Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 61


__ADS_3

"Apa yang harus aku lakukan?" batin Satria.


Ternyata, menjadi seorang Dewa sekalipun. Tidak memberikan jaminan untuk Satria bisa menghadapi wanita, malahan dia sama saja seperti manusia biasa yang kesulitan dalam memahami makhluk yang selalu mengutamakan perasaan di atas segalanya.


Hingga, Alice memberitahu perihal pernikahan yang akan mereka selenggarakan. Menambah perasaan tidak nyaman untuk Satria terhadap Haruna.


"Dewa S, ayah dan ibu sudah menyiapkan pernikahan kita yang akan segera di langsung. Jadi, kamu gak bisa ke mana-mana."


"Bisakah, kalian meninggalkanku sebentar? Aku perlu istirahat," pinta Satria mengalihkan pembicaraan.


Kepalanya tiba-tiba saja terasa berat, memikirkan masalah yang terjadi di antara Alice dan juga Haruna. Dua wanita yang membuatnya bisa gila dan meraih kenikmatan dalam waktu yang bersamaan.


Haruna yang mendengar penuturan Satria segera beranjak pergi, berbeda dengan Alice yang malahan naik ke atas ranjang Satria. Tentu saja hal itu menimbulkan tanda tanya besar dalam bedak Satria, setelah Haruna keluar dari kamar tersebut. Barulah Alice berbicara dengan nada yang manja.


"Aku ingin menemanimu, nanti kita mandi bersama dan akan pergi ke luar. Ayah dan ibu pasti telah menunggu," jelasnya dengan mengusap-usap dada bidang Satria. Menimbulkan sensasi aneh di dalam diri lelaki yang telah mencuri perasaannya itu.


"Baiklah," balas Satria dan memilih menjatuhkan tubuhnya, lalu memejamkan mata. Ternyata, Satria benar-benar butuh istirahat.


Sekalipun seorang Dewa, Satria merasakan kelelahan dan memerlukan istirahat yang lebih. Padahal, dirinya hanya bercinta dengan Alice. Tetapi, terasa melakukan aktivitas yang begitu berat.


Sedangkan Alice, tidak ingin mengganggu Satria dan ikut terlelap di samping lelaki itu. Mereka berdua kembali ke alam mimpi yang indah dengan saling berpelukan, pagi yang indah. Dihabiskan oleh keduanya dengan tidur sejenak, sebelum menghadapi tantangan yang berikutnya.


Disaat Satria dan Alice kembali tidur, Haruna yang telah keluar dari kamar itu melangkah menuju kembali ke kamarnya. Namun, tidak sengaja berpapasan dengan Profesor Ruden.


"Hallo Nona Haruna, apakah anda ingin kembali ke peraduan bersama saya?"


Haruna hanya menatap sekilas ke arah lelaki paru baya itu, lalu melanjutkan langkahnya dan mengabaikan Profesor Ruden.


Apa yang dilakukan oleh Haruna, membuat lelaki itu malahan mengikutinya. Hal itu membuat Haruna berbalik badan dan membuat Profesor Ruden tersenyum lebar.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan antusias.


"Apakah anda tidak memiliki perkejaan lain? Selain mengikuti saya?" tanya Haruna dengan sorot mata dingin.


Namun, tidak membuat Prosesor Ruden menjauh. Malahan semakin mendekat dan menghapus jarak di antara mereka.


"Tidak ada! Sekalipun ada? Tidak penting, karena ... mendampingi Dewi secantik anda merupakan kehormatan untuk saya," balas Profesor Ruden dengan mengedipkan sebelah matanya. Membuat Haruna muak, lalu melakukan hal yang tidak pantas kepada lelaki paru baya itu.


Haruna mengangkat tubuh Profesor Ruden dengan kekuatan yang dimilikinya dan membuat tubuh lelaki itu melayang sampai ke langit-langit kastil.


Teriakan Profesor Ruden, seolah tidak dihiraukan oleh Haruna. Dia begitu menikmati hiburan yang dilakukannya dengan memainkan tubuh lelaki itu sampai keringat mengucur deras dari tubuh Profesor Ruden.


"Dewi Haruna, tolong lepaskan saya!" teriak Profesor Ruden untuk kesekian kalinya.


Bukan hanya keringat yang mengucur deras, bahkan tubuhnya bergetar. Karena merasa tidak nyaman di putar-putar dan berada di ketinggian satu meter dari lantai. Kalau dirinya memiliki riwayat penyakit jantung, maka saat ini juga telah mati.


"Apa yang kalian lakukan?"


Haruna dan Profesor Ruden menatap ke arah Victoria, profesor Ruden segera meminta bantuan kepada Victoria. Agar bisa melepaskannya dari Haruna.


"V! Bantu aku," pinta Profesor Ruden dengan raut wajah memelas.


Victoria hanya menyipitkan matanya, menatap ke arah Profesor Ruden dan Haruna. Dia melihat kekuatan Haruna telah kembali dan sudah bisa dipastikan, siapa mampu mengembalikannya.


"Dewi Haruna, tolong ... lepaskan Ruden," pinta Victoria dengan sorot mata nanar.


Dia tidak mengerti, kenapa Haruna bisa dengan mudahnya mengunakan kekuatan Dewi di kastil Profesor Ruden. Sebab, yang dia ketahui. Kalau, kekuasaan Haruna hanya berada di dunia Albiru.


Dengan raut wajah datar, Haruna menurunkan Profesor Ruden. Lebih tepatnya, menjatuhkan tubuh lelaki itu dan menimbulkan suara yang cukup keras.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" pekik Victoria tidak percaya dengan apa yang baru saja Haruna lakukan. Dia segera membatu Profesor Ruden untuk berdiri kembali, terlihat raut wajah kesakitan dari lelaki itu.


"Melakukan apa yang kamu minta," balas Haruna dengan nada dingin.


Victoria menatap tajam ke arah Haruna dengan tangan yang mengepal kuat, ada kilatan kemarahan yang terlihat dengan tersirat dari mata Victoria ketika menatap ke arah Haruna yang masih terlihat tenang.


Hingga Profesor Ruden mencoba untuk menenangkan kedua wanita itu, tetapi hasilnya sia-sia. Karena telah terjadi ketenangan di antara keduanya.


"V, aku tidak apa-apa. Ayolah, jangan buat keributan," jelas Profesor Ruden.


"Aku tidak membuat keributan, tetapi ... dia!" Victoria menunjuk wajah Haruna dengan jari telunjuk, dia tidak bisa menahan perasaan emosi yang ingin segera meledak.


Terlebih tatapan mata Haruna yang nampak tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa, membuatnya muak. Kalau ada kesempatan, dia ingin sekali membunuh Haruna.


"Maaf, aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian! Dimana yang satu membuat masalah dan yang lainnya membela, begitu lemah," kata Haruna dengan nada merendahkan.


Victoria terpancing akan apa yang baru saja di ucapkan oleh Haruna, dia segera mendekati wanita itu dan ingin memukulnya. Namun, serangan yang ingin dilakukan oleh Victoria telah terbaca oleh Haruna. Dengan begitu mudahnya, Haruna menangkis serangan tersebut.


Victoria melayangkan lagi sebuah serangan, tetapi hasilnya tetap sama. Haruna bisa menghindar, membuatnya menjadi semakin geram dan terus menyerang.


Sedangkan Profesor Ruden yang masih di sana menjadi bingung. Bagaimana mengehentikan kedua wanita itu, hingga dia berinisiatif menarik pergelangan tangan Victoria. Namun, malahan dirinya yang menerima serangan wanita itu.


"Aw! Sakit V!" pekik Profesor Ruden seraya mengusap wajahnya yang terasa berdenyut nyeri, bahkan berwarna kemerahan saat ini setelah menerima pukulan telah Victoria.


"Itu salahmu sendiri! Kenapa menggangguku!" hardik Victoria dengan garang.


Dia belum bisa menyentuh tubuh Haruna yang selalu saja menghindar, membuatnya merasa tidak bisa menyalurkan emosi di dalam tubuhnya. Kembali Victoria menatap ke arah Haruna, setelah di ganggu oleh Profesor Ruden. Karena tidak ada kesempatan untuknya menyerang fisik wanita itu, maka dia melakukan hal lain.


"Entah apa yang kamu berikan kepada Satria, putraku. Tapi ... satu hal yang harus kamu tahu. Kalau aku tidak sudi Satria menikah denganmu!"

__ADS_1


__ADS_2