Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 103


__ADS_3

Dunia nyata merupakan tempat yang Satria tinggali selama hidupnya, terdampar ke dunia berbeda hanya memberikan sebuah tragedi dan masalah besar dalam hidupnya.


Sama halnya seperti saat ini, Satria berusaha keras membujuk Put untuk mau ikut dengannya. Namun, apapun yang Satria ucapkan tidak mengubah keputusan Put, mereka pun berpisah di tepi pantai dengan Satria yang menatap kepergian Put.


"Aku berharap kau berubah pikiran," gumam Satria.


Satria berjalan pelan menyusuri tepi pantai, ia ingin menuju ke kastil dan mencari keberadaan Alice atau sang ibu untuk membantunya.


Dengan tubuh Blogger membuat Satria sampai ke kastil dengan cepat, ia memanggil-manggil nama Alice dan Victoria. Namun, tidak ada jawaban dari kedua wanita itu.


Kini, keadaan Kastil semakin tidak terurus. Menandakan bahwa, sang pemiliknya tidak pernah kembali lagi.


Satria begitu penasaran dengan Ruu, kenapa lelaki paruh baya itu meninggalkan kastil miliknya dan lebih memilih berada di dunia lain.


Cukup lama Satria menyusuri lorong Kastil dan tidak sengaja melihat seseorang yang tengah berada di aula Kastil, dengan langkah pelan Satria mendekatinya.


"Ibu Jennifer," panggil Satria ketika melihat siapa orang itu. Ternyata ibunya Alice, tapi apa yang wanita itu lakukan di sini? Terlebih raut wajahnya yang nampak tidak baik-baik saja.


"Siapa kau?" teriak Jeninfer dengan waspada di saat Satria hendak mendekatinya. Bahkan, Jennifer menghunuskan pedang miliknya ke arah Satria.


Satria berusaha tetap tenang, mungkin Jennifert tidak mengenalinya dengan tubuh Blogger ini. Hingga Satria memilih untuk duduk dan mencoba menjelaskan semuanya.


Awalnya Jennifer tidak percaya dengan apa yang Satria ceritakan, tapi detik kemudian wanita itu malahan menangis sejadi-jadinya.


"Kamu kenapa, Bu?" tanya Satria pelan, ingin rasanya Satria memeluk dan menenangkan Jennifer. Tapi, dengan keadaan seperti ini? Rasanya tidak mungkin.


Satria hanya diam dan menunggu, sampai Jennifer mulai berhenti menangis. Barulah Satria menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Bu, ada apa? Kenapa Ibu menangis dan berada di tempat ini?" tanya Satria dengan penasaran.


Jennifer membuang nafas panjang dan mulai menceritakan apa yang telah terjadi selama Satria tidak ada, ternyata Antonius sang suami telah tiada.

__ADS_1


Jeniffer mendatangi Kastil untuk berdoa dan berharap ada sebuah keajaiban, kini pasukan keluarga Cooper mengalami bencana besar.


Banyak sekali prajurit yang gugur demi mengamankan keadaan dunia yang semakin hari semakin kacau, di tambah mereka tidak memiliki bantuan sama sekali.


Satria mendengar semua yang disampaikan oleh Jennifer merasa begitu menyesal, karena dirinya menghilang di saat begitu di butuhkan. Tapi, dengan keadaan menjadi Manusia biasapun. Tidak akan banyak hal yang bisa Satria berikan.


Kastil tua tempat sebagian keluarga Cooper jadikan wadah untuk berdoa dan menyimpan jasad anggota keluarga, sebab mereka percaya bahwa Kastil bisa membawakan keamanan dan kedamaian bagi Roh keluarga mereka.


"Jadi, di mana peti mati Ayah Antonius?" tanya Satria dan mulai bangun dari posisi duduknya.


Jennifer menunjukan sebuah raungan dengan pintu yang masih tertutup, dengan tubuh Satria yang seperti ini membuatnya agak kesulitan untuk menjangkau ruangan itu dan memilih untuk mendoakan Antonius dari aula saja.


Setelah berdoa dan merencanakan apa yang akan di lakukan untuk membantu keluarga Cooper, Satria mengajak Jennifer untuk ikut dengannya dan mencari keberadaan Alice.


Mereka meninggalkan Kastil yang telah kosong dan tidak terurus lagi, kini keduanya menuju ke arah kota terlebih dahulu. Sebelum pulang ke rumah.


"Apakah Ibu Jennifer melihat Ibu Victoria?" tanya Satria hati-hati kepada Jennifer, sebab takut dicurgai atau wanita itu berfikir bukan-bukan.


Apa yang di sampaikan oleh Jennifer membuat Satria begitu terkejut dan kembali bertanya, kali ini tentang Lubis.


Satu hal yang paling Satria tidak sukai dari ibu kandungnya, yaitu selalu memiliki ambisi untuk membuat sebuah pasukan yang besar dan kuat sama seperti keluarga Cooper. Entah untuk apa dan tujuannya, Satria merasa tidak suka.


"Lubis? Bocah laki-laki itu ikut Victoria," jelas Jennifer pelan.


Apa yang ditakutkan oleh Satria, sepertinya akan terjadi. Namun, ia sendiri yang akan menghentikan tindakan dari sang ibu.


Di saat Satria tengah berjalan menyelusuri hutan, tiba-tiba saja terdengar suara ledakan yang cukup keras dan membuat mereka terkejut.


"Apa masih terjadi pengejaran?" gumam Satria pelan. Namun, masih bisa di dengar oleh Jennifer.


"Sepertinya bukan, para Blogger sudah kembali ke dunia Albiru. Hanya para Hunter yang sulit untuk dikalahkan dan banyak memakan korban," jelas Jennifer.

__ADS_1


Satria yang penasaran dengan apa yang sedang terjadi mencoba mendekati tempat di mana suara ledakan tadi berasal.


Satria berjalan dengan mengendap-endap dan mencoba menggunakan kemampuannya untuk menganalisa apa yang terjadi.


Ketika Satria telah semakin mendekat, tiba-tiba saja mata Satria terbelalak, seperti ingin keluar dari tempatnya. Di saat melihat seseorang yang tengah menunggangi seekor binatang seperti kadal.


"Alice," ucap Satria dengan pelan dan melihat pertarungan yang Alice lakukan dengan beberapa Hunter.


Satria masih melihat situasi, sepertinya Alice tersudutkan dan begitu kelelahan. Para Hunter yang terdiri dari 3 orang dengan tubuh yang besar terus menyerang Alice tanpa henti.


Satria tidak bisa menahan diri lagi, ia meminta Jennifer untuk menunggunya di atas pohon sedangkan dirinya akan membantu Alice.


Awalnya Jennifer tidak mengizinkan Satria untuk membantu Alice, tapi Satria terus memaksa dan membuat Jennifer pasrah melihat Satria yang telah menjauh.


"Semoga saja kalian bisa bersatu," gumam Jennifer merasa khawatir.


Satria yang langsung menyerang Hunter satu per–satu tanpa jeda dan membuat mereka tumbang, setelah itu Satria menggunakan mantera yang membuat para Hunter itu menghilang begitu saja.


"Evalius!"


Kini tinggal Satria dan Alice yang terlihat terluka dan menatap tajam ke arahnya, seakan-akan Satria merupakan musuh yang harus dilenyapkan.


Belum sempat Satria menyapa Alice, tiba-tiba saja sebuah anak panah tertancap di lengannya dan cairan merah pekat pun memuncah begitu saja.


Satria tidak bisa menyangka dengan apa yang terjadi, Alice menyerangnya begitu saja. Satria tetap berusaha untuk mendekati Alice.


Namun, setiap langkahnya Alice melepaskan anak panah ke tubuhnya. Satria mencoba menahan rasa sakit dan pedih seraya terus mencoba meraih tubuh Alice.


"Berhenti kau makhluk mengerikan!" Suara teriakan Alice yang begitu nyaring membuat darah Satria berdesir.


Bukan, karena suara Alice yang membuat gendang telinganya merasa sakit. Melainkan, kata-kata yang diucapkan oleh Alice. Padahal, Alice merupakan tempat terakhir untuk Satria.

__ADS_1


"Alice, apakah? Kau ... tidak mengenaliku?" tanya Satria dengan lirih. Di sorot mata Alice hanya ada sebuah kebencian dan rasa dendam yang begitu besar.


__ADS_2