
"Izinkan aku masuk, jangan tendang ke dunia lagi," pinta Satria dengan penuh hasrat.
"Bukan aku yang melakukan hal itu," balas Haruna pelan.
Satria mengehntikan aktifitasnya setelah mendengar pengakuan dari Haruna tersebut, di dalam benaknya bertantya-tanya. Siapa yang menendangnya ke dunia nyata dan berada di kastil Profesor Ruden.
Karena Satria yang hanya diam membuat Haruna menjadi gelisah, perasaannya tidak enak karena menunggu Satria.
"Dewa S," panggilnya dengan lembut.
Perasaan yang tadinya melayang kini lenyap seketika, Satria menghempaskan rasa yang baru saja bergelora ke dasar dunia.
"Siapa yang menendangku waktu itu?" Satria mengabaikan seruan Haruna, dia akhinya bertanya tentang hal yang harus diketahui olehnya.
Bukan perkara yang enak, di saat sedang menikmati surga dunia harus di lemar ke dunia nyata dan tidak bisa kembali mengulangi kenikmatan itu.
Haruna membuang muka, wajahnya telah memerah padam karena malu dan juga marah. Kenapa Satria menanyakan sesuatu yang telah laam berlalu? Pikirnya, sedangkana ada hal yang lebih penting daripada kisah yang telah basi.
"Haruna," panggil Satria dengan mengusap pipi Haruna lembut.
Setiap setuhan yang Satria lakukan bagaikan magnet yang tidak bisa wanita itu tolak, suaranya mendesah pasrah. Haruna tidak pernah melakukan hal ini dengan siapapun selama hidupmnya, kecuali dengan Satria.
"Ayolah, katakan siapa yang melakukan hal itu?"
Satria memujuk Haruna yang telah berada di kukungannya, terlalu mudah bagi Satria untuk mengendalikan wanita itu dengan cara seperti ini.
Tentu saja Haruna tidak akan menolak apapun yang dia lakukan, sampai tidak sengaja sebuah energi terlepas begitu saja.
Cahaya tamara dengan kejinggan melebar dan memnuhi seisi ruangan tersebut, Satria yang dengan cepat merasakan pergesekan energi segera bangun dari atas tubuh Haruna.
Dia mengendus ada sesuatu yang aneh, sampai sebuah sosok yang tidak ingin ditemunya lagi muncul seketika.
Wajah wanita yang begitu muram sedang menatap ke arahnya begitu tajam, seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Dewa S," panggil Haruna yang tidak mengetahui apapun. Dia merasa Satria akan meninggalkannya dalam keadaan ini, tentu saja dia tidak ingin hal itu sampai terjadi.
__ADS_1
Namun, ketika bola mata Haruna melihat sosok yang Satria lihat. Air mukanya berubah dratis, seakan ada awan gelap yang menyelimuti wanita cantik itu.
"Apa yang kau inginkan, hah?" teriak Haruna dengan suara ketidak-sukaan.
Satria sampai di buat kaget dengan suara Haruna yang memekik tersebut, walaupun pertanyaan itu juga yang sedari tadi ingin dia utaranya.
Keadaan ruangan yang memang tamara, disebabkan oleh hari yang telah gelap dan hanya ada beberapa cahaya yang terdapat dari lampu yang menempel di beberapa dinding dengan pencahayaan yang redup.
Namun, mereka masih bisa melihat dengan begitu jelas sosok yang tidak diinginkan itu. Bahkan dengan beraninya sosok itu semakin mendekat dan tertawa dengan aneh.
"Hahahaha ... kalian memang pasangan yang sangat serasi," ucapnya.
Satria merasa geram, begitu pun dengan Haruna. Tangan keduanya mengepal erat, menatap sosok yang entah datang dari mana itu.
"Berhenti menjadi seorang Hantu Put! Kau pikir bisa menakuti kami?" tanya Satria yang sudah tidak tahan lagi.
Sosok yang begitu mirip dengan Put itu malahan semakin tertawa lepas, seakan tidak ada beban sama sekali.
Menjadi seorang Roh sekalipun, Put tidak banyak berubah. Masih saja menjadi sosok yang begitu menyebalkan di mata Satria.
Memang perubahan dan demenisi yang terjadi pada Put merupakan mutasi dunia yang tidak fana, di mana Roh merupakan rekanasi yang paling terakhir sepertinya untuk segala makhluk.
"Dulu, aku begitu menginginkanmu Dewa S. Tapi ... aku berkhianat dan pergi dariku. Padahal, aku yang membela dan memberimu wadah serta kehidupan. Memang mahkluk yang tidak tahu berterimakasih!"
Put meluapkan segala perasaan yang ada di dalam dadanya, dia tidak akan menyimpannya lagi. Apalagi telah menjadi mahkluk yang transparan membuatnya tidak ingin merasakan rasa sakit lagi.
Zing yang dirasakan oleh Put tidak dengan Satria merupakan sebuah kesalahan yang harus dihapuskan dari dalam rongga dadanya, jika dirinya tidak bisa mendapatkan Satria. Maka dia tidak akan membiarkan siapapun mendapatkan lelaki itu.
Sat
Set
Put menyerang Haruna, tapi semua serangan yang dilakukannya tidak berarti apapun kepada Haruna. Senyum manis terbingkai dengan begitu indah di wajah Haruna, dia turun perlahan dari ranjang dan mendekati Put dengan santai.
Tenang dan menghanyutkan, itulah ciri khas dari seorang Dewi Haruna. Dia telah lama hidup dan di tempa oleh Dewa Ketua secara langsung untuk menjadi penjaga dunia.
__ADS_1
Tentu saja kekuatan yang dimiliki olehnya buka hanya isapan jempol semata, untuk mahkluk sejenis Put bukanlah tandingan untuknya.
"Setelah menjadi mahkluk yang paling rendahan sekalipun, kamu tidak pernah bisa mendapatkan apa yang diinginkan. Pantas saja menjadi Roh yang penasaran dan tidak bisa kembali ke alam Nirwana."
Setiap kata yang diucapkan oleh Haruna penuh akan sendiran dan hinaan yang begitu menyakitkan untuk Put, tapi Haruna memang pantas untuk berkata demikian.
Sombongnya seorang Dewi masih wajar, daripada sombongnya seorang Roh yang tidak bisa pulang sebelum dendamnya terbalaskan.
"Kalau begitu, ikutlah aku ke alam baka!" teriak Put dan kembali menyerang Haruna, kali ini adalah serang langsung.
Kalau ilmu sihir dan mantra tidak bisa menembus Haruna, maka serangan langsung pasti bisa melumpuhkan Dewi tersebut. Pikir Put.
Pertarungan pun tidak bisa di hindari lagi, kekuatan yang dimiliki oleh Put dan Haruna seimbang. Deru nafas keduanya saling memburu, terlebih serangan demi serangan terus mereka lakukan.
Gerakan tangan dan kaki Put begitu lincah, dia adalah guru terbaik untuk Satria dalam ilmu bela diri dan setiap gerakannya tidak mudah untuk diprediksi.
Sat
Set
"Aku tidak akan melepaskanmu!" teriak Put yang sudah bisa memojokkan Haruna.
Tubuh Haruna terduduk di lantai dengan beberapa luka dan lebab di wajahnya, terkena pukulan dari Put. Sekalipun menjadi Roh, Put masih bisa menjangkau Haruna.
Haruna sempat berpikir, kalau serangan Put akan meleset. Karena tubuh transparan wanita itu, namun kenyataannya tidak.
Haruna tidak siap untuk menerima setiap serangan yang di lakukan oleh Put, dia menatap ke arah Satria yang masih berdiri mematung melihat pertarungan mereka.
"Dasar lelaki sialan!" batin Haruna kesal melihat Satria yang hanya diam tanpa niat untuk membantunya yang telah terpojok seperti saat ini.
"Hahaha, kau harus bisa mengakui kekalahanmu Haruna. Aku terlalu kuat untuk dikalahkan oleh Dewi sepertimu." Put yang merasa di atas awan dengan keadaan Haruna mendekat dengan perlahan.
Dia yakin sekali, bahwa bisa membawa Haruna ke alam Baka bersama dengannya. Membayangkan tubuh Haruna yang akan disiksa oleh para Dewa dan penjaga alam Baka membuat Put semakin bersemangat.
"Akhirinya ... ."
__ADS_1