
"Blue!" pekik Put yang berhasil menemukan Satria dan kedua orang lain yang berada di dekat lelaki itu.
Bukan hanya pendengarannya yang tajam, meliankan pengciuman kaum Blogger juga sangat baik dan tajam.
Dengan mudanya, Put menemukan Satria. Namun, wajah Blogger itu berubah suram dan menatap penuh amarah kearah Satria.
"Kamu selingkuh!"
"Apa!" bantin Satria berteriak.
Dia tidak menyangka, jika Put bisa mengatakan hal itu. Ye tetapi, tidak ada waktu lagi. Untuk memikirkannya, sekarang Satria harus segera lepas dari cengkeraman Jennifer dan Antonio.
Namun, masalahnya. Satria masih terikat dan mulutnya masih disumpal, membuatnya tidak bisa bergerak atau berbicara.
"Eemm." Satria berusaha untuk meminta bantuan kepada Put yang masih saja merajuk, ia hanya khawatir. Jika, Jennifer dan Antonio segera bangun. Maka, dirinya tidak bisa melepaskan diri.
"Kamu jahat, Blue! Aku benci kamu!" kata Put dengan serius dan mata yang sungguh-sungguh. Blogger itu kesal, karena Satria meninggalkan dan pergi dalam waktu yang sangat lama.
"Put! Dengan siapa kamu berbicara?"
Terdengar suara Sis yang bertanya dan mendekati Put, sedari tadi. Dia memperhatikan apa yang dilakukan oleh putrinya itu dan menjadi penasaran.
"Bukan apa-apa, Bu!" balas Put dengan cepat.
Namun, sang ibu tidak percaya dengan mudah dan masih melangkah maju. Hingga, dia melihat Satria bersama dua orang lainnya.
"Satria!" pekiknya dan segera membantu lelaki itu. Sedangkan Put hanya diam dan menatap dengan sorot mata jijik, dia masih menyimpan perasaan kesal kepada Satria.
"Terimakasih, Bu Sis," kata Satria dengan tulus. Setelah Blogger itu melepaskan, lalu ia menatap ke arah Antonio dan Jennifer. Dia bingung, apa yang harus dilakukan kepada kedua orang itu.
Namun, jika ia membiarkan mereka masih disini. Maka, hal itu sangat berbahaya. Terlebih, ia masih ingin menyelidiki tujuan kedua orang tersebut.
Hingga, Satria memohon kepada Sis untuk membantunya dan membawa mereka bersama Blogger tersebut.
"Apa yang kamu katakan!" pekik Put yang tidak terima akan permintaan Satria tersebut.
"Aku memohon Sis, Put. Mereka berdua bisa mati terbunuh. Jika, di biarkan di sini begitu saja," jelas Satria masih memohon.
Sis menjadi bingung, terlebih pada sikap Put yang tidak bersahabat. Tetapi, apa yang dikatakan oleh Satria benar adanya. Jika, mereka pergi dan meninggalkan kedua orang tersebut. Mereka akan mati.
__ADS_1
Setelah, menimbang-nimbang. Sis memutuskan untuk membantu Satria, dan membiarkan Put dengan wajah masamnya yang merajut.
"Ayo naik ke tas milikku," pinta Sis dan membantu mengangkat tubuh Jennifer dan Antonio. Memasukan kedua Manusia itu ke dalam tas besar, tempatnya sering membawa barang. Disusul dengan Satria, yang diletakan di atas bahunya.
Mereka mulai berjalan dan berbagi cerita, Put yang masih merajuk tidak mau berbicara sama sekali. Hingga, mereka sampai di sebuah tempat yang asing untuk Satria.
"Kita di mana, sekarang?" tanyanya pelan dan membuat Sis tersenyum.
"Air mata Dewa," jawab Sis.
"Sat, bisa kau lihat keadaan teman-temanmu," tambah Sis lagi.
Satria segera menjalankan, apa yang diminta oleh Blogger tersebut. Ternyata, Jennifer dan Antonio sudah sadar sedari tadi. Mereka mendengar dengan baik, apa yang dibicarakan oleh Satria dengan Sis.
Setra, mengingat-ingat jalan yang telah mereka lewati. Ketika, Satria telah meluncurkan dirinya kedalam tas yang berada di punggung Sis.
Kedua orang itu, pura-pura pingsan. Agar, Satria tidak merasa curiga kepada mereka. Namun, Satria sudah mengetahui hal tersebut dan menendang tubuh Antonio.
Bruk
"Bangun!" teriak Satria.
"Uh ... bisakah, kamu bersikap baik?" tanya Antonio dengan nada penuh kekesalan.
"Kalian bisa turun," pinta Sis dan meletakkan tas miliknya di atas tanah.
Satri segera melompat keluar dari tas tersebut dan disusul oleh Antonio dan Jennifer. Mata mereka langsung di sambut dengan pemandangan yang sangat indah dan memanjakan.
Bahkan, Jennifer yang baru pertama kalinya ke tempat tersebut. Setelah, sekian lama menjelajah dunia Albiru di buat sangat takjub dan tanpa sadar bergumam pelan.
"Tempat apa ini?"
Sis yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jennifer, menjelaskan tempat yang mereka datangi tersebut.
Dimana, tempat itu merupakan mata air untuk para Dewa. Disinilah, para Dewa melakukan ritual khusus dan para mahkluk yang berada di dunia Albiru bisa bertemu dengan Dewa ketua.
Satria yang ikut mendengarkan, apa yang dikatakan oleh Sis menjadi penasaran. Bagaimana, bentuk dan rupa dari Dewa Ketua tersebut. Bahkan, Dewi Haruna saja tunduk kepadanya.
"Ibu! Kenapa, memberitahu kan hal itu! Mereka tidak pantas!" teriak Put dengan marah.
__ADS_1
Jennifer yang masih belum mengetahui, bagaimana bisa bertemu dengan para Blogger tersebut di tambah Satria yang terlihat sangat akrab. Memiliki sebuah ide dan menjelaskan siapa dirinya.
"Apakah, keluarga Cooper juga tidak boleh mengetahui tempat ini?" tanya Jennifer dengan nada dingin.
Antonio yang mendengar apa yang dikatakan oleh Jennifer hanya bisa menggelengkan kepalanya, berharap wanita itu tidak mengatakan hal yang lebih jauh.
"Keluarga Cooper sekali pun! Karena, mereka hanya sekumpulan orang yang suka memburu! Bahkan, tidak memiliki perasaan sama sekali!" kata Put dengan emosi yang meluap-luap.
Sis mencoba mendapatkan putrinya, lalu meminta Satria untuk segera meminum air di sana. Setelah itu, mereka akan pergi.
Bukan hanya Satria yang meminum air di sana, Jennifer dan Antonio juga. Namun, terjadi keanehan pada tubuh kedua orang tersebut.
Tiba-tiba saja, tubuh mereka membesar seperti raksasa. Bahkan, sama besarnya dengan Blogger. Membuat kedua orang itu menjadi heran.
"Apa yang terjadi?" pekik Antonio. Seraya memperhatikan perubahan tubuhnya, sampai menjadi polos. Karena, pakaiannya yang mengecil dan robek begitu saja.
Sedangkan Jennifer, merasa malu dengan keadaan dan segera mengambil dedaunan yang lebar dan panjang. Untuk menutupi bagian tubuhnya yang terekspos begitu saja.
"Kalian memang pantas mendapatkan!" pelik Put dengan senyum mengejek.
"Kalian memiliki niat jahat!" tambah Sis dan segera mengambil tubuh Satria. Lalu, meletakkan lelaki itu di atas bahunya. Kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan Antonio dan Jennifer.
Mereka meninggalkan teriakan dari kedua orang tersebut yang masih bingung dengan keadaan yang terjadi. Ditambah, sibuk mencari sesuatu untuk menutupi tubuh mereka.
Sedangkan, Sis dan Put. Serta Satria telah berjalan semakin menjauh dari tempat tersebut, Satria yang masih bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi.
Akhirnya bertanya, "Bu Sis, kenapa mereka berubah? Sedangkan, aku tidak?"
Sis tersenyum, mendengar pertanyaan itu. Dia pun menjelaskan, jika sengaja ketempat mata air Dewa dan meminta mereka bertiga untuk meminum air di sana.
Untuk mengetahui, isi hati di dalam setiap orang. Dimana, mereka akan berubah sesuai dengan isi hati mereka. Jika, ada kesombongan dan keangkuhan di dalamnya. Maka, akan menjadi raksasa.
Namun, jika di dalam hati ada kerendahan dan sikap santun. Maka, tidak akan terjadi apapun. Satria yang mendengar hal tersebut tersenyum lebar dan mengangguk kecil. Tanda paham, akan apa yang disampaikan oleh Sis.
"Tapi, aku bukan orang yang baik, Bu Sis. Put saja sempai membenciku," terang Satria dengan sorot mata sedih.
Put yang mendengar, penuturan Satria menyeringai.
"Karena kamu jahat! Makanya, aku benci!"
__ADS_1
"Kenapa, kamu berbicara seperti itu?"