Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 87


__ADS_3

"Izinkan Ayah meminta sesuatu padamu, lalu ... kau boleh mengambil apapun," jelas Antonius.


Satria bungkam seribu bahasa, apa yang bisa ia lakukan saat ini? Tapi, Satria masih saja bersandiwara. Berlagak seperti Dewa, padahal tidak.


"Tentu saja, Yah. Katakan, apa yang Ayah inginkan?" tanya Satria dengan raut wajah yang begitu meyakinkan.


Antonius pun menjelaskan apa yang ia inginkan, hanya satu yang dipinta oleh lelaki itu. Antonius ingin Alice menjadi seroang Dewi terkuat agar bisa melindungi dunia.


Satria hanya bisa menelan silvernya kasar, hal yang mustahil untuk ia lakukan dalam keadaan seperti ini. Tapi, ia tidak memiliki pilihan lain. Kecuali berpura-pura.


"Baiklah, aku akan kabulan permintaan Ayah. Tapi, aku meminta Ayah agar tetap di sini. Sedangkan aku akan kembali lagi nanti, sampai kemenangan berhasil kita raih," jelas Satria seraya beranjak meninggalkan Antonius yang tersenyum bahagia.


Satria pun meninggalkan lelaki itu, baru saja dirinya menutup pintu. Victoria membuatnya kaget, ternyata sang ibu belum beranjak sama sekali.


"Satria," panggil Victoria.


"Ibu!" pekik Satria.


Victoria membawa Satria menuju ke kamarnya, dia ingin mengetahui apa yang putranya itu bicarakan dengan Antonius.


Satria yang merasa melupakan sesuatu memekik kemudian dan berlari meninggalkan sang ibu, Satria melupakan Lubis.


Ketika Satria berhasil kembali ke ruangan makanan, ia mencari keberadaan Lubis. Keadaan di sana telah sepi dan rapi membuatnya menjadi gusar.


"Ada apa, Sat?" tanya Victoria dengan nafas tersengal-sengal karena mengejar Satria.


"Lubis!" pekik Satria panik seraya mencari keberadaan putranya itu. Dia tidak ingin sampai Lubis melahap semua orang yang berada di rumah ini.


Bisa saja Lubis kembali merasa lapar dan mencari gudapan yang merupakan penghuni rumah, tentu saja hal itu tidak ingin sampai terjadi.


Satria terus memanggil nama putranya dan mencari kesegala arah, namun hasilnya nihil. Ia belum juga menemukan Lubis.


"Ke mana kamu, Nak?" teriak Satria yang sudah frustrasi sampai terdengar suara seseorang yang begitu familiar mengusik telinganya.


"Satria."

__ADS_1


Tubuh Satria seegra berbalik dan mematung ditempat dikala melihat sosok wanita cantik dengan mata cokelat telah berada di hadapannya.


Menempel baju perisai ala-ala kerajaan di lengkapi dengan pedang yang berada di samping wanita itu, di tambah rambut yang acak-acakan karena terus dipaska berlari tanpa henti.


"Alice," gumam Satria terpana akan penampilan wnaita yang hampir saja dinikahinya itu.


"Bubu, tolong ke bawah dan bawa seorang bocah laki-laki yang telah membuat onar!" perintah Alice kepada Victoria dan mendekati Satria.


Perasaan Alice memuncah seketika, setelah kejadian waktu itu. Dirinya amat merindukan Satria, ia bahkan tidak perduli dengan keadaannya sekrang yang begitu nampak berantakan.


Sampai Alice berhasil memeluk Satria tangisnya pecah seketika, dalam dekapan yang begitu ia rindukan. Wanita itu menumpahkan semua perasaannya.


"Kenapa kamu pergi begitu saja Dewa S? Aku beritu merindukanmu, aku bahkan ... ." Alice tidak mampu meneruskan ucapannya, ia merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan Satria.


Namun, terbanding terbalik dengan Satria yang menjadi segan dan ingin seegra menghindari Alice. Satria merasa bersalah dan takut Alice akan marah besar karena dirinya telah melenyapkan Alex.


Seraya mengurai pelukan mereka, Satria memilih mengambil jarak dari Alice dan menayakan siapa yang telah membuat onar.


"Alice, siapa anak laki-laki yang membuat onar? Sebab, aku ke sini brsama dengan seorang anak laki-laki," jelas Satria.


Perasan Satria semakin gusar, apalagi saat ini ada hal yang lebih penting untuk ia urus. Dengan perlahan ia melepaskan tangan Alice dan mejelaskan bahwa dirinya harus segera pergi.


"Tidurlah denganku malam ini, aku berjanji .. akan melayanimu dengan baik."


Langkah Satria berhenti seketika setelah mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Alice, melewati malam panjang dan indah bersama dengan Alice.


Apakah Satria mampu melewatkan kesempatan itu? Apalagi Alice yang tidak menyinggung tentang Alex membuat Satria besar kepala.


"Baiklah, tapi ... aku harus menyusul Ibu dulu dan memastikan anak yang kamu maksud tadi," jelas Satria dan melanjutkan langkahnya meninggalkan Alice seorang diri.


Satria berjalan menyusuri lorong dan bertanya kepada pelayanan yang ia temui seraya menanyakan keberadan Victoria.


Ternyata sang ibu membawa seorang anak laki-laki bernama Lubis ke kamarnya, itu terang sang pelayanan. Membuat Satria memeprcepat langkahnya menuju kamar Victoira.


Setibanya di depan pintu, Satria langung mendorong daun pintu dengan begitu keras dan menimbulkan suara yang begitu nyaring dan membuat orang yang berada di dalam kamar itu terlonjak kaget.

__ADS_1


"Satria!" teriak Victoria yang tengah memasangkan Lubis baju.


Mata Satria membulat sempurna, satu hal yang paling dirinya takutkan saat ini adalah Lubis. Dia tidak ingin putranya berubah menjadi siluman ular di rumah keluarga Cooper.


"Apa yang Ibu lakukan kepada Lubis?" tanya Satria mulai panik.


Namun tidak dengan Victoria, walaupun awalnya ia terkejut dengan kedatangan Satria dengan cara menerobos masuk begitu saja.


Dengan santainya Victoria merapikan baju Lubis dan menyisir rambut bocah itu, kemudian menyuruhnya untuk naik ke atas ranjang.


"Tudur ya L, besok Ibu akan membuatkan kamu sarapan yang enak," pinta Victoria dengan penuh perhatianseraya mengecup kening Lubis sayang dan menarik Satria keluar dari sana.


Mereka mingglakan Lubis yang harus beristirahat, setelah membuat keonaran menurut Alice. Ternyata Lubis memang keaparan dan menangkap tikus yang berhasil ditangkap.


Para pelayanan yang melihat tingkah Lubis menjadi ketakutan, terlebih bocah itu melahap tikus itu seraya berjalan menyelusuri lorong.


"Ibu tidak tahu apa yang sudah terjadi padamu selama ini! Tapi ... jelaskan siapa Lubis?" tanya Victoria dengan penuh kecurigaan setelah berada di luar.


Satria hanya bisa membuang nafas panjang dan mengajak sang ibu untuk membicarakan tentang Lubis di tempat lain.


Victoria setuju dan membawa Satria menuju ke ruang rahasia yang berada tidak jauh dari kamarnya, di sini lah mereka. Sedang duduk saling berhadapan.


"Cepat, katakan!" desak Victoria tidak sabaran dengan tatapan tajam yang menghunus ke arah Satria.


"Lubis putraku," kata Satria pelan.


Victoria merasa geram akan jawaban Satria yang tidak membuatnya merasa puas, kemudian mencari cara agar putranya mau menceritakan semuanya tentang Lubis.


"Kalau itu, Ibu sudah tahu. Siapa lagi yang bisa membuat anak dalam waktu singkat?" ejek Victoria. Kemudian ia berjalan mengambil sebuah botol minuman yang tersimpan di rak.


Victoria menungkan minuman yang telah ia ambil itu ke dalam gelas kecil dan menyodorkannya ke arah Satria. Meminta putranya untuk meminum air tersebut.


Satria menjadi waspada, ia menghirup aroma dari minuman yang sang ibu tuangkan sebelum meneguknya.


Instingnya saat ini mengindikasikan sebuah bahaya, walaupun yang diharapkannya saat ini adalah Victoria.

__ADS_1


"Bau ini," batin Satria curiga.


__ADS_2