
"Buka matamu, Satria"
Satria tertegun dengan suara yang tidak familiar itu, perlahan dia membuka kedua matanya dan melihat seroang wanita cantik tengah berada dihadapannya. jarak mereka begitu dekat, sampai hembusan nafas wanita itu bisa Satria rasakan.
"Dimana aku?" gumam Satria pelan. Seraya memegangi kepalanya yang terasa berat dan sakit, tetapi tangannya ditahan oleh wanita yang berada dihadapannya.
"Kamu ada di kastil, perang telah usai."
Mendengar hal itu, Satria mengingat kembali. Apa yang sebelumnya terjadi, tetapi kepalanya terasa sakit.
"Aw!" pekik Satria.
"Kamu kenapa Satria?" Dengan penuh perhatian, wanita itu memegangi kepala Satria. Namun, Satria merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh wanita tersebut.
"Hentikan Alice," pinta Satria dengan nada pelan.
Apa yang Satria ucapkan, tanpa sengaja melukai hati Alice. Mata wanita itu berkaca-kaca, dia pergi begitu saja meninggalkan Satria seroang diri di dalam ruangan tersebut.
Sedangkan Satria, hanya menatap nanar punggung Alice yang pergi sampai menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat.
Beberapa kali Satria mendesah berat, seraya mengingat kembali apa yang sebelumnya terjadi. Seraya menatap isi ruangan yang seperti sebuah kamar yang tidak asing baginya, apalagi tadi alice mengatakan kalau dirinya berada dikastil.
"Tuhan, apakah ini sudah selesai?" batin Satria bertanya-tanya, apakah peperangan telah benar-benar uisai dan dia bisa menjalani kehidupan seperti dulu.
Hidup dengan normal dan menjalani segala aktifitas seperti seroang manusia biasa, menikmati pagi hari yang indah dengan segelas kopi hangat seraya duduk di ruangan keluarga.
Tidak ada yang diinginkan Satria, kecuali kehidupan yang diidamkan olehnya selama ini. Dunia khayalan, atau dunia Albiru memang sangat indah dan menawarkan segala yang diinginkan oleh setiap penghuninya. Namun, jika menjadi Dewa kembali dan harus menjaga dunia tersebut. Bagi Satria agak berat dalam menyalaninya.
Hidup dengan beban, ditambah dalam perasaan was-was setiap hari. Karena selalu ada monster atau makhluk metalogi yang senangtiasa datang silih berganti.
__ADS_1
Tok
Tok
Ditengah lamunan Satria, terdengar suara pintu yang diketuk. Tidak berapa lama terlihat sosok yang Satria kenal, dia melangkah dengan pelan. Mendekati ranjang di mana saat ini Satria tengah terbaring.
"Bagaimana dengan keadaanmu, Sat?"
Satria berusaha untuk duduk, lalu mengangkat bahunya. Sabegai jawaba dari pertanyaan yang orang itu tanyakan.
"Dewa Ketua telah tewas, otomatis ... kamu yang mengantikannya."
Satria malas untuk menanggapi hal itu, dia tatapannya hanya lurus kedepan. Dimana ada keinginan yang harus dicapai olehnya, setidaknya dia harus berusaha untuk memenuhi kewajibannya terlebih dahulu.
"Satria, Ibu tidak tahu. Apakah ini baik atau buruk bagimu, tapi ... Dewi Haruna ingin meminta sesuatu kepadamu."
Kali ini perhatian Satria teralihkan oleh peryataan tersebut, apa yang ibunya ucapkan. Membuat dirinya bertanya-tanya di dalam hati, ditambah hal itu bersangkutan dengan Haruna. Wanita yang dicintainya.
Victoria hanya bisa membuang nafas berat, dirinya mendapatkan amanat yang sulit untuk disampaikan. Bagaimana, dia meyampaikan permintaaan Haruna kepada satria. Disaat keadaan putranya yang baru saja tersadar, tetapi semunya di bebankan kepada pundaknya. Hanya karena, Victoria adalah ibu Satria.
"Jawab, Bu." Satria mendesak, dia sudah merasa sangat penasaran.
Terlihat dengan jelas raut wajah Victoria yang berubah, beban yang terlalu berat itu. Memang harus segera di keluarkan, dengan perlahan dia meraih tangan Satria untuk digenggam. Agar putranya bis meraksasa, apa yang kini tengah dia rasakan.
Tentu saja Satria sudah tahu perasaan Victoria, namun bukan itu yang dia ingin ketahui. Melainkan,apa yang Haruna inginkan dan kenapa tidak menyampaikannya secara langsung. Ini malahan meminta bantuan pada ibunya.
"Sebelum Ibu menyampaikan, permintaan Haruna. Ibu ingin mendegarkan, keinginamu terlebih dahulu."
Apa yang disampaikan oleh Victoria, membuat Satria terkekeh kecil. Tidak ada yang gratis di dunia ini, selalu ada timbal baik atas apa yang diinginkan.
__ADS_1
"Tidak ada yang kuinginkan saat ini, kecuali ... memiliki keluarga yang utuh dan harmonis," jelas Satria seraya bersandar pada dipan ranjang dan menjadikan sebelah tangannya sebagai bantal.
Dirinya selalu membayangkan, bagaimana indahnya memiliki keluarga yang utuh. Hidup bersama dengan rukun dan di penuhi oleh cinta dan kasih sayang, sederhana tetapi sekelas Dewa Tertinggi saja tidak bisa mengabulkannya.
Satria terlalu lelah, hidup dalam ruang–lingkup keluarga yang broken home. Terkadang dioper ke seblah sini dan sana, teringat akan hal itu. Wajah Satria menajdi sendu, untuk kedepannya dia hanya akan bersama dengan sang ibu. Sebab ayahnya telah tewas, saat serangan Heypersex yang di lakukan olehnya sendiri.
Hingga tangan Satria, yang masih digenggaman sang ibu terasa erat. Dia menatap ke arah wanita yang masih setia duduk di samping ranjangnya itu dengan tatapan mata heran.
"Ibu kenapa?" tanya Satria.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan tersebut. Victoria malahan menangis dan memeluk Satria, tentu saja hal itu menambah perasaan heran dan penasaran di dalam bedak Satria.
Cukup lama mereka berpelukan, karena Satria yang hanya diam membiarkan sang ibu sampai merasa agak tenang. Barulah dia mengurai pelukan mereka, dan menghapus jejak air mata yang masih berada di bawah mata ibunya.
"Sat, keluarga Cooper meminangmu untuk menjadi menantu mereka. Dengan menikahi Putri Alice, sedangkan kamu bisa tinggal di dunia manusia dengan hidup seperti yang kamu inginkan."
Satria terkejut dengan apa yang ibunya sampaikan, dia menjadi bingung sendiri. Bagiamana cara menolaknya, karena dirinya hanya mencintai Haruna terlebih mereka pernah melakukan percintaan. Walaupun hanya sebentar saja, tetapi bagi Satria Haruna adalah miliknya.
Sedangkan Alice, Satria hanya mengaggapnya sebagai adik saja. Tidak lebih, walaupun wanita itu telah melahirkan anak darinya tanpa disengaja.
Satria yang hanya diam, membuat Victoria kembali berbicara dan menjelaskan permintaan Haruna. Hal itu membuat Satria semakin terkejut.
"Tentang permintaan Haruna, dia ingin menjadi Dewi kembali dan menjaga dunia Albiru bersamamu. Ibu tidak tahu pasti, kenapa dia mengatakan hal itu. Namun, keluarga Cooper mengizinkanmu untuk hidup di dua dunia. Karena, mereka akan tetap memantau dunia Albiru sebagai tanggungjawab sebagai penjaga."
Di antara kedua pilihan, bahkan dunia wanita dan dua dunia. Kemana pilihan Satria akan jatuh, serakah memang. Jika semuanya dia ambil, tetapi keluarga Cooper memang menjadi penjaga dunia Albiru sejak lama. Namun, Satria masih merasa bingung dengan ucapan ibunya yang menyatakan jika Haruna ingin menjadi Dewi kembali.
"Bu, kenapa Haruna meminta ingin menajdi Dewi? Sedangkan, dia memang seorang Dewi," tanya Satria dengan perasaan penasaran.
Namun, ibunya hanya mengangkat bahu. Dia juga tidak mengetahuimnya, malahan meminta Satria untuk menanyakan hal itu secara langsung kepada Haruna.
__ADS_1
"Apakah, Haruna ada di sini?"