
Tiba-tiba saja, tubuh Victoria berubah secara perlahan dan kembali normal. Tubuhnya yang tadi memiliki sayap dan bersisik, sekarang telah kembali.
Satria yang melihat proses tersebut secara langsung, sangat terkagum-kagum dengan kemampuan Profesor Ruden dalam membuat ramuan ajaib.
"Prof! Ajari aku membuat ramuan dan belajar sihir!" pinta Satria dengan mata yang berbinar penuh pengharapan.
Namun, lelaki paruh baya itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Satria tersebut dan beralih menatap ke Victoria. Seolah, sedang meminta pendapat wanita tersebut.
"Apa boleh?" tanya Victoria pelan.
"Tergantung!"
Profesor Ruden tidak memberikan jawaban yang pasifik, membuat Satria mengejar lelaki itu yang malahan pergi berlalu begitu saja.
Satria ingin sekali belajar banyak hal dari Profesro Ruden, hingga mereka berada di ruangan yang Satria ketahui. Bahwa, tempat untuk Profesor Ruden bekerja.
Terlihat sekali, jika tempat itu dipenuhi akan banyak bahan kimia yang beraneka warna dan entah apa saja kegunaan. Serta kahsiatnya, Satria yang tidak tahan lagi. Terus mendesak lelaki paruh baya itu, sampai mau mengangkatnya menjadi murid.
"Ayolah, Prof! Aku akan melakukan apapun! Asalkan ... Profesor mau mengajariku ilmu sihir."
"Bukankah, kamu keturuan keluaraga Lubis? Tentu saja, kalian memiliki ilmu sihir yang tidak bisa dirgukan lagi. Kehebatannya," terang Profesor Ruden dengan tangannya yang sibuk menyiapkan sesuatu. Tanpa menatap ke arah Satria, sama sekali yang tengah memohon padanya.
Satria yang mendnegar apa yang baru saja dikatakan oleh Profesor Ruden, teringat akan kata yang telah diucapkan sang ayah dan berhasil membuat ibunya kesakitan.
Dia pun mencoba hal yang sebelumnya ayahnya lakukan, dan menjadikan Profesor Ruden sebagai kelinci percobaannya.
Satria mulai menagyunkan tanganya, dan mengingat kembali. Sebuah mantra yang diucapkan oleh Penus. Lalu, mengarakan jari telunjuknya ke Profesor Rudan dan mengucapkan mantra tersebut.
"Evalus!"
Tiba-tiba saja, Profesor Ruden membeku ditempatnya. Lelaki paruh baya itu, tidak bisa bergerak sama sekali. Membuat Satria menajdi panik sendiri, melihat keadaan Profesor Ruden.
Terlebih, disana hanya ada mereka berdua. Karena, ibunya entah berada di mana sekarang. Satria berjalan dengan perlahan menghampiri Profesor Ruden dan menanyakan keadaan lelaki itu.
"Prof, baik-baik saja?"
__ADS_1
"Menurutmu, bagaimana? Hah! Cepat, lepaskan kuncian ini!" perintah Profesor Ruden dengan nada sedikit kesal.
Satria tidak menegrti dengan cara menegmbalikan keadaan Profesor Ruden, dia hanya ingin sekedar mencoba saja tadi.
Namun, tidak menyangka. Jika, benar-benar terjadi dan membuat Profesor Ruden tidak bisa bergerak.
"Aku harus melakukan apa, Prof?" tanya Satria dengan polosnya.
Membuat lelaki paruh baya itu, menjadi semakin geram akan kelakukan Satria. Dimana, hanya bisa membekukan. Tetapi, tidak bisa mencairkan.
Hingga, Victoria datang entah dari mana dengan baju stelan seperti pelayan yang didominasi dengan warna putih–biru. Lengkap dengan celana panjang yang berwarna hitam pekat, menambah angun penampilan wanita yang sudah mulai menua itu.
"Kenapa dengan Profesor Ruden?" tanyanya, seraya mendekati Satria yang hanya cengegesan. Dia memperhatikan keadaan Profesro Ruden yang tidak berubah sama sekali. Sampai, lelaki itu memekik keras.
"Victoria! Entah apa yang kamu ajarkan kepada Satria! Tapi ... tolong lepaskan aku!" perintah Profesro Ruden yang sudah merasa pegal di hampir seluruh tubuhnya. Bahkan, dia takut. Jika, jantung dan paru-parunya akan ikut berhenti bekerja juga.
Semua disebabkan oleh satria, dia menjadi kesal dan ingin membuat perhitunghan dngan lelaki itu. Setela terlepas, karena hanya Victoria yang bisa membantunya.
"Emangnya, kenapa dengan Satria?" tanya Victoria dengan perasaan yang penasaran. Sebab, dia tidak bisa percaya. Jika, Satria yang melakukan hal ini kepada Profesor Ruden.
"Apa kamu hanya akan diam saja? Hingga, aku menajdi mayat disini!" pekik Profesro Ruden dengan marah.
Victoria pun mendekati Profesor Ruden dan memeprahtikabn keadaan lelaki paruh baya itu yang tidak bisa bergerak. Seolah, tubuhnya tengah dikunci.
Dengan kemampuannya, Victoria memukul bagian-bagian inti dari tubuh Profesro Ruden dan membuat lelaki paruh baya itu bisa kembali bergerak seperti sebelumnya.
Tanpa basa-basi, Profesro Ruden yang sudah terbebebas. Segera menghampiri Satria dan memarahi lelaki itu habis-habisan. Dihadapan Victoria yang merupakan ibu dari Satria.
"Kamu tahu? Apa yang baru saja kamu lakaukan itu sanagt berbahaya, Satria! kamu bisa membunuhku dengan perlahan!"
Victoria yang memperhatikan kemarahan dari Profesor Ruden pun, tidak bisa menahan dirinya lagi dan menanyakan. Kenapa, lelaki itu marah-marah kepada Satria.
"Prof, ada apa ini?"
Profesro Ruden pun menjelaskan semuanya, dari Satria yang menguncapkan sebuah mantera dan membuat tubuhnya terkunci seketika.
__ADS_1
Hingga, ia merasakan seluruh tubuhnya yang membeku. Untung saja ada Victoria yang bisa mepaskannya. Jika, tidak. Profesor Ruden hanya akan tinggal nama saja.
Sedangkan Satria yang merasa bersalah, karena telah membuat ulah. Kini hanya bisa diam dan merundukan kepalanya. Dia tidak bisa menatap wajah sang ibu, yang sudah dipastikan akan marah besar kepadanya.
"Mantera apa yang dia ucapan, Prof?" tanya Victoria dengan penasaran.
"Aku tidak tahu! Bisa kamu tanyakan saja padanya!" balas Profesro Ruden dan pergi begitu saja. Dia benar-benar merasa kesal, hingga perlu mengistirahatkan tubuhnya. Agar, bisa sedikit rileks.
Setelah kepergian Profesor Ruden, kini hanya tinggal mereka berdua. Victroeia membuang nafasnya panjang, kemudian berusaha membuat Satria mau berbicara dan menajawab pertanyaan darinya.
"Mantera apa, yang kamu ucapkan untuk Profesor Ruden, Sat?"
Namun, Satria masih belum bergeming. Membuat Victoria harus sedikit mengeluarkan ancaman, agar mulut putranya itu mau terbuka dan mengatakan sesuatu.
"Kamu bukan anak kecil lagi! Bahkan, kamu sudah bisa menjaga dirimu sendiri! Jangan buat Ibu, mengulangi pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya! Karena ... Ibu lelah Sat, Ibu ingin kamu tubuh dan berkembang dengan baik di sini! Berusahalah lebih keras lagi! Jika, kamu tidak mau berbicara? Ibu harap ... ."
"Aku hanya mengucapakan mantera yang ayah tadi ucapkan dan ditunjukkan kepada Ibu, hanya itu saja."
Akhirnya, Satria mau berbicara. Setelah sang ibu, mengeluarkan kalimat-kalimat yang menyedihkan.
"Ulangi ucapanmu!" pinta Victoria ingin memastikan dengan jelas. Jika, apa yang baru saja di dengar olehnya bukan hanya guyonan semata.
"Aku hanya mengulangi, kalimat yang ayah katakan. Aku juga tidak yakin, jika itu mantra atau bukan! Makanya, aku tidak berani menyimpulkan," balas Satria dengan nafas yang memburu. Entah mengapa dirinya seolah tengah dipacu oleh waktu dan ingin seegra mengakhiri pembicaraann ini.
Victoria yang mendengar pengakuan Satria tersbeut, dibuat takjub. Dia tidak menyangka, jika putranya bisa belajar dengan begitu cepat.
Bahkan, hanya dengan mendengarkan saja. Dia bisa menirukannya dengan baik. Ditambah, berhasil menguasai mantra tersebut dengan singkat.
Namun, tidak bisa dipungkiri, Bahawa, Satria masih belum bisa mengawal apa yang diucapkan olehnya. Karena, keraguan yang sangat namapk dari wajah lelaki itu.
"Besok! Besok Ibu akan ajarkan semuanya! Mana yang mantra dan mana yang bukan!" terang Victoria dengan raut wajah serius. Ini merupakan saatnya, dimana dia harus menggembleng Satria untuk menjadi seroang kesatria dari keluarga Lubis.
"Apakah Ibu bisa melakukannya?" tanya Satria yang ragu. Namun, tidak di mata Victoria yang merasa di remehkan oleh putranya sendiri.
"Evalus!" teriak Victoria dengan keras.
__ADS_1
"Ibu!"