Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 109


__ADS_3

"Jangan legah!" Terdengar suara teriakan yang begitu keras berasal dari sebelah selatan. Ternyata itu alice yang datang besama Lubis, membuat Satria bisa bernafas lega dan menghadang Key.


Pertarungan diatara keduanya berlangsung dengan sengit, begitu pun dengan Alice yang harus menggagalkan ritual para Hunter.


Alice merupakan seorang wanita yang cerdik dan memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berperang serta menghadapi peperangan.


Alice sudah ditempa sejak kecil, sehingga mampu mengambil sebuah keputusan dengan cepat dan tepat.


"Lubis! Semburkan energimu!" perintah Alice seraya menghunuskan pedang Brongsinya yang bisa berubah menjadi makluk yang memiliki kemampuan setara dengan seroang jendral perang.


Bahkan, Brongsi merupakan rekarnasi dari Jendral keluarga Cooper yang gugur di medan perang dan manjadi pedang yang amat hebat.


Lubis menyemburkan racun miliknya, tubuh bocah itu yang seperti ular membuatnya dengan mudah menyelinap masuk ke air dan menghentikan ritual dengan kemampuan yang dimiliki olehnya.


Air yang sebelumnya para menjulang tinggi seperti air pancuran, kini lenyap seketika. Ritual telah gagal dan membuat para Hunter tidak bisa meneruskannya lagi membuat mereka memilih menyerang Lubis.


Lubis berhasil mereka tangkap dan Hunter itu pun langsung berlari menjauh, sedangkan temannya menghadang Alice dan Brongsi.


Kekuatan Hunter melemah, akibat ritual yang telah memakan banyak sekali energi membuat mereka terdesak.


Sedangkan Satria yang berhasil mengalahkan Lilly ikut membantu Alice, hingga para Hunter berhasil mereka hapuskan dari dunia ini.


"Sat! Lubis! Lubis dibawa Hunter!" pekik Alice.


Satria yang mendengar hal itu sontak saja ingin langsung mengejar Hunter yang membawa Lubis, namun sayang Hunter itu telah pergi jauh.


Satria berteriak memanggil-manggil nama sang putra, Victoria melihat keadaan Satria yang demikian hanya bisa terpaku di tempat.


Apa yang terjadi saat ini, bukan seberanya kesalahannya. Semua diluar batas kemampuan mereka, tapi Victoria yakin. Kalau Lubis akan baik-baik saja.


Selama bersama dengan Lubis, Victoria telah melihat kemampuan bocah itu amat luar biasa. Bahkan melebih Satria ketika dulu, Victoria menaruh harapan besar kepada Lubis dibandingkan dengan Satria.


"Hentikan teriakanmu! Itu hanya akan memanggil musuh untuk datang ke sini!" Victoria mengingatkan Satria, bahwa mereka masih berada di area kawan musuh. Bisa saja, pasukan Hunter yang lain datang.


Alice amat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Victoria dan meminta kepada Satria untuk tenang, lalu menyusun kembali rencana untuk menyelamatkan Lubis.

__ADS_1


Satria terdiam sejenak, mencerna masukan serta nasehat dari ibunya dan Alice. Kemudian ia bangun dan mulai bergerak kembali.


Meratapi sesuatu memang tidak akan mendatangkan aappun, kecuali perasaan sakit yang amat. Namun, kembali berfikir otimis dan merajut asa untuk mencari jalan keluar. Mungkin itu yang paling benar untuk saat ini.


"Sat! Tunggu!" teriak Victoria yang tertinggal. Ditambah Alice yang telah melaju dengan tunggangannya.


Satria menghentikan langkahnya dan berbalik, ia tersenyum melihat sang ibu yang kelelahan berlari menggunakan kaki-kaki kecilnya itu.


Tanpa banyak berbicara, Satria meletakan tanagnnya di bawah dan agar Victoria bisa naik. Hal yang sama Put lakukan kepadanya, dulu. Memiliki tubuh yang kecil dan lemah membuat Satria kesulitan untuk menjalani kehidupan di dunia Albiru yang banyak dihuni oleh makhluk berukuran raksasa.


"Sat, maafkan Ibu. Mungkin, karena rencana kita diluar ekspektasi ... membuat Lubis tertangkap," jelas Victoria mencoba menjelaskan isi hatinya kepada Satria.


"Gak masalah, Bu. Aku yang seharusnya mengenal Lubis lebih dan mampu menahan diri," kata Satria dengan tatapan lurus ke depan.


Satu hal yang Satria lupakan dari Lubis, bahwa putranya merupakan makhluk yang luar bisa. Bahkan memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh mahluk yang lainnya.


Victoria masih diselimuti oleh rasa penasaran, hingga ia menanyakan tentang dua Blogger yang meneyrang Satria sebelumnya.


"Sat, apakah para Blogger ingin melakukan konspirasi kepada Hunter?"


"Mereka bukan Blogger asli, Bu. Mereka bangsa siluman ular dan Lilly adalah ibunya Lubis," jelas Satria kemudian.


Bahkan Satria lupa memebritahukan kepada Lilly, kalau Lubis bersamanya. Memikirkan hal itu membuat Satria mendesah berat, pertarungan dan perang yang mereka lakukan hanya akan melahirkan sebuah rasa benci serta sakit.


Apakah Satria bisa menghentikan semua bencana yang terjadi? Tentu saja jawabannya, tidak! Sebab, dirinya kiti bukan lagi seroang Dewa dan memiliki keterbatasan dari banyak hal.


"Jadi, Lilly itu siluman ular?" tanya Victoria sedikit terkejut. Sebab, melihat perubahan seorang siluman ular menjadi Blogger. Apalagi dengan perubahan Satria saat ini saja dirinya masih belum percaya.


Hingga muncul di dalam benaknya sebuah ide gila, ia memikirkan bagaimana kalau dirinya bisa berubah menjadi Blogegr dan memiliki kekautan yang luar bisa?


Bisa-bisa melampaui Alice, Victoria merasa iri dengan kemampuan Alice dalam pertarungan yang bisa melumpuhkan banyak lawannya.


Sedangkan Victoria selalu saja mendapatkan posisi tersudutkan dan harus diselamatkan oleh yang lain, namun besa halnya. Kalau dirinya bisa berubah menjadi Blogger seperti Satria saat ini yang memiliki andil besar dalam kemenangan mereka melawan para Hunter.


Di saat Victoria tengah memikirkan sebuah rencana, tiba-tiba saja berhenti dan memintanya untuk turun. Sontak saja Victoria terkejut akan hal itu dan melihat keadaan sekitar, ternyata mereka sudah sampai di rumah.

__ADS_1


"Sebaiknya Ibu segera beristirahat dan memulihkan tenaga," pesan Satria seraya berlalu menuju halaman belakang.


Dengan tubuhnya saat ini membuat Satria harus tidur beralaskan tanah dan berhatapkan langit, tidak mungkin dirinya bisa meraskan empuk dan hangatnya ranjang kembali.


"Sat, terimakasih," kata Victoria seraya menatap punggung Satria.


Andiakan Victoria bisa merasakan apa yang saat ini tengah Satria rasakan, mungkin saja wanita itu akan menarik keinginan untuk menjadi Blogger.


Di saat Victoria menginginkan hal itu, di saat itulah Satria tengah berbaring dengan menatap langit. Semuanya memang mudah untuk ia kerjakan dengan tubuh seorang Blogger, bisa berpergian dengan cepat dan bisa membantu banyak orang.


Namun, di dalam hatinya amat sepi. Tidak ada cinta dan kasih sayang, bahkan orang-orang merasa takut ketika bertemu dengannya.


"Put!" pekik Satria yang teringat kepada Put. Kini hanya Put yang bisa membantunya, walaupun rasa jijik karena Put sempat berhubungan dengan Ruu tidak akan pernah hilang.


Namun, Satria memerlukan kemampuan Put untuk melancarkan rencananya. Demi suatu tujuan, Satria mau dekat dengan Put. kalau bisa menjeratnya agar tidak pergi menjauh, Satria pun mencari keberadaan Alice.


"Alice! Alice!" Berkali-kali Satria memanggil nama Alice, tapi wanita itu tidak muncul juga. Sampai tidak sengaja Satria bertemu dengan Jennifer yang tengah mengobati kadal perliharaan mereka.


"Bu, di mana Alice?" tanya Satria kepada Jennifer yang menatap ke arahnya heran.


"Alice? Apakah dia tidak memberitahukan kepergiannya?" Jennifer malah berbalik bertanya dan membuat Satria semakin bingung dengan apa yang akan di lakukan oleh Alice.


"Pergi? Ke mana?" tanya Satria peasaran.


Kemudian Jennifer menjelaskan bahwa Alice berpamitan akan menuju ke dunia Albiru, namun tidak menjelaskan ingin melakukan apa ke sana.


Sontak saja Satria yang mendengar hal itu menahan amarahnya, bukan karena Alice ke dunia Albiru. Namun, Alice tidak memebritahunya. Padahal, Alice ia perintahkan untuk merawat Put yang terluka.


Jennifer yang melihat perubahan Satria yang dratis hanya mengira, kalau Satria tengah kelelahan di tambah malam yang sudah hampir habis.


"Sebaiknya kamu beristirahat dulu, tidak laam lagi akan siang," jelas Jennifer menasehati.


Satria hanya mengangguk kecil dan berlalu, tanpa Jennifer ketahui apa yang ada di benak Satria. Jennifer masih sibuk membantu beberapa binatang yang terluka ketika ikut berperang.


Perperangan harus seegra dihentikan, sebelum memakan banyak korban. Hanya itu tujuan dari mereka, walaupun dengan cara yang berbeda.

__ADS_1


"Alice! Tunggu kau!" batin Satria.


__ADS_2