
"Apa yang kau lakukan di sini, Sat? Lalu, di mana Lily?" Pertanyaan Key membuat Satria semakin yakin, kalau Key belum mengetahui kebenarannya.
Satria mencari alasan yang masuk akal untuk mengelabuhi Key, ia memerlukan bantuan dan tenaga pemuda itu untuk bertahan hidup di dunia Albiru.
"Aku tersesat dan ingin mencari jalan pulang," jelas Satria apa adanya. Karena ia memang ingin mencari jalan keluar dan tersesat di dunia Albiru yang begitu berbeda ketika ia kunjungi dulu.
Terakhir kalinya Satria berada di dunia Albiru, disaat perperangan antara Dewa saja dan mengobarkan banyak sekali anak-anaknya.
Teringat akan masa kelam itu membuat Satria merasa berdosa, ia merupakan ayah yang begitu buruk. Bahkan lebih buruk daripada ayahnya sendiri, setidaknya Penus masih memberikannya sebuah kehidupan.
"Kalau begitu, kita sama. Aku juga tersesat dan ingin kembali, tapi ... kenapa kau sendirian? Di mana Lubis dan Lilly?"
Satria menelan silvernya kasar, pertanyaan yang paling dihindari olehnya, malahan menghampiri. Diamnya Satria ternyata menimbulkan kecurigaan Key.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
Satria membuang nafas panjang dan mencari kosa kata yang tepat, tapi disaat Satria ingin berbicara. Tiba-tiba saja datang sebuah energi yang besar dan begitu cepat, untung Satria menyadari hal itu.
"Awas!" teriak Satria panik dan mendorong tubuh Key sampai kembali tersungkur di atas tanah bersama dengannya.
Nasib baik tengah menghampiri keduanya, serangan itu berhasil mereka hindari dan mengenai sungai yang berada dibelakang.
Bum
Serangan itu meledak seperti bom, Satria yakin ada yang melepaskan energi sebesar itu dengan sengaja. Kalau tidak? Sulit bagi dunia Albiru bisa hancur dan menjadi gersang seperti saat ini.
"Apa tadi?" tanya Key dengan nafas yang memburu, tubuhnya terasa gemetaran. Untuk pertama kalinya ia melihat benda seperti tadi dan yang terjadi dari dampak serangan itu juga begitu dahsyatnya.
Satria tidak menanggapi ucapan Key, sebab ia belum yakin dengan hal itu. Sebelumnya matahari tenggelam, Satria mengajak Key untuk mencari tempat aman.
__ADS_1
Satria mencoba menyelusuri sungai yang ia yakini sungai yang sama dengan waktu itu, Satria berharap bisa menemukan rumah para Blogger yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Key yang mengikuti Satria dari belakang terus saja mengoceh, bagaimana ia tidak takut. Sebentar-sebentar ada sebuah serangan yang entah dari mana asalnya dan terus berjadi untuk beberapa waktu.
Karena geram akan mulut Key yang tidak mau berhenti dan terus saja membuat telinga Satria merasa sakit, membuatnya memberikan sebuah pilihan kepada Key.
"Bisakah kau berhenti? Teingaku sakit! Jika kau takut? Maka tinggallah, jangan ikuti aku!"
Key terdiam untuk beberapa saat, kemudian meminta maaf kepada Satria dan akhirnya mereka kembali berjalan dengan tenang.
Kali ini dugaan Satria benar, tidak jauh dari aliran sungai. Satria melihat sebuah pohon penanda yang pernah ia buat waktu itu, di saat mandi bersama dengan Put.
Bob mengajarinya untuk menandai jalan yang pernah dilewati, jika suatu hari tersesat. Maka, dirinya memiliki sebuah petunjuk. Terlebih serangan yang entah siapa pelakunya itu tidak sampai ke area hulu sunggai.
Satria tidak tahu apa penyebabnya, tapi hal itu menjadi keuntungannya baginya dan segera menyelusuri hutan.
"Sat, aku lapar," rengek Key. Berjalan terus tanpa makan dan hanya minum dari air sungai membuat Key merasa lapar di sertai lelah.
Satria merasa kasihan dengan Key memilih untuk rehat sejenak dan mengambil beberapa buah Tetum untuk mereka makan bersama.
Awalnya Key merasa ragu dengan bentuk buah yang begitu besar dan berwarna biru itu, tapi melihat Satria yang makan dengan lahap di tambah perutnya yang sudah lapar membuat Key ikut melahap buah itu.
"Emmm ... kenapa buah ini begitu enak? Apalagi ukurannya yang besar sekali, aku akan kekenyangan kalau begini," terang Key yang dengan rakusnya melahap buah Tetum.
Satria teringat kembali dengan keadaannya dulu, di saat ia melihat Key. Awal mulai dirinya terdampar di dunia Albiru dan di selamatkan oleh para Blogger.
Satria bukan siapa-siapa waktu itu, bahkan hampir tewas diserang oleh para Hunter. Namun Put, Sis, dan Bob mau membantunya.
"Kamu kenapa, Sat?" tanya Key yang melihat Satria hanya diam.
__ADS_1
Satria menggeleng pelan dan melanjutkan makannya, setelah merasa kenyang. Mereka melanjutkan perjalanan, Satria mengingat kembali tanda-tanda yang pernah ditinggalkannya dulu.
Key memerphatikan dengan seksama apa yang Satria lakukan, ia merasa bahwa Satria pernah berada di tempat ini. Berbeda dengannya, terlihat dengan jelas Satria yang berhasil menuntun mereka sampai pada sebuah gubuk yang begitu besar.
"Kita akan menginap di sini, ayo masuk," ajak Satria.
Key semakin ciruga, terlebih ukuran gubuk itu begitu besar. Mereka sampai di gubuk itu setelah hari telah gelap, Satria dengan cekatan menyalakan tungku pembakaran dan mencari menyiapkan beberapa botol minuman.
Karena tidak tahan lagi dengan sikpa Satria, Key pun akhirnya bertanya. Sebab, Satria begitu paham dengan selut-belut gubuk ini.
"Sat, apakah kamu pernah tinggal d sini?" tanya Key dengan penuh curiga dan menghentikan aktivitas Satria yang tengah menuangkan minuman.
Satria membuang nafas panjang, niat awalnya ingin memanfaatkan Key. Namun, seperti ia yang malahan di manfaatkan oleh pemuda itu.
Setidaknya Satria tidak sendirian, hanya itu yang membuatnya mau bersama Key. Daripada hidup di sini tanpa ada manusia lain, pikirnya.
"Sat! Kenapa diam?" Key membuat Satria menatap ke arah pemuda itu, lalu tersenyum kecil.
"Aku yakin sekali, kalau kamu gak akan mau menengar ceritaku yang panjang dan memelahkan ini," ejek Satria. Dirinya enggan untuk menceritakan tentang masa lalunya yang tidak mengenakan sejak datang ke kota X.
Niat hari ingin bertemu dengan sang ibu, malahan membuat Satria terjebak di dalam lika-liku kehidupan yang tidak bisa di jelaskan dengan logika.
"Aku mau mendengarkan ceritamu, setidaknya jelaskan beberapa hal tentangmu!" desak Key yang menjadi semakin penasaran dengan jati diri Satria.
"Ayolah, aku baru di dunia ini. Ruu tidak menjelaskan apapun, dia hanya memintaku untuk mencari Dewi Haruna yang katanya begitu cantik."
Gelas yang berada di tangan Satria terjatuh seketika, setelah mendengar apa yang baru saja Key ucapakan. Hal itu membuatnya menatap tajam ke arah pemuda yang memang polos itu.
"Ulangi ucapanmu tadi!" bentak Satria yang tanpa sadar menggebrak meja membuat Key terpancing emosi.
__ADS_1
"Aku bukan anak kecil, Sat! Kenapa kamu marah! Hah!" balas Key yang juga memukul meja sama seperti yang Satria lakukan.
Key tidak suka di bentak oleh siapapun, karena ia hidup dengan Lilly di penuhi oleh kasih–sayang dan mereka berdua tidak pernah berkelahi sama sekali.