
Chapter 1: Permintaan
"Menikah?" Aku begitu terkejut dengan apa yang baru saja adik iparku ucapkan, sampai nampan yang kudekap terjatuh.
Ah, tidak mungkin kalau adik iparku itu akan menikah. Sebab, dia tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun selama ini. Tapi, kalau itu benar adanya. Bagaimana dengan nasibku dan Kejora nanti?
"Mbak," panggil Andre.
Tidak bisa dipungkiri, setelah Mas Rudy pergi. Hanya adik iparku itu yang mengurus dan memenuhi segala keperluan kami selama ini.
"Siapa wanita itu, Dek. Izinkan Mbak bertemu dengannya," ucapku dengan sorot mata penasaran sekaligus takut.
"Namanya Amera," jawabnya dengan kepala yang menunduk seperti biasanya.
Andre begitu taat dan patuh pada ajaran agama, di mana menundukkan pandangan merupakan suatu kewajiban bagi pemuda itu.
"Ko, namanya sama dengan Mbak ya?" Aku agak terkesima dengan nama yang dia ucapkan.
Hening seketika, seolah adik iparku itu tidak ingin memberitahuku. Rasa penasaran yang telah naik ke ubun-ubun ini tidak bisa dibendung lagi.
"Dek, Mbak hanya ingin bertemu dengan calon istrimu itu. Mbak berjanji, tidak akan mengungkapkan semua keburukanmu padanya." Aku berusaha memancing pemuda itu.
"Apa itu perlu, Mbak?"
"Kebiasaan!" geramku, dia malahan berbalik bertanya.
Namun, kali ini berbeda. Biasanya Andre akan tertawa setelah membuatku kesal, sampai terdengar helaan nafas panjang.
Apa yang terjadi? Kenapa dia nampak begitu serius saat ini. Aku menjadi semakin gusar di buatnya, dengan segala persangka yang akan terjadi.
"Mbak, apa kamu masih belum mengerti?"
Aku menggelengkan kepala menjawab pertanyaan tersebut.
"Selama Mas Rudy masih ada, aku selalu memperhatikan Mbak. Hingga Mas pergi sekalipun, aku tidak berubah sama sekali. Apa selama ini kulakukan, tidak bisa Mbak rasakan?"
Terlihat dengan jelas ada sebuah guratan kekecewaan di wajah adik iparku itu, aku masih menyangkal hati ini. Bahwa memiliki perasaan lebih terhadapnya. Tidak, hal ini tidak boleh terjadi.
"Mbak berterimakasih banyak atas segala pengorbanan dan segala bentuk perhatian yang kamu berikan. Jika Kejora sudah besar dan bisa Mbak tinggal? Maka ... Mbak akan bekerja dan berusaha membalas segala kebaikanmu."
Aku berharap dengan penjelasanku tersebut, sedikit membuatnya tahu. Kalau aku begitu menghargai segala pengorbanannya selama Mas Rudy tiada.
"Bukan begitu, Mbak! Apa Mbak masih belum mengerti?"
Dia mendesah berat dan membuatku semakin bingung, sampai suara Kejora menangis membuatku segera beranjak. Ternyata putriku terbangun, tapi ada hal yang aneh.
"Kamu kenapa, Sayang?" Aku segera meraih tubuh balitaku.
__ADS_1
Astaga! Aku begitu panik, sontak saja berteriak memanggil Andre.
"Dek! Dek! Kejora!"
Andre yang masih berada di ruang tamu segera berlari menghampiriku, terlihat dia juga begitu panik setelah mendengar teriakanku.
Pintu yang sengaja kubuka membuatnya dengan leluasa masuk dan segera meraih tubuh Kejora dari gendonganku.
"Kejora kenapa, Mbak?"
"Mbak gak tau, Dek. Tiba-tiba badannya panas," jelasku.
Aku memperhatikan Andre yang begitu cekatan membuka baju Kejora, adik iparku itu sempurna dan luar biasa.
"Mbak belum mandikan Kejora pagi ini?"
Aku hanya cengengesan dan menggeleng pelan.
"Pantesan!" Setelah mengatakan hal itu, Andre membawa Kejora ke kamar mandi.
Aku mengutuk diri ini yang begitu tidak bisa apa-apa, selama hamil dan melahirkan Kejora. Aku hanya merepotkan Andre.
"Dek, maaf," kataku dengan lirih.
Aku memang tidak berguna, anak sendiri saja tidak bisa kuurus dengan baik.
Jangankan mengurus anak, mengurus rumah saja aku masih belum begitu piawai. Pantas saja kalau ibu mertuaku begitu benci kepadaku.
Aku tidak bisa menahan cairan bening yang sedari tadi ingin terjatuh, apa yang diucapkan oleh Andre begitu membuat hati ini lemah. 'Anakku' kata itu tersemat kepada Kejora. Andaikan Mas Rudy masih berada di tengah kami.
Apa yang aku pikirkan? Segera kubuang pikiran yang tidak seharusnya ada, Mas Rudy telah pergi dan tidak mungkin bisa kembali.
Setelah memandikan Kejora dan memasangkan pakaian baru, Andre kembali mengajakku berbicara seraya duduk ditepi ranjang dengan Kejora yang di berada dalam box bayi.
"Mbak, aku ingin menikah."
Kalimat itu lagi yang kudengar.
"Mbak akan merestuimu, Dek. Semoga kamu bahagia dengan wanita pilihanmu," ucapku berusaha tegar.
Sudah dipastikan, kalau aku akan begitu merasa kehilangan. Andre selalu datang ke sini setiap weekend dan membantuku mengurus Kejora.
Bukan hanya itu, Andre bahkan menyewa ART dan baby sister hanya demi memastikan kehidupan kami berdua baik-baik saja.
"Jadi, Mbak menerimaku?"
Eh, apa yang dia ucapkan tadi? Aku menjadi bingung sendiri, segera kupalingkan wajah ini yang tiba-tiba saja terasa memanas.
__ADS_1
"Maaf, Dek. Mbak harus ke dapur," ucapku ingin menghindar.
Namun, tanganku di cegat oleh pemuda itu. Aku sedikit tersentak, tidak biasanya dia seperti ini.
"Dek," panggilku dengan lirih dan menarik tanganku kembali.
"Maaf."
"Gak pa-pa, Mbak cuma takut timbul fitnah," jelasku merasa tidak nyaman.
Walaupun pintu kamar di buka lebar dan ada ART serta baby sister di rumah ini. Tapi, berdua dengan pemuda yang begitu tampan dan bukan mahramku tetap tidak baik.
"Kalau begitu, izinkan aku menghalalkan, Mbak."
"Apa?"
Ah tidak! Aku mungkin salah dengar. Tapi, kenapa dengan dada ini? Semakin aku mengelak, hati ini semakin meronta.
"Izinkan aku menghalalkan, Mbak." Andre mengulangi ucapannya.
"Berhentilah membuat Mbak bisa serangan jantung, Dek. Emang kamu tidak kasihan dengan Kejora? Jangan sampai dia kehilangan satu orang tuanya lagi."
Sengaja aku mengatakan hal itu, Andre begitu perhatian dengan Kejora dan tentu saja tidak ingin membuat balitaku sampai kenapa-kenapa.
"Aku akan melengkapi hidup Kejora, Mbak. Izinkan aku menghalalkan, Mbak Amera." Kali ini Andre berkata dengan raut wajah serius dan menatapku lekat.
Pesona adik iparku itu tidak bisa kupungkiri, bagaimana hati ini tidak meleleh. Setiap tutur katanya yang manis dan sopan, sikapnya yang perhatian serta rela berkorban.
Bahkan, mau menemaniku di saat melahirkan Kejora. Padahal hal itu merupakan kewajiban Mas Rudy sebagai suamiku.
"Berhenti mengucapkan kata yang membuatku merasa lebih, Dek. Mbak gak pantas untukmu. Kamu begitu sempurna. Diluar sana masih banyak gadis baik dan layak untukmu. Berbeda dengan Mbak yang hanya seorang janda dengan anak satu."
Aku tidak bisa menahan sesak di dada ini, aku sadar diri. Andre begitu sempurna, dia bagaikan permata yang indah. Sedangkan aku hanya kerikil di pinggir jalan.
"Mbak, aku menyayangimu. Sama seperti Mas Rudy."
"Tidak! Kamu tidak sama dengan kakakmu!" Aku berteriak dengan kencang, menolak semua yang tengah terjadi.
"Baiklah, aku gak akan memaksa Mbak." Setelah mengatakan hal itu, Andre melangkah pergi dan berpamitan padaku.
Aku pun mengikutinya hingga ke depan pintu dan menatap kepergian adik iparku itu.
Namun, tidak lama setelah kepergian mobil Andre. Datang sebuah mobil yang begitu familiar bagiku.
"Dia?" gumamku gusar.
"Dasar wanita murahan! Tidak cukup kamu mengambil Rudy dariku? Sekarang Andre juga mau kamu emban? Pelet apa yang kamu gunakan, hah!"
__ADS_1
Baru saja wanita itu keluar dari mobil, tiba-tiba saja terus mencerca dan memakiku. Belum sempat aku berbicara, dia sudah melayangkan telapak tangannya ke pipiku dan rasanya begitu panas serta perih. Kenapa dia marah dan menampar wajahku, apa salahku sebenarnya?
"Rasakan! Wanita murahan! Kamu pantas mendapatkannya!"