Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 111


__ADS_3

Satria mencoba mengobati H, sedangkan Victoria terus saja mengikutinya dan mengatakan beberapa kalimat yang tidak pantas.


Victoria amat kesal dan tidak bisa menerima apa yang Satria lakukan saat ini, tapi tidak bisa juga menghentikannya. Oleh sebab itu Victoria mengomentari kelakukan Satria yang bisa menimbulkan perpecahan di antara mereka.


"Bu, bisa panggilan Ibu Jennifer?" tanya Satria tanpa mengalihkan penglihatannya sama sekali.


Victoria tidak menguubris apa yang Satria katakan, hatinya yang dongkol tidak ingin membantu Satria sama sekali.


Karena tidak mendapatkan jawaban dari Victoria, Satria meminta salah–satu prajurit yang tengah berada didekatnya untuk memanggil Jennifer dan membawakan beberapa ramuan obat.


Victoria tidak tahan dengan apa yang Satria lakukan dan memilih untuk pergi, sebab oercuma saja berbicara dengan putranya yang sudah tidak waras lagi atau kehilangan akalnya.


Tuan, Ibu J sudah berjalan ke sini," jelas prajurit yang satria perintahkan tadi.


"Baiklah," balas Satria dan prajurit itu pun berlalu.


Satria membuang nafasnya panjang, setidaknya telinganya tidak mendengar ocehan Victoria lagi dan tidak berapa lama Jennifer datang dengan memabwakan sebuah nampan.


"Kamu bisa pergi mandi dan mencari makan dulu, biar dia." Jennifer menujuk ke arah H yang terbaring, "Ibu yang jaga," tambahnya.


Satria mengagguk kecil dan pergi sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Jennifer, setidaknya Satria percaya dengan ibunya Alice itu daripada dengan ibunya sendiri.


Apalagi tubuh Satria saat ini dipenuhi oleh beberapa luka dan darah yang mulai mengering, apalagi perutnya juga muilai lapar.


Bertarung tanpa energi, merupakan cara ingin mati yang instan. Tentu saja Satria tidak akan mau mati lebih cepat, sebelum membalaskan dendamnya.


Di area timur rumah keluarga Cooper terdapat danau, Satria baru saja mengetahu hal itu setelah ditunjuki jalan oleh seorang prajurit.


"Siapa namamu?" tanya Satria seraya mulai melepaskan pakaiannya.


Tubuh prajurit itu bergetar hebat, membuat Satria tersenyum. Sebab, terlihat dengan jelas kalau prajurit itu ketakutan.

__ADS_1


"Aku tidak akan membunuhmu," tambah Satria lagi.


"Bukan itu, Tuan. Hamba amat takjub kepada Anda." Satria mengerutkan keningnya, kemudian menatap prajurit yang bisa ia taksir baru berusia 20 tahun.


Hingga Satria meminta prajurit itu untuk menyebutkan namanya, mungkin saja suatu hari Satria akan memerlukan bantuan prajurit tersebut.


"Nama hamba Bob." Tubuh Satria meremang seketika setelah mendengar nama itu disebut, membuat ingatannya tertuju kepada Bob ayahnya Put.


Hingga Satria menaruh curiga, kalau prajurit tersebut merupakan rekarnasi dari Bob. Jika tebakannya benar? Mungkin saja ia bisa membuat prajurit tersebut menjadi bagian dari kaum Blogger.


"Tuan, Anda harus segera mandi." Lamunan Satria buyar seketika, tanpa menunggu lama. Satria memilih terjun ke danau dan segera membersihkan diri, bahkan Satria berhasil menangkap beberapa ikan yang berukuran lumayan.


Setelah selesai mandi, Satria mulai membuat api untuk memasak ikan hasil tangkapannya dan meminta bantuan Bob yang merupakan prajurit keluarga Cooper yang diperintahkan oleh Jennifer untuk selalu berada di dekatnya.


Bob menjelaskan bahwa akan membawa Satria ke kota dan mengamankan beberapa Hunter yang berkeliaran di sana, tentunya setelah Satria sarapan.


Selama kembali ke dunia nyata dengan tubuh Blogger, Satria tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Ditambah Alice belum juga pulang, seakan-akan ingin balas dendam saja.


"Tuan, apakah Anda tidak merasa kalau hal ini terlalu berlebihan?" Satria tergelak dengan apa yang ditanyakan oleh Bob.


"Aku teringat dengan Blogger yang dulu pernah membantuku, terlebih namamu sama dengannya," jelas Satria seraya terus melangkah.


Ditengah perjalanan, iba-tiba saja mereka dihadang oleh Hunter. Tanpa banyak berbicara lagi, Satria langsung melumpuhkan Hunter tersebut.


Namun, ada keanehan yang terjadi. Hunter yang berhasil Satria kalahkan menghilang begitu saja, tubuh Hunter menghilang seperti asab.


Satria pun menanyakan hal tersebut kepada Bob, sebab ada hal yang aneh menurut Satria. Selama ini Hunter akan meninggalkan tubuhnya ketika mati.


"Hamba tidak tahu, Tuan. Selama ini, kami berperang dan ketika berhasil mengalahkan Hunter. Mereka akan seperti tadi." Mendengar penjelasan dari Bob membuat Satria harus mencari tahu tentang hal ini.


Satria meneruskan perjalanannya, selama itu pula menemui Hunter lagi dan lagi. Seakan tidak ada habisnya, membuat Satria mulai kelelahan.

__ADS_1


"Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Bob.


"Aku tidak apa-apa, ayo kita lanjutkan perjalanan ini sampai ke kota," jelas Satria.


Keanehan demi keanehan yang terjadi membuat Satria mengeluarkan energi yang cukup kuat agar mampun menghentikan para Hunter.


Namun, semakin banyak Hunter yang ia berhasil kalahkan. Semakin banyak pula Hunter yang datang, karena ada hal yang memang tidak beres membuat Satria mencari cara lain.


Jika tadi Satria melakukan serang secara fisik, kali ini menggunakan mantra dan benar saja. Hunter tadi berubah menjadi manusia, hal ini membuat Satria amat terkejut begitu pun dengan Bob yang harus menyampaikan informasi ini kepada Jennifer.


"Pantasan tidak pernah habis!" pekik Satria geram dengan muslihat cara Hunter bertarung.


"Evaluis!"


Satria terus menggunakan mantra perubah dan berhasil membuat para Hunter semakin berkurang, sebab berubah menjadi manusia.


Entah bagaimana cara para Hunter melakukan hal ini, tapi cara licik Hunter telah berhasil mengecoh Alice selama ini.


Seberapa kuat pun keluarga Cooper, jika musuhnya seperti ini. Tentap saja akan mengalami kekalahan, sebab energi mereka akan terus berkurang. Sedangkan lawannya tidak.


"Tuan, Hamba harus kembali dan menyampaikan informasi tentang Hunter," jelas Bob meminta izin.


Namun, Satria tidak membiarkan Bob untuk kembali ke rumah Cooper. Sebab, mereka sudah sampai di kota. Satria tidak mengenal area kota dengan baik dan takut tersesal, mendengar penjelasan dari Satria membuat Bob tidak memiliki pilihan lain.


Bob pun memilih untuk memanggil burung pengantar informasi, setelah menulis informasi yang didapat. Bob meletakan gulungan kertas tersebut ke kaki burung miliknya.


Satria melihat cara Bob merasa keanehan, padahal Bob tinggal di dunia nyata yang memiliki teknologi yang memadai. Sebab, ada telepon dan listrt. Namun, kenapa menggunakan burung pengantar pesan?


Cara paling kuno yang orang dulu gunakan untuk mengirim pesan, namun Satria memilih diam dan mengamati seraya mengumpulkan apa saja yang bisa ia sambungkan dengan keadaan yang terjadi.


"Kenapa sepi?" tanya Satria ketika telah sampai dan melihat keadan kota yang begitu sepi, kecuali keadaan sekitar yang memang nampak porak-poranda.

__ADS_1


"Semua orang telah pergi mengungsi ke negara lain, Tuan," jelas Bob menambah rasa penasaran Satria tentang apa yang telah terjadi dan berlangsung saat ini.


Semuanya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, Satria akan menyelesaikan keadaan ini dan memulihkan dunia nyata seperti sediakala.


__ADS_2