Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 20


__ADS_3

"Evalus!" teriak Satria dan mengarahkan jari telunjuknya ke Hunter yang mengejeknya tersebut. Serta, Satria lanjutkan ke Hunter yang lainnya.


Mantra pertama yang Satria pelajari dan sudah dikuasa dengan baik oleh dirinya, ternyata mantra tersebut bisa dijadikan senjata yang mematikan untuk menyerang para musuh dengan lebih efesen.


Dengan cepat dan mudahnya, Satria menjatuhkan satu–persatu para Hunter tersebut terjatuh dan dengan percaya dirinya Satria menaiki tubuh Hunter tersebut.


"Besar sekali, nyalimu!" kata seorang Hunter yang mendekati Satria, dia merupakan Hunter yang terakhir. Tubuhnya, tidak terlalu besar dengan seperti Hunter yang lainnya.


Namun, Satria bisa merasakan sebuah energi yang sangat kuat yang Hunter itu pancarkan. Bahkan, Satria meyakini. Jika, Hunter tersebut merupakan ketuanya.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Satria dengan sorot mata yang tajam. Seolah, siap untuk menghadapi Hunter yang terakhir yang berada di hadapannya tersebut.


"Kematianmu!"


Satria merasa sangat marah, untuk pertama kalinya. Dia menghadapi seorang Hunter secara langsung, tentu saja. Kesempatan ini tidak akan disia-siakan begitu saja, sebelum menuntaskan apa yang harus dilakukan.


Satria berlari dengan kencangnya, begitu pula dengan Hunter tersbut. Kilatan, kemarah snaagt nampak dari keduanya. Seakan, tidak akan ada yang mampu memnghentikan mereka.

__ADS_1


Tang


Suara pedang Hunter, namun sayang. Tubuh Satria ytang kecil, membuatnya sangat gesit dan bisa menghindar dengan begitu mudahnya.


Satria berjalan di atas pedang Hunter tersebut dan langsung berlari ke atas, dia ingin menacampan anak panah yang digunakan. Sebagai senjata dengan menancapkan benda tersebut.


Terlebi, Satria mencium aroma racun dari anak panah yang seebmunya ingin membunuhnya tersebut. Disaat, Satria telah berada di bahu Hunter tersebut.


Tanpa membuang waktu, Satria melancarkan aksinya. Setelah menghindari tangan Hunter yang besar tersebut. Ketika hendak menyentuh tubuhnya.


"Dasar tidak berguna!:" teriak Hunter itu. Akan tetapi, anak panah yang Satria pengang. Sudah tertancap di lehernya, membuat tubuhnya yang besar tumbang seketika.


Satria mengamati tubuh Hunter yang baru dikalahkan olehnya itu, terlihat dengan jelas. Jika, Hunter itu telah mati.


Tubuhnya membiru, dengan beberapa corak aneh. Dimana Satria yakini, bahwa racun yang terdapat dianak panah.


"Semoga para Dewa memberkatimu!" kata Satria dengan nada dingin dan memilih meninggalkan Hunter tersebut.

__ADS_1


Dia tidak tahu, penyebab. Kenapa para Hunter menyerang Bob, tetapi ada hal yang lebih penting dari itu.


Satria pun membawa langkahnya, menghampiri Bobo. Blogger yang dulu pernah menyelamatkannya itu. Kini sudah tidak bernyawa, hingga mata Satria menatap sesuatu yang berada digenggaman Bob.


Karena penasaran, Satria pun membuka tangan Bob dengan perlahan. Jari Blogger tersebut, awalnya Satria agak kesulitan.


Jari Bob sangat lah besar, seukuran pohon yang sangat besar. Ditambah cengkramannya yang juga cukup erat.


Hal itu, membuat Satria kesulitan. Hingga, dia megambil sebuah kayu yang cukup besar dan mencongkel jari-jari Bob dengan kayu tersebut.


"Apakah, ini?" gumam Satria. Setelah berhasil, membuka tangan Bob.


Satria melihat, ada sebuah bola yang berukuran seperti bola dunia. Namun, dengan warna biru yang terus berkilau.


Perlahan, Satria mengambil benda tersebut. Cahaya yang dipancarkan olehnya membuat Satria merasa takjub dan berpikir. Jika, benda itu yang membuat Bob diserang oleh para Hunter.


Satria memerhatikan keadaan yang dipenuhi oleh tubuh-tubuh Hunter, membuat dirinya pun memilih untuk meninggalkan tempat tersebut dengan membawa bola yang diambilnya dari Bob.

__ADS_1


Namun, setelah beberapa Satria melangkahkan. Dia mengerutkan dahinya, tengah berpikir. Kemana dia akan pergi, karena tempat itu sedikit asing baginya.


"Tidak mungkin! Sepertinya, aku tersesat!" gumam Satria


__ADS_2