
"Aku tidak akan pernah berhenti untuk melindungi orang yang kusayangi, walaupun ... tanpa menunjukkan jati diri kesatria."
Tatapan mata Satria amat serius, ketika mengatakan hal itu. Seraya mengecup kening Alice, tubuh mereka saling berpelukan. Pagi indah dengan matahari yang menyinari bumi, membuat tubuh pasangan itu mengeliat dari balik selimut.
Malam yang indah dan penuh akan cinta, membuat keduanya kelelahan. Bahkan enggan untuk bangun dari ranjang yang telah menjadi saksi bisu dari percintaan yang dilakukan oleh mereka berdua, hingga sebuah ketukan pintu. Membuat Satria mendesah berat dan menatap ke arah pintu yang masih tertutup itu, dengan malas dia bangun. Namun, dihalangi oleh Alice.
"Biar aku saja Dewa S," jelas Alice dengan senyuman nakal, menggoda Satria yang juga tersenyum padanya.
Dengan selembar kain yang membalut tubuhnya, alice berjalan perlahan menuju ke arah pintu yang masih saja di ketuk. Seolah, orang dibalik pintu itu sudah kehabisan kesabaran untuk menunggu. Sampai dengan perlahan Alice memutar kenopi dan menarik pelan pintu yang menampakan seorang wanita yang tengah berdiri dengan raut wajah begitu terkejut.
Alice tersenyum aneh dengan melipat kedua tangannya di dada, menatap wanita yang ada di hadapannya.
"Ada yang bisa aku bantu, Haruna?" tanya Alice dengan tenang.
__ADS_1
Haruna masih terdiam seribu bahasa, matanya melihat keadaan Alice yang begitu berantakan dengan kain yang membalut tubuh polosnya yang masih mengekspose bagian yang lain. Bukan hanya itu, ada warna kemerahan yang menandakan telah terjadi perperangan yang meremas hati Haruna yang sudah mengetahui hal itu.
Dada Haruna naik turun menahan gejolak yang ingin memucah di dalam hatinya, dia menatap ke arah alice dan melirik ke dalam kamar tersebut.
"Aku mencari Dewa Satria." Setelah sekian lama terdiam, Haruna pun menjelaskan apa yang membuatnya ke kamar Satria.
Alice dengan membuka pintu dengan perlahan, untuk Haruna bisa masuk. Dia segaja melakukan hal itu, agar Haruna semakin tersakiti. Ketika melihat ke adaan Satria yang telah melewati malam panjang dengannya.
"Bagaimana keadaanmu saat ini, Dewa Satria?"
Pertanyaan Haruna membuyarkan lamunan Satria yang berkelana entah ke mana, sampai pikirannnya kembali.
"Sudah lebih baik, bagaimana dengan keadaanmu?" Satria berbaik bertanya, setelah menjawab pertanyaan Haruna.
__ADS_1
Sedangkan wanita itu sudah duduk di tepi ranjang, dia menyetuh dahi Satria yang terdapat keringat yang menetes dengan penuh kelembutan. Tentu saja, hal itu membuat Satria semakin merasa tidak nyaman. Terlebih dia melihat dari ekor matanya ke arah Alice yang nampak seklai cemburu, dengan cepat. Satria menghentikan aktivitas yang di lakukan oleh Haruna.
"Apa kamu ingin segera pulang?" Satria berusaha mengalihkan perhatian, agar suasana canggung yang sempat tercipta segera kembali normal.
"Tentu saja, apa kamu akan menemaniku?"
Satria mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, ditambah Alice datang dan mengatakan hal yang begitu kasar. Membuat Satria semakin bingung dengan apa yang tengah terjadi.
"Jika kamu ingin pulang? Pulang saja sendirian! Dewa S akan menikah dengaku."
Namun, Haruna tidak menanggapi apa yang Alice katakan dan masih menunggu jawaban dari Satria.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin Satria.
__ADS_1