
"Entah apa yang kamu berikan kepada Satria, putraku. Tapi ... satu hal yang harus kamu tahu. Kalau aku tidak sudi Satria menikah denganmu!"
Ucapan Victoria memang sangat mengerikan, wanita itu tengah memainkan peran sebagai ibu mertua yang kejam. Namun sayang, dia telah membangkitkan kemarahan di dalam diri seorang Dewi Haruna. Dengan sekejap mata saja, Dewi Haruna berubah.
Tubuh Haruna memerah padam, bukan hanya itu saja. Taring tajam keluar dari mulutnya, mata yang awalnya indah dengan warna ke emasan. Kini berubah menjadi menghitam pekat, sisi lain dari Haruna yang sangat jarang di ketahui semua orang.
Tiba-tiba saja, isi ruangan tersebut berubah menjadi mencekam. Seperti ada awan gelap yang menyelimuti, bukan hanya itu saja. Victoria dan Profesor Ruden kesulitan untuk bernafas saat ini. Entah karena oksigen yang lenyap seketika, atau perubahan Haruna yang menjadi begitu mengerikan.
"Apa yang kamu katakan tadi? Tidak sudi, jika Dewa Satria menikahiku?" Suara Haruna penuh akan penekanan, menandakan kemarahan yang tidak bisa di bendung lagi.
Dengan keadaan yang demikian, Victoria merasa ingin mati. Hingga cahaya terang datang dan menghapus jejak awan pekat.
Terlihat kedatangan Satria dengan begitu gagah beraninya dan segera menghampiri Victoria yang hampir kehabisan nafas.
"Sat, akhirnya kamu datang," ucap Victoria dengan lirih seraya menatap nanar wajah putranya yang semakin tampan.
"Haruna, bisakah kamu menghentikan energi yang tidak beraturan ini? Aku tidak ingin, kamu sampai kelelahan nantikan. Ketika kita akan melakukan pernikahan."
__ADS_1
Sunyi seketika, bahkan suara deru nafas mereka seakan tidak bisa di dengar lagi. Setelah apa yang baru saja di ucapkan oleh Satria.
Tubuh Victoria seakan tidak memiliki tulang, dia hampir roboh seketika. Untung ada Profesor Ruden yang sigap menangkap tubuh wanita itu, agar tidak terjatuh.
"Satria, apa kamu benar-benar akan menikahi Haruna?" tanya Victoria dengan lirih. Menolak apa yang baru saja dia dengar.
"Tentu saja, Bu. Dewi Haruna akan menjadi pendamping yang paling pas untukku. Dia kuat dan memiliki kemampuan yang luar biasa, apakah Ibu merasa keberatan?" tanya Satria. Dia melangkah menghampiri Victoria, Satria melihat ada aura kegelapan di dalam tubuh sang ibu. Namun, dia tidak ingin membicarakan hal tersebut.
"Bukan Ibu tidak setuju, tapi ... bagaimana dengan Alice?" Victoria mencari alasan yang bisa diterima oleh Satria, walaupun masih ada kegusaran yang tengah ia rasakan.
Rencananya bisa berakhir seketika, membuatnya harus menemukan jalan lain. Setidaknya, dia harus berada di posisi aman terlebih dahulu.
Pupus sudah harapan dan keinginan Victoria untuk menjauhkan Haruna dari Satria, ternyata. Putranya sendiri yang memilih ingin bersama dengan Haruna.
"Haruna, ayo ikut aku," pinta Satria tiba-tiba.
Wanita cantik itu pun tersenyum manis, dia meraih tangan Satria dengan tatapan penuh rasa cinta. Haruna yang sebelumnya di penuhi oleh aura kebencian, seketika menjadi lembut dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Cinta bisa merubah segalanya, dari yang awalnya benci menjadi suka. Sekalipun seorang Dewa, tidak bisa berkutik.
Setelah Satria dan Haruna berlalu, Victoria yang masih berdiri di samping Profesor Ruden menatap pasangan tersebut dengan penuh ambisi.
Entah apa yang tengah Victoria pikirkan, sampai seruan dari Profesor Ruden membuatnya terkejut.
"V, kamu baik-baik saja?"
"Hah? Aku?" tanya Victoria gelagapan dan mendapatkan anggukan dari lelaki paruh baya di sampingnya.
"Iya, apa kamu baik-baik saja? Kita tadikan menghirup asap yang di keluarkan oleh Dewi Haruna," jelas Profesor Ruden.
Victoria hanya menggeleng pelan, "Aku tidak apa-apa. Sebaiknya Prof kembali ke kamar, terlihat wajahnya sudah mulai pucat."
Profesor Ruden mengagguk, kemudian berlalu meninggalkan Victoria yang masih belum beranjak. Sampai Profesor Ruden menghilang di balik belokan.
"Aku harus mencari cara, untuk menyingkirkan Haruna. Bagaimana pun caranya," batin Victoria.
__ADS_1
Rencana busuk apa yang akan di lakukan oleh ibunya Satria itu, kenapa dia begitu membenci Dewi Haruna? Adakah dendam yang tersembunyi ataukah, ada sesuatu yang mendasari segalanya?