Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 65


__ADS_3

Apa yang disampaikan oleh Profesor Ruden semakin membuat Satria tidak mengerti dengan jalan pikiran lelaki paruh baya tersebut, hingga sebuah serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh Profesor Ruden membuatnya tersentak.


"Profesor!" teriak Satria dengan begitu nyaring. Cairan merah dengan bau amis memucrat begitu saja.


"Apakah ini sudah berakhir?"


Keadan yang begitu mencekam membuat Satria segera mengambil tindakan dengan cepat, dia bisa menghentikan pendarahan yang terjadi pada tubuh Profesor Ruden.


Lelaki paruh baya itu ingin mengakhiri hidunya dengan cara menusukan sebuah sepihan tajam yang terlihat begitu mengkilap.


Namun, Satria tidak akan pernah membiarakan Profesor Ruden pergi dengan begitu mudahnya. Masih ada sebuah pertanyaan yang harus di jelaskan oleh lelaki itu.


"Kenapa?" tanya Profesor Ruden dengan suara yang begitu pelan.


Satria menyembuhkan Profesor Ruden dengan kekuatan yang dimiliki olehnya dan sekejap mata, keadaan lelaki itu sudah kembali seperti sedia kala.


Namun, ada sebuah guratan tidak terima yangtergamar dengan jelas dari lelaki yang telah Satria selamatkan itu.


Apakah ada perang dan dendam yang tersemunyi, sampai Profesor Ruden seakan tidak ingin ditolong. Hingga Satria bertanya, " Apakah anda begitu mencintai Dewi Haruna?"


Sunyi seketika, Profesor Ruden mematung di tempat. Bahkan untuk bernafas sekalipun dia merasa begitu kesulitan, setelah mendengar pertanyaan dari Satria tersebut.


Apakah benar semua itu? Jika lelaki yang kulitnya mulai mengeriput dimakan oleh usia itu mencintai seorang Dewi Haruna?


Semuanya seakan tidak masuk akal, begitu kontras kalau mereka sampai bersama. Seakan duania akan menertawakan Profesor Ruden yang tidak sadar diri.


"Hahaha ... apa kamu begitu ingin mengetahuinya?"


Profesor Ruden malahan terawa seperti orang aneh, keadaannya beru saja di sembuhkan oleh Satria. Namun cara bicaranya seperti orang yang tidak tahu berterimakasih.


"Katakan saja, aku tidak merasa keberatan sama sekali," terang Satria dengan begitu tenangnya. Masih denga keadaan terbang dan melayang beberapa jengkal dari tanah.


"Tidak keberatan? Cih! Sombong sekali kau!" hardik Profesor Ruden.


Dunia Albiru merupakan tempat yang begitu berarti, tidak mudah untuk seorang Dewa sekalipun membuat dunia seperti itu.

__ADS_1


Namun, adanya penghubung di antara duinia ini dan dunia tersebut. Kastil di mana Profesor Ruden menyimpan sebuah rahasia yang tidak banyak diketahui oleh orang, merupakan sepenggal sejarah kelam.


"Kau yang mengajariku seperti ini, Prof. Kau yang membawaku ke kastilmu dan meberikan semua yang aku butuhkan, dulunya aku hanya seorang pemuda yang tidak memiliki arah sama sekali."


Miris memang keadaan Satria waktu itu, ketika harus hidup dan tinggal berpindah-pindah. Tidak memiliki tujuan yang pasti dan tidak tahu harus berbuat apa, dirinya malahan terdampar di dunia lain.


Sungguh telepotasi yang merubah segalanya, berawal dari bukan siapa-siapa. Hingga menjadi seorang Dewa.


"Aku memang bodoh! Kenapa bisa membantumu. Tapi ... Dewi Haruna merupakan harta yang paling berharga untukku," jelas Profesor Ruden dengan menggegam tanah.


Cinta merupakan sesuatu yang tiak logis dan sulit untuk dijelaskan dengan nalar Manusia. Apa yang terjadi, terkadang membuat sesorang menjadi berubah dengan dratis.


Begitu pun dengan Profesor Ruden, seroang ilmuan yang sudah puluhan tahun menghuni Kastil tua. Menjaga semua yang ada di sana, termasuk portal ke dunia Albiru.


"Anda tidak bodoh, Prof. Hanya saja ... Anda terlalu mudah untuk dihasut dan tidak bisa konsisten dengan tujuan anda sendiri."


Satria menghampiri Profesor Ruden dan mengangkat tubuh lelaki itu dengan perlahan, agar dia bisa melihat wajah orang yang telah berjasa dalam hidupnya selama ini.


Apalah arti dari sebuah menjadi Dewa? Jika dia tidak bisa membuat kesahjeteraan untuk orang-orang sekitarnya.


"Apa lagi yang kamu inginkan dari lelaki tua sepertiku?" tanya Profesor Ruden dengan suara lemah.


Dia merasa gagal dalam menjalankan misi yang seharusnya menjadi sebuah keberhasialan untuk pencapaiannya.


Namun, kekuatannya tidak sebanding dengan Satria. Seorang Dewa muda yang melampaui Dewa terdahulu. Sedangkan dirinya hanay seorang penjaga Kastil dan tidak memiliki kekuatan seperti Dewa.


"Mintalah sesuatu, maka ... aku akan mengabulkannya," jelas Satria yang mulai melakukan negosiasi.


Terlihat dengan jelas di pelupuk mata Satria, ada sebuah binar keinginan dibalik wajah Profesor Ruden. Namun, dia tidak bisa mewujudkan hal tersebut. Jika lelaki itu tidak meminta.


Hukum Dewa yang begitu rumit, sempat terpikirkan oleh Satria. Jika di dunia ini tidak ada lagi manusia atau mahkluk yang hidup, maka keinginan tidak akan pernah bisa terwujud sampai kapanpun.


"Aku tidak ingin meminta apapun darimu, aku hanya ... mengingnkan Dewi Haruna," kata Profesor Ruden dengan tidak semangat.


"Dikabulkan!" perintah Satria dan tiba-tiba saja, Profesor Ruden yang berada di hadapannya telah menghilang begitu saja.

__ADS_1


Entah ke mana Satria mengirim lelaki paruh baya itu, sampai terdengar suara seseorang memanggil namanya dengan begitu lembut.


"Dewa S."


Satria berbalik badan dan tersenyum, ketika melihat putranya Alex yang datang dengan mata serta wajah yang dipenuhi akan sebuah tanda tanya besar.


"Di mana gedung pernikahannya? Ke mana semua orang?" tanya Alex dengan begitu polosnya.


Satria segera menghampiri putranya tersebut dan mengusap puncuk kepala Alex dengan penuh kasih sayang, tanpa menjelaskan apapun tentunya.


Tentu saja, diamnya Satria membuat bocah laki-laki itu semakin penasaran dan kembali bertanya, "Ayah, di mana ibuku?"


"Apa kamu benar-benar ingin mengetahuinya?" tanya Satria dan mendapatkan anggukan dari sang putra.


Satria menyuh Alex untuk menutup matanya dan berjanji, bahwa tidak akan mengintip. Dengan begitu patuhnya, bocah laki-laki itu mengikuti semua yang Satria katakan.


Rasa penasaran terus mengusik pikiran Alex, tapi dia tidak mau melanggar apa yang sudah disepakatinya dengan sang ayah.


Hingga Satria meminta Alex untuk membuka mata, sontak saja bocah laki-laki itu membuka secara perlahan kedua kelopak matanya.


Pandangan Alex disuguhkan oleh sebuah pemandangan yang begitu luas, seperti taman sarvana di Afrika.


Rerumputan yang begitu tinggi menjulang dengan warna hijau keemasan memanjakan matanya, tempat yang begitu sempurna dan luar biasa.


"Di mana kita, Yah?" tanya Alex yang terus bedecak kagum tanpa henti-hentinya.


Ini merupakan pengalaman pertamanya, bocah laki-laki itu tidak begitu terpana dan melupakan tentang ibunya.


Sampai suara sang ayah membuatnya kembali menatap lelaki yang telah membawanya ke tempat tersebut.


"Alex, kamu besar dan lahir tanpa Ayah. Seandainya, dunia ini Ayah berikan kepadamu? Apakah hal itu bisa membayar perasaan bersalah ini, padamu?"


Satria berbicara dengan begitu tulus dari hati, dia menatap dalam ke manik sang putra. Hanya Alex yang dekat denganya, berbeda dengan putranya yang lain.


Apalagi Alex terjadi dari sebuah tindakan jahilnya yang ingin mengerjai Alice, tentu saja hal itu menambah daftar penyesalan di dalam dirinya.

__ADS_1


"Jadikan Alex seorang kesatria."


__ADS_2