapun terbunuh, Put menggeleng pelan. Dia tidak ingin Satria melakukan hal gila.


"Aku harus menyelamatkan Haruna, Put. Maaf, aku tidak bisa membalas Zingmu waktu itu. Karena aku tidak bisa memilih hidup dan tujuan, namun kali ini. Aku bisa," jelas Satria dan segera menghampiri Haruna.


Kekuatan yang lepas dari sebuah emosi yang terpendam memang begitu dahsyat, tapi Satria bisa menangani Haruna dengan cara menekan perasaan wanita itu.


Berbeda dengan Alex, Haruna bisa Satria kendalikan karena rasa cinta wanita itu yang begitu besar kepadanya.


"Haruna, aku ada di sini," jelas Satria dan memeluk erat tubuh Haruna yang di penuhi oleh cahaya yang terang.


Mata mereka bertemu, Satria bisa melihat ada sebuah perasaan yang begitu pilu yang tengah Haruna rasakan.


Put yang masih berada di dana tidak kuat melihat sikap manis dan perhatian yang Satria berikan kepada Haruna. Dia memilih untuk pergi, menghilangkan bersama bayang-bayang.


Menghindar merupakan cara paling efektif untuk menekan emosi yang ada di dalam diri, agar tidak menimbulkan bencana.


"Aku akan kembali lagi, nanti," kata Put sebelum benar-benar menghilang.


Sedangkan Satria yang telah berhasil meredam energi Haruna, tidak menyadari kepergian Put. Dia hanya fokus menenangkan Haruna yang berada dalam dekapannya.


Menyalurkan energi dan perasaan adalah cara terbaik untuk mengendalikan keadaan, Satria mempelajarinya ketika bersama Alice.


Karena wanita cenderung mengutamakan perasaan daripada logika, setidaknya bersama setiap wanita. Satria bisa terus berlajar dan berusaha untuk mengendalikan keadaan yang sewaktu-waktu berubah.

__ADS_1


"Ada aku di sini, kamu tidak perlu takut," jelas Satria.


Setelah Haruna agak tenang, barulah Satria mengurai pelukan mereka. Dia menakup wajah wanita itu dengan kedua telapak tangannya, menatap mata yang begitu indah.


Perasaan cinta memang begitu kuat, Satria tidak menyangka bahwa Haruna adalah wanita yang bisa meluluhkan hatinya.


"Jangan lakukan hal seperti tadi, aku takut kehilanganmu," pinta Satria dan mendapatkan anggukan pelan dari Haruna.


Satria membawa wanita itu kembali naik ke atas peraduan, merebahkan tubuh yang terlihat begitu lemas. Setelah mengeluarkan energi dan kekuatan yang tidak stabil.


Berkali-kali Satria memberikan kecupan di wajah dan Haruna, berharap wanita itu bisa mengerti akan perasaannya yang begitu takut kehilangan.


Cukup hanya Alex, Satria tidak ingin Haruna juga pergi dan menghilang seperti di telan bumi. Tanpa meninggalkan jejak sama sekali, entah bagiamana caranya dia akan bertemu lagi nanti.


"Di mana wanita itu?" tanya Haruna pelan tanpa meelpaskan pandangannya dari Satria.


Mendengar pertanyaan dari Haruna, barulah Satria menyadari. Bahwa Put telah menghilang, Satria menyemunyikan perasan lain yang ada di dalam hatinya dengan tersenyum dan menggenggam erat tangan Haruna.


Lalu menghadiahinya dengan kecupan yang bertubi-tubi, sejenak dirinya harus mengabaikan yang lain di saat sedang bersama Haruna.


Ternyata menjaga hati begitu sulit bagi Satria, entah dari mana perasaan dan gejolak itu muncul. Satria kembali menjamah Haruna.


Menikmati apapun yang ada pada tubuh wanita itu, hingga dia melupakan Put yang menghilang tanpa jejak.


Walaupun Put hanyalah seorang roh yang bergentayangan tanpa arah dan tujuan, tapi Satria masih memebrikan sebuah harapan yang palsu.


Bibirnya dengan mudah mengatakan perasan cinta, tapi sikapnya terus saja mendua. Tanpa Satria sadari bawaha dia telah tengelam dalam siklus para Dewa.


Tidak ada kepuasan yang ada hanya perasan haus akan sebuah kekuasaan, bahkan tidak bisa berhenti di saat semua yang diinginkan belum tercapai.


Seorang Dewa tidak memiliki batas waktu, hidup mereka begitu panjang. Seperti dunia yang tidak mau berakhir.

__ADS_1


Berbeda dengan mahkluk lainnya yang bisa mati, seorang Dewa hanya akan berpindah tempat. Dari alam atas ke bawah, tidak memliki kesempatan rekanasi.


"Kau milikku malam ini," lirih Satria dan melakukan tugasnya dengan baik yaitu membuat keturunannya bersama Haruna. Sebelum datang pembawaan kehancuran.


__ADS_2