Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 86


__ADS_3

"Sudah saatnya," batin Victoria.


Kini mereka telah masuk ke diaman Keluarga Cooper, Satria merasa senang dan sedih dalam waktu bersamaan.


Bagaimana ia bisa menjelaskan kepada Alice tentang Alex, putra mereka. Tidak mungkin kalau Satria menjelaskan bahwa telah melenyapkan Alex kepada wanita itu.


Di saat Satria mengalami dilema tersendiri, suara Lubis membuatnya menjadi kesal. Sang putra tidak mengenal keadaan dan waktu yang tidak menguntungkan bagi mereka untuk saat ini.


"Ayah, aku lapar."


Victoria bisa mendengar apa yang diucapkan oleh Lubis dan berbalik seraya menatap ke arah bocah itu, ia tersenyum ramah.


"Kamu lapar? Ayo ikut Ibu," ajak Victoria seraya menggandeng tangan Lubis yang nampak hanya diam saja atas perlakukan yang diterima olehnya.


"Ibu! Aku akut," terang Satria yang ditinggal begitu saja oleh sang ibu. Padahal ia adalah anak kandung dari wanita itu, tapi Lubis yang mendapatkan perhatian dari Victoria.


Mereka berjalan beriringan dan menuju ke dapur, rumah keluarga Cooper begitu luas. Banyak orang yang tinngal di sana, beberapa kali Satria berpasan dengan pelayanan.


Satria teringat akan kedatangannya pertama kali di rumah ini, di mana ia hampir menjadi santapan kadal raksasa peliharaan keluarga Cooper.


Rasanya Satria tidak ingin kembali, tapi dunia luar sedang tidak baik untuknya. Tidak akan ada perasaan aman untuknya kalau berada diluar sana.


"Silahkan menikmati hidangannya," pinta Victoria kepada Lubis.


Satria yang sedari tadi tidak fokus dan memikirkan masa lalunya tidak menyadari sama sekali, kalau mereka telah sampai di meja makan.


Teringat akan cara makan Lubis membuat Satria segera mencekal tangan putranya dan memberikan menatap tajam.


Victoria melihat sikap Satria menegur pelan, "Apa yang kamu lakukan, Sat? Biarkan Lubis makan."


Satria membuang nafas panjang dan menjelaskan kepada sang ibu akan cara makan Lubis yang tidak biasa, tapi diluar perkiraan Satria Victoria hanya tersenyum.


Kemudian sang ibu menarik pelan tangan Lubis dan menyuapi putranya dengan telaten, seraya mengajukan beberapa pertanyaan yang membuat mereka tertawa.


Melihat cara Victoria memperlakukan Lubis membuat Satria bernafa lega dan ikut makan bersama keduanya, ada perasaan penasaran yang mengusiknya.

__ADS_1


"Bu, di mana anggota keluarga yang lain?" tanya Satria dengan hati-hati.


Sendok yang berada di tangan Victoria terjatuh seketika, setelah Satria menanyakan hal itu. Cukup lama Victoria bergulat dengan dirinya sendiri, antara memberitahukan kebenarannya satu tidak.


"Bu," panggil Satria lagi.


"Semua orang dalam keadaan genting," ucap Victoria pelan. Kemudian menceritakan bencana apa yang sedang terjadi.


Keluarga Cooper merupakan petugas yang menjaga kedamaian, para anggotanya memiliki kekuatan dan kemampuan khusus lainnya.


Setiap ada kerusuhan atau masalah yang harus melibatkan mereka, maka semua anggota keluarga beserta prajurit akan turun kemedan perang.


Satria mencoba memahami apa yang sang ibu coba sampaikan, ia teringat akan lenyapnya Alex yang mengakibatkan terbukanya beberapa porta.


Bahkan Put yang telah berada di dalam bawa bisa naik ke atas permukaan, menyadari akan ada yang tidak beres. Satria mempertegas cerita Victoria.


"Apakah para mahkluk terlepas ke dunia nyata?" tanya Satria dengan sorot mata serius. Hal itu paling ditakuti olehnya, makluk metalogi yang memiliki kekuatan luar biasa dan mampu memakan apapun yang mereka temui amatlah berbahaya.


Bahkan, kemampuan keluarga Cooper untuk menghadapi semua mahkluk metalogi itu pun sulit bisa di menangkan dengan mudah.


Apa yang Satria takutkan harus terjadi, ia segera bergegas mencari keberadaan Antonius. Namun niatnya di cegat oleh sang ibu yang menghadang langklahnya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Victoria penuh akan kecurigaan.


"Aku harus mencari Antonius atau Antonio untuk membantu mereka," jelas Satria yang harus menemui ayah dan paman Alice itu.


Victoria menggelengkan kepalanya pelan, raut wajah wanita itu berubah dratis. Kemudian menarik pelan tangan Satria untuk menuju ke luar dari sana.


Tentu saja Satria merasa heran dan bertanya-tanya akan sikap sang ibu yang tidak seperti biasanya. Namun ia urungkan seraya terus mengikuti langkah Victoria sampai di depan pintu yang masih tertutup rapat.


"Masuklah," pinta Victoria yang membukakan pintu dan membuat Satria langung masuk. Kemudian sang ibu menutupnya kembali, meninggalkan Satria di dalam sana.


Keadaan ruangan itu bgitu minim cahaya, entah apa maksud rasi sang ibu menyuruhnya untuk berada di sini. Karena, rasa penasaran Satria terus masuk lebih dalam.


Samar-samar ia mendengar suara seseorang yang sedang merintih ke sakitan, sampai Satria bisa melihat dari kejauhan ada sebuah ranjang besar berada di tenga-tengah ruangan tersebut.

__ADS_1


Perlahan Satria mendekati ranjang tersebut, walaupun ia belum pasti siapa yang ada di sana. Setidaknya Satria berfikiran positif, tidak mungkin ada penjahat bisa masuk ke rumah keluarga Cooper.


"Uhukkk ... siapa di sana?" Terdengar suara orang terbatuk dan bertanya menambah perasaan penasaran untuk Satria.


Semakin ia mendekat, maka semakin nampak jelas. Tiba-tiba jantung Satria ingin meloncat keluar dari tempatnya, ketika mendapati seseorang yang ia cari tengah terbaring lemah di ranjang tersebut.


"Antonius," gumamnya pelan.


"Siapa kau?" tanya Antonius dengan lemah.


Ternyata lelaki yang tidak berdaya itu adalah ayah Alice, Satria benar-benar tidak menyangka akan hal ini.


Satria segera meraih tangan Antonius yang terlihat kurus dan begitu lemah, entah apa yang sudah terjadi. Banyak hal yang dirinya lewati begitu saja, membuat perasaan Satria menyesal.


"Aku Satria, Yah," jelas Satria kemudian.


Nampak pancaran kebahagian dari wajah Antonius yang telah mengeriput itu, ia ingin menyentuh wajah Satria yang amat begitu dekat dengannya.


"Kemari, Nak," pintanya. Satria pun segera mendekatkan dirinya kepada Antonius, ia merasa begitu terpukul dengan keadaan lelaki yang seharusnya menjadi ayah mertuanya itu.


"Alice! Satria, Alice pergi berperang, Ayah tidak bisa menghalanginya," jelas Antonius dengan raut wajah sedih mengingat tentang sang putri.


Satria berusaha untuk tetap tenang, ia yakin sekali bahwa Antonius pasti mengira dirinya masih menjadi seorang Dewa dan ingin meminta bantuan.


Namun sayang, untuk saat ini Satria harus menyemunyikan jati dirinya dari orang-orang terdekat. Setidaknya jangan ada satu orang pun yang mengetahui kalau dirinya telah menjadi Manusia biasa.


Tanpa memiliki kekuatan Dewa, Satria bukan apa-apa dan siapa-siapa. Hanya menjadi seorang pecundang dan pantas untuk ditendang.


"Ayah kenapa sampai bisa seperti ini?" tanya Satria mengalihkan pembicaraan.


Antonius menatap ke arah Satia dalam diam, air mata lelaki itu mengalir begitu saja membasahi pipinya yang telah mengeriput akibat terlalu banyak mengeluarkan energi demi melindungi dunia.


Para makluk Metologi serta Hunter yang berjatuhan seperti hujan membuatnya kuawalahn dan mendesak energi rahasaia itu keluar. Al-hasil, Antonius harus mederita seperti ini.


Terbaring lemah tidak berdaya dengan keadaan tubuh yang semakin menciut, seraya menunggu ajalnya tiba. Namun, kedatangan Satria membuatnya memiliki sebuah harapan yang hampir saja menghilang.

__ADS_1


"Izinkan Ayah meminta sesuatu padamu, lalu ... kau boleh mengambil apapun," jelas Antonius.


__ADS_2