
"Buka!" perintah Put tidak sabaran.
Satria mengelus dadanya sabar, menghadapi Put begitu menyebalkan. Entah menjadi Blogger atau Manusia, apalagi saat ini menjadi Roh yang gentayangan. Semakin meyebalkan menurut Satria.
Peti mati yang berhasil Satria tarik dan dibawanya ke tengah agar mudah untuk melihat isi dalamnya, Put yang tidak sabaran lagi ingin memastikan bahwa itu benar-benar tubuhnya membuka dengan kasar peti tersebut.
Seketika, bau tidak sedap menyeruak begitu saja. Satria merasa begitu pusing dan mual dalam keadaan bersamaan. Nmaun, hal itu tidak berlaku untuk Put. Sebab, Put tidak bisa merasakan apapun untuk saat ini.
Sampai peti terbuka dan menampakan tubuh Blogger yang masih utuh dengan begitu baiknya, Put tersenyum puas. Lalu segera memasuku tubuh tersebut.
Penyesuaian Put begitu sempurna dan nyaris tidak terjadi kesalahan sama sekali, kini dirinya telah menjadi Blogger kembali.
"Begitu menakjubkan," pekik Put begitu gembira dan mengema di setiap lorong goa.
Tanpa menunggu lama lagi, Put segera membawa tubuh tersebut untuk segera keluar dari goa yang begitu pengab.
Satria tidak bisa berkata apapun, ketika melihat keadaan Put sekarang. Begitu menakjubkan dan sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata.
"Put! Tunggu aku!" teriak Satria segera mengejar Put yang telah berjalan menjauh.
Kini keduanya berjalan berdampingan, setelah Satria berhasil mengejar Put. Mereka bergandengan tangan dengan senyum yang menghias kedua wajah mereka.
Seperti sepasang kekasih yang begitu bahagia, Put dan Satria menjadi semakin dekat. Karena memiliki tubuh yang smaa, yaitu Blogger raksasa.
Namun, baru saja mereka keluar dari goa ada sebuah serangan yang tiba-tiba saja mengarah ke mereka. Dengan secepat kilat, Put menepis serangan itu.
Sebuah energi yang terlepas begitu saja dan menyerang siapapun yang berada di dekatnya, hal itu membuat Put geram. Ia ingin mencari siapa pelakunya.
"Aku akan mencari asal energi itu," jelas Put dan berlari menuju ke arah asal cahaya itu berawal.
Satria mengikuti Put yang telah menjauh, ia belum begitu yakin dengan ansumsianya. Namun, apa salahnya kalau mencari tahu.
__ADS_1
Dengan nafas yang terengah-engah, akhirnya Satria berhasil mengejar Put yang berdiri di tepi jurang, membuat Satria menjadi penasaran dengan apa yang Put lihat.
"Ada apa, Put?" tanya Satria penasaran. Namun, Put hanya menujuk ke arah jurang yang dalam. Tana menjelaskan apapun, kemudian memilih berjalan memutar.
Satria bisa melihat dari atas, bahwa ada cahaya yang begitu terang di bawah sana. Entah apa dan siapa yang berada di sana, membuat Satria penasaran dan mencari keberadaan Put yang terlah berlalu.
Mereka berdua mulai menurunu jurang yang terjal, walaupun telah mengambil jalan memutar sekalipun. Ditambah energi yang terus keluar dari arah bawah membuat keduanya harus berhati-hati, kalau tidak? Maka, mereka akan terjatuh.
Tubuh Blogger memang kuat dan tangguh, Satria tidak menyangka kalau mampu melewati jurang terjal tanpa merasa kelelahan sedikitpun.
Amat berbeda dengan dirinya ketika menjadi Manusia biasa, tubuh Bloggernya mampu beradaptasi. Asalan sudah diisi energi dan udara yang cuikup, berbeda ketika di dalam goa sebelumnya.
"DIa," gumam Put pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Satria membuatnya menatap ke arah yang sama dengan Put.
Betapa terkejutnya Satria, dengan mata yang terbelalak. Ketika melihat seorang wanita cantik tengah berada di tengah-tengah cahaya yang terang dan mengeluarkan energi yang tidak beraturan.
Haruskah Satria berlari menghindar atau mendekati sosok wanita itu yang begitu familiar baginya, namun di saat Satria tengah berfikir. Put telah maju selangkah darinya.
Buk
Buar
Tidak Put sangka, niat hari ingin melakukan sebuah pukulan. Malahan dirinya yang terkena serangan dari wanita itu dan berhasil membuatnya terbangun.
"Apa yang ingin kau lakukan?" teriak wanita itu marah dan membesarkan energi di tubuhnya, tanpa perduli dengan keadaan disekitar yang mungkin saja terbakar.
Tubuh Put bergetar ketakutan mendengar teriakan wnaita itu, tapi berhasil ia tutupi dengan terliat baik-baik saja.
"Aku ingin menghentikanmu! Kalau tidak? Seluruh dunia akan hancur!" Put mencoba menjelaskan, apa yang ia ketahui. Kalau tidak mengehntikan tindakan wanita itu, bukan hanaya dunia Albiru yang menjadi korbannya. Namun, dunia-dunialain yang slaing berhubungan akan merasakan dampaknya.
Namun, wanita itu malahan tertawa lepas. Seakan tidak perduli dengan apa yang disampaikan oleh Put, hal itu membuat Put menjadi geram dan mengempalkan tangannya dengan kuat.
__ADS_1
Ingin sekali rasanya Put membungkamkan mulut yang terbuka lebar itu dengan tinjunya, tapi melihat serangan sebelumnya yang tidak berefek apapun kepada wanita yang ada dihadapannya itu. Membuat Put harus memikirkan cara lain untuk memebrinya pelajaran.
"Kamu siapa? Peduli apa aku dengan dunia ini? Semuanya telah mengkhianatiku dan saatnya ... aku balas dendam!" kata wanita itu yang telah dipenuhi oleh harsat dan emsoi yang tidak bisa dihentikan lagi.
Dendam dan rasa sakit merupakan momok yang paling menakutkan, bahkan bisa merubah seseorang menjadi jahat dan mampu melenyapkan apapun disekitarnya.
"Lilly, apakah itu kau?" Setelah sekian lama terdiam, Satria bertanya pelan demi menyakinkan bahwa wanita itu bukan Lilly.
Satria yakin, kalau Lilly telah tewas terbakar. Namun, wajah wanita itu begitu mirip dengan Lily dan membuat Satria dilema. Antara harus menyerang atau meminta maaf.
"Lilly? Nama itu telah lama mati! Bersama dengan ... kobaran api," balasnya dengan kilatan kemarahan.
Sontak saja Satria memundurkan langkahnya, jawaban dari wanita itu telah menjelaskan semuanya. Bahwa dia adalah Lilly, sebab hanya Satria dan Lubis yang mengetahui akan kematian Lilly yang terbakar.
Tiba-tiba saja Put menyerang wanita itu yang dipanggil Lilly oleh Satria dengan sekali sentakan, demi memastikan bahwa wanita itu bisa dikalahkan dengans serangan pisik.
Brak
Pukulan Put berhasil menegnai wajah wanita itu, tapi tidak memberikan efek apapun. Malahan wanita itu tertawa lepas.
"Hahaha ... kau pikir? Bisa menyakitiku dengan serangan selemah itu?" ejeknya.
"Lilly, hentikan semua ini." Satria berusaha membujuk wanita itu yang ia yakini adalah Lilly.
Entah bagiamana caranya Lilly bisa berubah seperti sekarang, tapi kalau Satria tidak menghentikan wanita itu. Malahan lebuh mengkhawatirkan.
"Berhenti? Apa kau bisa berhenti? Di saat melihat tubuhku terbakar? Malahan ... kau pergi begitu saja!" teriaknya dengan begitu marah.
Ternyata, apa yang Satria duga benar. Wanita itu adalah Lilly, tapi bagaimana bisa dia memiliki keuata yang begitu besar? Pasti telah terjadi sesuatu kepada Lilly dan siapa dalangnya?
"Aku minta maaf, LIlly. Aku menyesal," jelas Satria mencoba membujuk Lilly dan berharap wanita itu mau mendengarnya.
__ADS_1
"Semuanya telah terlambat!" balas Lilly dengan sorot mata penuh akan amarah.