
Setelah pergi meninggalkan Haruna, Put dan Alice menuju ke portal yang terdapat di dalam goa. Put yang sebelumnya sudah meninggalkan jejak dengan mudah bisa kembali menuju ke dunia nyata ataupun dunia yang tidak diketahui.
"Kenapa kamu tidak menghabisinya tadi?" tanya Put seraya menyelusuri goa dengan penerangan obor.
Alice membuang nafas panjang, padahal ia bisa mengalahkan Haruna. Namun, tidak tega untuk melenyapkan. Entah mengapa, Alice merasa bahwa suatu hari nanti Haruna bisa berguna baginya.
Karen tidak mendapat jawaban dari Alice, Put tidak ingin memaksanya untuk berbicara dan memilih untuk fokus pada jalan yang mereka lewati.
Put ingat betul, kalau ada siluman ular itu tinggal di sini. Malam tadi mereka tidak bertemu, entah kalau sekarang.
"Ada apa?" tanya Alice melihat raut wajah Put berubah dratis.
Put hanya meletakan jari telunjuknya di bibir sebagai kode untuk diam, Alice yang paham dengan maksud Put mengagguk kecil.
Cahaya dari obor yang mereka gunakan bisa menerangi lorong yang akan dilewati, sampai mereka bisa melihat seekor ular tengah melingkar di tengah-tengah lorong.
Tentu saja Put tahu siapa ular itu, namun yang menjadi maslahnya adalah. Ruu yang menghalangi jalan mereka, Put berfikir keras untuk bisa terus melanjutkan perjalanan tanpa membangunkan ular tersebut.
"Aku bunuh saja, dia!" kata Alice maju beberapa langkah, tapi ditahan oleh Put yang menggeleng pelan.
Bukan perkara Put takut kepada Ruu, tapi ia tidak ingin mengotori tangannya dengan menghabisi siluman ular itu.
"Kenapa?" tanya Alice penasaran.
"Kita hanya akan mendapatkan masalah," jelas Put.
Alice tersenyum sinis, Put yang memilih maju terlebih dahulu memberikan ruang untuk Alice. Ia membidik tubuh ular itu dengan anak panahnya dan melepaskan tembakan tepat ditubuh ular itu. Ketika Put lengah.
Tiba-tiba saja, teriakan keras kesakitan terdengar memenuhi setiap lorong. Anak panah Alice membuat ular itu berubah menjadi manusia biasa.
Namun, senyum yang sempat menghiasi Alice kini lenyap seketika. Ia langsung berhamburan menuju kearah sasarannya tadi.
"Aaaa ... ."
"Lubis!" pekik Alice.
__ADS_1
Alice ataupun Put tidak menyangka sama sekali, kalau itu adalah Lubis. Alice bahkan amat menyesal, jika ia mau mendengarkan apa yang diucapkan oleh Put tadi untuk diam. Mumngkin saja Lubis tidak akan terluka seperti saat ini.
Alice mengangkat tubuh Lubis dengan perlahan, ia menatap Put nanar. Seolah meminta bantuan, tapi Put hanya diam. Sebab, belum mengenali Lubis.
"Put! Bantu aku," pinta Alice dengan raut wajah memohon.
"Siapa dia?" tanya Put penasaran. Put mengira siluman ular itu adalah Ruu, ternyata dirinya salah. Dia bukan Ruu dan sepertinya Alice mengenal bocah itu.
Alice pun menjelaskan siapa Lubis, Put membuang nafasnya panjang dan menyodrokan ramuan kepada Alice.
Setelah menuangkan ramuan tersebut ke dalam mulut Lubis, tiba-tiba saja Lubis meraung-raung. Disusul dengan perubahan tubuh Lubis yang semakin membesar.
Alice menatap tajam ke arah Put yang nampak terkejut, Put telah melakukan kesalahan dengan memberikan ramuan yang membuat Lubis berubah menjadi Blogger.
"Apa yang kamu lakukan?" pekik Alice geram seraya menarik baju Put yang nampak syok.
"Aku tidak sengaja!" balas Put cepat.
Namun, semuanya telah terjadi. Kini Lubis telah berubah menjadi Blogger dan perlahan membuka matanya.
"Alice!" panggil Lubis dengan pelan tapi nampak agak terkejut.
namun, lain halnya dengan Put. Ia tidak menyangka, kalau Lubis merupakan anak Satria dengan Lilly setelah mendengar penjelasan dari Alice.
"Cih! Entah bagaimana caranya Satria bertemu dengan ibumu! Sampai menghadirkan makhluk sampah!" Put berkata dengan sinis seraya melipat kedua tangannya di dada.
Put merasa cemburu, terlebih nama Lilly 'lah yang membuat keonaran di dunia Albiru. Sedangkan Alice yang terbawa emosi langsung menghajar Put secara tiba-tiba dan membuat Put yang lengah terkena seragan Alice dengan telak.
Put mengusap ujung bibirnya yang berdarah akibat pukulan dari Alice, ia menatap nyalang kepada Alice yang telah berani melakukan hal itu padanya.
"Masalah kamu apa sih, Alice? Aku dah bantuin kalian! Tapi, kamu ... ." Put benar-benar merasa kesal, ia segera bangun dan ingin membuat perhitungan dengan Alice.
Bukan perkara rasa sakit dari pukulan yang dilakukan oleh Alice, malainkan cara Alice yang menurut Put tidak berterimakasih.
"Apa? Masalahku adalah kamu yang hamil!" kata Alice dan membuat Put terdiam sesat.
__ADS_1
Alice sengaja mengatakan hal itu, ia ingin memastikan apa yang dikatakan oleh Satria tidak benar.
"Hamil?" kata Put pelan.
Sedangkan Lubis yang memperhatikan kedua wanita yang ada dihadapannya merasa heran, setelah sekian menit. Ketika Lubis baru menyadari perubahan tubuhnya segera memekik keras.
"Aaa ... apa yang terjadi padaku?"
Put yang ingin marah pun menatap ke arah Lubis, begitu pun dengan Alice yang segera menjelaskan bahwa Lubis telah menjadi Blogger.
Sampai Lubis merasa tenang, barulah Alice mengajak Lubis untuk meninggalkan goa tersebut. Ternyata Lubis berhasil terlepas dari Hunter yang membawanya, bahkan sudah melenyapkan Hunter tersebut.
Sedangkan Put yang belum mendapatkan jawaban yang pasti dari Alice yang malahan ingin menghindar membuatnya menarik tubuh Alice agar bisa menghadap ke arahnya.
"Kamu mau apalagi?" tanya Alice dengan nada kasar.
Put mengepalkan tangannya erat, ingin sekali ia membungkamkan mulut Alice dengan tinjuannya. Namun, sebisa mungkin Put menahan diri.
"Siapa yang hamil?" tanya Put kembali.
Alice melepaskan tangan Put dengan kasar dan menjelaskan bahwa Satria yang mengatakan hal tersebut, setelah itu Alice berlalu.
Put yang mendengar jawaban dari Alice merasa ada yang janggal dan aneh, bahkan ia merasa tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Alice.
Put tidak bisa percaya, kalau Satria mengatakan bahwa dirinya tengah hamil. Tentu saja hal ini menimbulkan opini lain di dalam benak Put.
"Kau ingin ikut atau tidak?" teriak Alice yang sudah menjauh.
Put segera bergerak dan menyusul Alice serta Lubis, ia akan menayakan hal ini langung kepada Satria ketika mereka bertemu nanti.
Bahkan Put memilih untuk menjaga jarak dari Alice yang menurutnya memiliki maksud tersembunyi, atau kata lain Put. Kalau Alice sama halnya dengan kacang yang lupa kulitnya, padahal Put yang membantu Alice untuk mendapatkan kekuatan Blogger.
Namun, Alice dengan teganya menyerang Put. Ditambah ucapan Alice yang tidak masuk akal bagi Put, terlebih adanya Lubis yang merupakan anak satria dan Lilly membuat Put semakin muak akan kedua orang itu.
"Alice, kita di mana?" tanya Lubis setelah mereka berhasil keluar dari dalam goa.
__ADS_1
Lubis baru kali ini melihat hamparan pantai pasir yang begitu luas dan air laut yang berwarna biru dengan gelombang.
"Kita telah sampai di rumah," jelas Alice.