Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 35


__ADS_3

Satria tertarik akan apa yang baru diucapkan oleh Bob, "Maksudnya? Kalian dulu pernah terpisah?"


Bob dan Sis mengangguk kecil, hidup di dunia Albiru. Karena, terusir dari negeri mereka sendiri. Membuat kaum Blogger sudah terbiasa berada di dalam keadaan yang sulit.


Namun, sekarang mereka tidak pernah terlalu takut lagi. Karena, jika dibunuh oleh kaum Hunter. Mereka bisa menjadi manusia biasa dan bisa kedua manusia, dengan damai.


"Kami tidak akan terpisah lagi, jika ... menjadi manusia. Karena, kamu akan ke dunia manusia."


Apa yang dikatakan oleh Bob, membuat Satria terkejut, "Lalu, bagaimana dengan dunia Albiru dan segala yang ada?"


Bob mendesah, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Menjawab apa yang baru saja Satria tanyakan, karena dirinya juga tidak tahu dengan pasti. Apa yang akan terjadi dengan dunia Albiru di hari yang mendatang.


Sebab, esok merupakan misteri yang tidak ada yang bisa mengetahui. Sekalipun seorang Dewa, mereka memiliki keterbatasan atas waktu.


Hingga, Bob mengajak Sis untuk masuk. Karena, menurutnya. Angin malam tidak begitu baik untuk sang istri, apalagi mereka telah menjadi manusia biasa


"Sis, ayo masuk. Aku tidak ingin kamu sampai sakit," terang Bob dan mendapatkan anggukan dari Sis.


Setelah mereka berdua berlalu, Satria yang masih duduk di bawah langit malam. Masih enggan untuk kembali kedalam gubuk, pikiran melayang ke masa masih kecil dulu.


Satria yang sudah terbiasa tinggal berpindah-pindah, karena kedua orang tuanya yang bercerai. Namun, dia tidak pernah menyangka. Jika, selama ini. Ada hal yang telah kedua orang tuanya itu semunyikan.


Entah bagaimana nasibnya nanti, kalau bertemu dengan ayah atau ibunya. Dengan keadaan sekarang, menjadi seorang Dewa.


"Apakah, Ibu akan bangga? Atau, ayah mau menerima keadaan ini?"


Pertanyaan tersebut, bagaikan komedi putar yang terus-menerus. Membuat pikiran tidak tenang, sampai Satria memutuskan untuk kembali masuk.


Dia merasa sudah cukup untuk malam ini, melamunkan sesuatu yang belum pasti. Lebih baik, dirinya memikirkan hal yang lain. Entah apa itu, yang pasti akan membuatnya merasa lebih baik dan tenang.


"Semoga, ada jalannya," batin Satria.


***


Keesokan harinya, mereka bertiga sudah bersiap untuk meneruskan perjalanan. Menuju area timur dunia Albiru, di daerah yang dulunya pernah ditinggali oleh keluarga Lubis.


Sis dan Bob saling bahu-membahu, entah berapa lama perjalanan yang akan mereka lalui. Untuk bisa sampai ditempat tersebut. Apalagi, Medan yang terjal dan tidak bisa ditebak.

__ADS_1


Hal ini, merupakan sebuah tantangan yang sangat berat. Ditambah, Bob yang menolak ajakan Satria untuk terbang. Bukan tanpa sebab, tempat yang mereka tuju. Menyulitkan Bob untuk mengingat jalanan, jika mereka terbang.


"Kita istirahat disini dulu, besok. Baru kita lanjut" jelas Bob. Sudah seharian mereka berjalan, ditambah hari yang sebentar lagi akan mulai malam.


Satria hanya diam, dia memperhatikan tempat dimana mereka berada sekarang. Indranya mulai berkerja, seolah ada sesuatu yang mencurigakan, yang mengawasi mereka sedari tadi.


Namun, dirinya masih belum yakin dan hanya bisa memasang mode waspada. Serta, mengingatkan Bob dan Sis. Untuk selalu bersama, agar bisa saling melindungi.


Dunia Albiru, penuh akan banyak kejutan yang tidak bisa dihindari. Dunia yang penuh akan monster serta makhluk metalogi yang sangat berbahaya, membuat mereka yang hidup di sana. Harus selalu dalam keadaan bahaya dan terancam, entah hari ini atau besok. Kematian selalu menghantui.


"Dewa Satria, apakah? Kamu baik-baik saja?" tanya Sis tiba-tiba.


"Entahlah, Bu Sis. Aku merasa sangat asing dan sudah melangkah terlalu jauh." Satria menjawab dengan nada yang pelan, dia masih beluim bisa mesatikan. Langkah apa yang selanjutnya akan dipilih.


Sat


Set


Terdengar suara semak-semak yang cukup nyaring, membuat mereka bertiga saling berpandangan dan bersiap-siap. Dengan senajata yang selalu ada ditangan, hingga desak-desuk itu semakin mendekat.


Entah binatang apa atau makhluk apa? Namun, yang pasti mereka harus selalu siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Hingga, suara tersebut semakin mendekat dan terdengar dengan jelas. Membuat mereka tengang.


"Ibu!" teriak Satria yang mengenali suara tersebut. Tidak lama kemudian, munculah wanita dengan pakian yang sudah mulai koyah, seolah telah terjadi. Sesuatu yang mengerikan kepada wanita itu.


"Satria! Apakah, itu dirimu?"


Wanita itu semakin mendekat, tetapi Bob menghadangnya. Karena, merasa terancam dan membuat Satria menghentikan. Apa yang dilakukan oleh Bob.


"Jangan, Bob! Dia ibuku!" Kali ini, Satria menjadi tameng untuk ibunya.


Ternyata Victoria yang juga terjebak dui dunia Albiru, setelah portal yang terbuka dengan sendirinya. Membuat wanita itu, terombang-ambing. Di negri Albiru yang membuatnya sangat menderita dalam beberapa waktu.


"Hey! Apakah, begini cara kalian menyambutku? Sungguh menyebalkan!"


Victoria mengeluh dengan keadaan yang tengah terjadi, sampai Satria mencoba menenangkannya dan memberitahu. Jika, dirinya akan baik-baik saja.


Hingga, Victoria menyadari. Bahwa, Satria putrnya terbang dan tidak menyentuh tanah. Sontak saja, hal tersbeut membuatnya kaget dan dengan memundurkan dirinya perlahan ke belakang.

__ADS_1


"Apakah, kamu Satria? Atau—"


Victoria tidak bisa melanjutkan apa yang ingin dikatakan olehnya, antara keterkejutan dan ketidak siapan dirinya. Melihat keadaan Satria yang sekarang, ditambah tengangan di dunia Albiru yang membuat dirinya seperti sedang berhalusinasi.


"Evalus!" teriak Victoria untuk melindungi dirinya.


Sebuah mantra yang diajarkan oleh Penus, dan selalu menjadi senjata mematikan yang Satria gunakan. Kini, dia arahkan kepada putranya sendiri.


Namun, Bob mengorbankan dirinya dengan mengunakan tubuhnya untuk melindungi Satria dari serangan tersbeut. Bahkan, Satria terlambat menyadari gerakan Bob yang sangat cepat.


"Bob!" teriak Satria dan Sis bersamaan.


Sedangkan Bob hanya membeku di tempat, Victoria yang melihat keadaan tersebut. Merasa sedikit bersalah dan melepaskan Bob dengan menggunakan mantra yang sama.


"Evalus!"


Seketika, tubuh Bob yang membeku bisa kembali bergerak. Membuat Sis segera memeluk tubuh suaminya itu dengan erat. Sedangkan Satria, memilih mendekati ibunya dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi.


"Ibu, ini aku ... Satria."


Namun, apa yang Satria katakan. Seolah, masih belum menyakinkan untuk Victoria. Matanya masih menyorot kaki Satria yang menggantung dan tidak menyentuh tanah.


Satria memerphatikan, sudut mata ibunya dan menatap ke arah bawah. Dimana kakinya yang masih melayang di atas, membuatny menjatuhkan tubuhnya dengan perlahan diatas tanah kembali.


Dia menyadari, akan sikap sombong yang menguasai dirinya. Dimana, merasa enggan untuk berpijak pada tanah. Padahal, asal kehidupan. Memerlukan tanah, sebagai dasar.


"Aku Satria, Bu. Sekarang ... jangan ragukan hal itu," terang Satria dan mengulurkan tangannya.


Terlihat di sorot mata Victoria yang menampakan keraguan, membuat Satria meniupkan angin dengan bibirnya.


Apa yang Satria lakukan, membuat sang ibu. Seolah melihat kenangan demi kenangan, yang mereka lewati beberapa tahun terakhir. Hingga, wanita itu berteriak histeris.


"Satria! Kamu benar-benar Satria! Ibu pikir, akan mati disini!"


Akhirnya, Victoria menyakini. Jika, lelaki tampan dihadapannya merupakan snag putra dan langung memeluk Satria dengan sangat erat dengan isaktangis yang menemani.


"Kenapa, Ibu?" tanya Satria dengan perasaan yang snagat penasaran.

__ADS_1


Victoria mengurai pelukan mereka dan menatap sendu ke arah Satria, "Ibu diburu, oleh kaum Hunter!"


"Apa?"


__ADS_2