
Namun, seolah tuli. Put tidak menggubrisnya dan masih melepaskan kekesalan dengan membabi–buta menyerang Hunter H. Hingga, tidak ada pergerakan lagi.
Hunter itu mati ditangan Put, ketika Put telah merasa puas. Dia bangun dan mendapati Satria yang berada di hadapan dengan mata yang nyalang.
"Evalus!"
"Apa yang kau lakukan?" teriak Sis yang melihat Satria mengeluarkan mantra yang sama dengan digunakan untuk menyerang Hunter.
Benar saja, tubuh Put tidak bisa bergerak. Raut kekecewaan Satria tidak bisa dibendung lagi, dia menatap Hunter H dengan kesedihan yang tidak bisa dijelaskan dengan apapun.
Satria mengurai rambut panjang yang menutupi wajah putranya, ada sesal didalam hatinya. Karena, tidak bisa merasakan kehadiran sang putra yang merupakan darah dagingnya itu.
"Maafkan Ayah," kata Satria pelan. Tetesan air mata yang terjatuh, tanpa sengaja mengenai kulit Hunter H. Keajaiban pun terjadi, luka yang ada ditubuh Hunter H mulai menyatu kembali dan sembuh dengan seketika.
Sis dan Put yang mendengar, apa yang Satria baru ucapan. Saling berpandangan, mereka seolah tidak percaya dengan hal tersebut.
Hingga, Hunter H mulai membuka matanya dan menatap kearah Satria yang berada di atas tubuhnya dengan tatapan aneh.
"Menjauh dariku!" teriaknya dan melemparkan Satria hingga terpental jauh.
Untung ada Sis, dengan sigap. Dia menangkap tubuh Satria, walaupun didalam benak dan hatinya. Banyak sekali hal yang ingin ditanyakan dan mengih sebuah penjelasan.
"Dasar! Makhluk tidak berguna!" teriak Hunter H dan langsung pergi menjauh. Dia berlari dengan tergesa-gesa, Sis yang ingin mengejar. Dihalangi oleh Put. Melihat keadaan putrinya yang terkena serangan Satria, membuat Sis mengurungkan niatnya tersebut.
"Satria! Tolong, sembuhkan Put!" pinta Sis dengan memohon.
Satria hanya diam, dia masih marah dan tidak menggubris. Apa yang diucapkan oleh Sis, hingga Blogger itu terus memohon dan ingin mengajaknya ke suatu tempat sakral untuk kaum mereka.
Hingga, Satria mau melepaskan Put dan membuat Blogger itu. Bisa kembali bergerak seperti sediakala. Lalu, mereka mulai berjalan mengambil jalan yang berbeda dengan Hunter H.
Sis menyerahkan Satria kepada Put, untuk dijaga. Satria yang berada ditangan Put, tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa memandang kepergian Hunter H, sedang dirinya tidak bisa lepas dari genggaman Sis.
Mereka membawa Satria, tanpa perlawanan sama sekali. Sesekali, Sis menatap ke belakang. Memastikan, jika Satria tidak menyerang Put lagi.
Hingga, mereka telah sampai disebuah gunung yang lumayan tinggi. Put yang merasa lelah, meminta untuk berhenti untuk beristirahat.
"Bu! Aku capek!" kata Put dan menjatuhkan tubuhnya di atas tanah.
__ADS_1
"Masukan Satria ke dalam ini!" pinta Sis dan menyodorkan sebuah sangkar kecil. Karena, takut. Jika, Satria mencoba melarikan diri.
"Aku bukan binatang peliharaan kalian!" maki Satria marah. Dia merasa sangat tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Sis, padahal. Bisa saja, ia menyerang Put dan Sis. Namun, tidak dilakukan. Karena, Satria merasa berhutang Budi kepada dua Blogger tersebut.
Sis mendesah, "Apa yang membuatmu ke sini? Tolong, Sat. Kami hanya tinggal berdua."
"Berdua?" kata Satria dengan mencemooh. Apa yang diucapkan oleh Sis.
"Baiklah, kami bertiga! Terimakasih, kamu mau menyelamatkan telur kami! Tapi ... coba jelaskan. Apa alasan, kamu ke sini? Jika tidak? Menjauhlah, dari kami," jelas Sis dengan serius.
Kali ini, Satria yang mendesah. Dia bingung harus ke mana, kecuali mengikuti Put dan Sis. Lalu, mencari Hunter H.
Hal itu yang ada di dalam daftar rencananya, saat ini. Sebab, ada misi yang harus diselesaikan. Hanya berasama Put dan Sis, ia bisa bertahan di dunia Albiru.
"Jika kalian memaksa? Maka, aku akan pergi! Setidaknya, kita sudah impas! Aku tidak perlu, merasa berhutang Budi lagi kepada kalian!" ucap Satria dan mulia melepaskan cengkraman Put.
Namun, sialnya. Put tidak mau melepaskan Satria, tangannya semakin menguat dan membuat Satria kesulitan untuk bergerak.
"Lepaskan aku, Put!" perintah Satria. Tetapi, tidak digubris oleh Put sama sekali.
Blogger itu, melanjutkan perjalanan. Tujuan mereka, yaitu ke goa para Dewa. Demi, meminta bantuan.
Satria juga tidak menolak, dia hanya diam. Selama perjalanan, sesekali. Satria menegur Put, karena terlalu kuat mencengkramnya.
"Kamu mau membunuhku, Put?" tanya Satria dengan wajah yang memerah.
"Diamlah! Kita hampir sampai," kata Put yang sedang tidak ingin berdebat.
Sedangkan Sis, terus berjalan. Menapaki, gunung yang mulai terjal. Sesekali, dia melihat telur yang dibawa olehnya.
"Sabar, Nak. Kita hampir sampai," gumam Sis.
Put yang mendengar hal itu hanya diam, dia melihat dengan jelas. Ketika, Satria menyerahkan telur Blogger kepada ibunya.
Ada perasaan cemburu didalam dadanya, membuat Put tidak ingin melepaskan Satria. Karena, nanti dirinya akan kesepian kembali.
Hingga, tidak terasa. Mereka telah sampai di muara goa yang berada di atas puncak gunung. Dimana, portal masuk ke dunia Dewa ada di sana.
__ADS_1
"Aku lelah!" kata Put. Kembali mengeluh.
"Kita tinggal masuk ke dalam, setelah itu ... kamu boleh beristirahat," kata Sis dengan raut wajah serius.
Put hanya mengangguk dan mereka masuk bersamaan, Satria yang masih ditangan Put. Hanya diam dan disaat mereka masuk kedalam goa.
Semuanya nampak gelap, tidak ada cahaya sama sekali. Hanya terdengar suara-suara aneh di dalam, Sis terus berjalan bersama Put.
"Terus jalan! Jangan dengarkan hal yang lain dan fokus pada tujuan kita!" perintah Sis.
Satria yang mendengar hal itu, merasa aneh. Tempat apa yang mereka masuki, lalu tujuan apa yang dikatakan oleh Sis.
Namun, ia menahan diri. Hingga, terlihat cahaya di ujung jalan. Sampai semuanya mulai nampak, mulut Satria terbuka lebar.
"Tempat apakah ini?" gumam Satria dengan tatapan yang takjub.
Pemandangan disekitar sangatlah indah, hijaunya pepohonan dan langit yang cerah. Memanjakan matanya, membuat hati terasa damai.
"Kita harus ke atas! Kemudian, menaruh telur Blogger yang terakhir."
Sis kembali memberi perintah, Put hanya diam dan mengikuti ibunya itu. Satria sudah tidak bisa menahan diri lagi dan akhirnya bertanya pelan.
"Tempat apa ini? Apa benar? Telur itu? Merupakan, telur terakhir para Blogger?"
Pertanyaan-pertanyaan ini yang terus, membuat Satria penasaran. Tetapi, ia tidak mendapatkan jawaban sama sekali. Put dan Sis, hanya diam saja.
Satria pun meronta dari tangan Put, dia merasa tidak dihargai. Setelah, apa yang dilakukannya untuk kaum Blogger.
"Put! Lepaskan aku!" teriak Satria dengan marah.
Put tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Satria dan terus berjalan, hal itu membuat Satria geram. Lalu, mengucapkan mantra andalannya.
"Evalus!"
Namun, tidak terjadi apapun. Put tersenyum sinis kearah Satria, sebenarnya dia amat kesal akan mantra Satria yang membuatnya sempat kesulitan untuk bergerak.
"Mantra apapun, tidak bisa berguna di sini!" kata Put dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Bohong!" pekik Satria.