
Bob hanya menatap ke arah Penus, seolah ayahnya Satria itu yang telah mengganggu pikirannya. Penus yang ditatap seperti itu oleh Bob, merasa risih dan menanyakan. Apa masalahnya.
"Maaf, ada apa denganku?"
"Kamu benar-benar, keturunan keluarga Lubis?" Akhirnya, pernyataan itu yang meluncur lewat bibir Bob.
"Tentu! Memangnya ada apa?" Penus agak tidak nyaman dengan pertanyaan dari Bob.
Bob hanya diam dan mengemasi barang-barang mereka, karena dia merasa. Jika, istirahatnya sudah cukup. Sedangkan perjalanan masih jauh.
Penus benar-benar, merasa aneh dengan sikap Bob. Namun, dia berusaha untuk terlibat acuh. Sampai mereka sampai ke tempat tujuan, karena itu merupakan mayoritas utamanya.
Keadaan dunia Albiru, yang mereka lewati sangat sulit untuk diprediksi. Baru saja siang yang panas, kini tiba-tiba saja diguyur oleh hujan.
Karena, tidak ada goa yang bisa mereka masuki untuk berteduh. Satria mengangkat beberapa batu besar dan menyusunnya dengan sedemikian rupa. Agar mereka bisa berteduh.
Penus yang melihat kemampuan Satria, tidak bisa menyembunyikan perasaan takjubnya. Ketika, mereka berteduh dan Bob telah membuat api untuk memanaskan badan. Penus pun mulai mengajak Satria untuk berbicara.
"Sat, kamu memang hebat," terangnya dengan menepuk pelan bahu putranya itu.
Namun, Satria tidak merasa sombong ataupun berbesar hati. Baginya, apa yang kini dimiliki. Hanya sebuah jalan atau jembatan, untuknya mencapai sebuah tujuan yang diinginkan.
Menyembunyikan jati diri kesatria, merupakan jalan yang dipilih olehnya. Karena, menjadi hebat saja belum cukup untuk membuat orang-orang disekitarnya bahagia.
Akan tetapi, menjadi kuat dan berkuasa. Bisa membantunya untuk mencapai, sebuah akhir yang diinginkan.
"Dewa Satria, sepertinya kita kedatangan tamu tidak diundang."
Satria dan Penus, menatap ke Bob yang tengah berbicara. Bob pun menunjuk ke sisi lain, dimana terlihat seseorang yang tengah berjalan di derasnya guyuran air hujan.
Tidak terlalu jelas, wajah orang tersebut. Namun, satu hal yang pasti. Dia seperti manusia biasa, terlihat dari postur tubuhnya yang kecil.
"Paman Bob, tidak keberatan? Jika, menerima satu anggota lagi?" Satria bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya kepada, orang yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Bob tidak paham dengan apa yang Satria baru ucapan, membuatnya menatap ke arah Penus. Seolah meminta penjelasan, tentang apa yang dinginkan oleh Satria.
Namun sayang, Penus acuh tak acuh. Membuat Bob merasa sedikit kesal, dia tidak menjawab apa yang Satria tanyakan dan memilih untuk melepar ranting kecil ke arah api yang dibuat olehnya.
"Pe–er–rmis–si."
Suara yang terbata-bata dengan tubuh yang mulai menggigil kedinginan, membuat keadaan seseorang yang kini tengah berdiri dihadapan mereka. Terlihat agak memperihatinkan, Satria pun meminta orang tersebut untuk ikut berteduh bersama.
Namun, wajah orang itu berubah menjadi memerah. Karena, terkejut. Ketika, melihat Satria. Dia tidak bisa menyembunyikan hal itu. Hingga, Penus mengajaknya berbicara.
"Wahay saudaraku, hendak kemana kah engkau?"
Kini perhatiannya tertuju pada Penus, dia agak kesulitan berbicara. Karena, tubuhnya mulia terasa membeku.
Bob yang melihat hal itu, mengajak lelaki yang masih misterius tersebut. Untuk duduk didekatnya, tidak lupa pula. Bob memberikan makanan dan minuman.
"Anda bisa mati kedinginan, jika terus berada di bawah air hujan."
Bob berusaha mengajak lelaki itu berbicara, bahkan dia memberikan sebuah kain. Untuk menghangatkan tubuh orang tersebut.
Lelaki itu, tidak menggubris. Apa yang dikatakan oleh Bob, dia malah beralih kepada Satria yang masih menatap kearah luar. Dimana hujan masih turun.
"Iya, Prof." Hanya kata itu yang keluar dari bibir Satria, membuat lelaki yang merupakan Profesor Ruden itu tidak mampu berbicara apapun lagi.
Dirinya yang terdampar di dunia Albiru dengan keadaan yang tragis, tidak menyangka. Jika, bisa bertemu dengan Satria dan beberapa orang lainnya.
Sebelumnya, Profesor Ruden berpikir. Kalau dirinya akan tewas mengenaskan, dia tidak mengerti. Bagaimana bisa, protal dunia Albiru bisa terbuka dengan lebar.
Hingga, menumbuhkan kecurangan. Jika, ada yang sengaja melakukan pergesekan antara dua dunia. Namun, hal itu sangat berbahaya. Kalau sampai, portal dunia Albiru terus terbuka. Maka, dunia manusia bisa habis.
"Prof memikirkan apa?" tanya Satria tiba-tiba. Membuat Profesor Ruden tersentak dan dengan cepat menggeleng kepalanya.
Dia tidak bisa menceritakan, segala kemungkinan terburuk yang ada di dalam pikirannya. Apalagi, kepada Satria. Walaupun mereka dekat, tetapi rahasia dunia Albiru tetap harus dilindungi.
__ADS_1
Karena tidak mendapat jawaban dari Profesor Ruden, Satria memilih untuk beristirahat. Sebab, tidak ada kemungkinan untuk mereka melanjutkan perjalanan. Ditengah hujan yang tidak mau reda, bisa-bisa jalan yang akan dilalui pun semakin sulit.
Baru saja, Satria menutup matanya. Terdengar, suara Bob yang berbicara dengan nada tinggi. Membuat Satria mau tidak mau, kembali terjaga.
"Apa yang akan anda lakukan! Ini berbahaya!"
Satria menatap ke arah Bob dan ayahnya yang seperti tengah berdebat, sedangkan Profesor Ruden hanya duduk di pojok sudut.
"Paman Bob, ada apa?" tanya Satria pelan. Namun, lelaki itu hanya menunjuk kearah Penus yang tengah berdiri dihadapannya. Satria mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi. Hingga, suara Profesor Ruden terdengar.
"Mereka ingin keluar!" Hanya kata itu saja yang diucapkan oleh Profesor Duren, sedangkan Bob dan Penus bungkam seribu bahasa
Entah bagaimana awalnya, kedua orang itu bisa bersilihpaham. Satria mendesah berat, lalu menepuk bahu Bob yang berada tidak jauh darinya.
"Paman, aku tidak akan membela siapapun disini! Tolong, jelaskan. Ada apa?" Satria berusaha membujuk Bob, agar lelaki itu tidak terpancing emosi. Terlebih, dia sudah menggenggam dengan erat sebuah pedang.
Satria sangat tahu, bagaimana kemampuan Bob dalam memainkan benda tersebut. Karena, dirinya pernah melihat sendiri. Bob tengah bermain pedang, ketika berlatih.
"Huf ... ayahmu sangat menyebalkan, Dewa Satria. Dia ingin pergi, dan meninggalkanmu," jelas Bob dengan suara yang amat kesal. Bahkan, tangannya masih mencekam erat pedang. Menunjukkan, betapa geram dirinya.
Kini Satria mengetahui, apa yang membuat Bob, sampai ingin menyerang ayahnya. Dengan perlahan, Satria mencoba meluruskan. Apa yang menjadi perdebatan mereka.
"Jika Ayah ingin pergi? Maka, pergilah! Aku tidak apa-apa.!" Setiap kata yang Satria ucapan, penuh akan penekanan. Terlihat dengan jelas, jika Satria sangat serius mengatakan hal itu. Hingga Bob, meletakan pedangnya kembali.
Sedangkan Penus, hanya bisa terdiam. Tidak mampu berkata apapun, sampai terduduk lemas di tempatnya.
"Jika, ada di antara kalian? Ingin meninggalkanku? Maka, silahkan." Satria kembali berbicara, kini dia menatap ke arah Bob. "Ini juga berlaku untuk Paman Bob," tambahnya.
Bob menggelengkan kepala, pertanda menolak apa yang baru saja di ucapan oleh Satria. Baginya, berada di samping Satria. Merupakan sebuah kehormatan yang sangat tinggi.
"Aku akan selalu, berada di sisi Dewa Satria." Sebuah pengakuan, akan pengabdian yang dilakukan oleh Bob. Membuat Profesor Ruden yang mendengar dan melihat segalanya, merasa muak.
"Apa yang bisa kamu dapatkan? Dari mengikuti Satria!" pekiknya.
__ADS_1
"Tinggalkan dia!"