
Beberapa tahun kemudian.
Satria memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, selain cepat dalam mempelajari semua hal yang telah di ajarkan oleh Victoria dan Profesor Ruden.
Lelaki yang memiliki postur badan yang tinggi besar dengan kulit yang putih–bersih, ditambah bola matanya yang biru. Menambah, kesan tampan dan gagah dari lelaki itu.
Sang ibu yang merupakan bubu dari keluarga Cooper ikut andil besar, dalam perkemabangan Satria. Wanita itu juga, mengajari Satria beberapa mantra yang biasa digunakan ketika keadaan yang darurat.
Profesor Ruden juga mengajari Satria, ilmu ilmiah dan cara meracik ramuan. Serta, beberapa resep obat penawar racun.
Sekarang, Satria sangat berubah dari sebelumnya. Ketika, pertama kalinya datang dengan keadaaan yang tidak mengetahui apapun, sampai bisa menguasai berbagai hal di negara X.
Sama seperti saat ini, Satria tengah bermain pedang dengan sang ibu. Kemahirannya dalam memainkan benda tersebut, sudah mulai lincah.
Satria mengayunkan pedangnya dengan piawai, serta selalu tepat. Hal tersebut, merupakan hasil didikan dari sang ibu.
Prang
"Ibu kalah!" kata Satria setelah, membuat pedang sang ibu terlepas dari pengangannya dan kini ia mengarahkan pedangnya ke wajah wanita itu dengan sorot mata serius.
Victoria tersenyum dan ingin menyerang Satria kembali, namun pergerakannya telah di baca oleh sang putra.
Bruk
Satria menekan kaki sang ibu dengan kaki kirinya, kemudian tersneyum sinis.
"Jangan suka bermain kotor, Bu!"
Victoria pun tertawa lepas, setelah itu dia mengaku kalah. Agar, Satria mau melepaskannya.
"Hahahaha ... ."
"Baiklah, Ibu kalah!"
Prok
Prok
Suara tepuk tangan dari Profesor Ruden yang melihat pertarungan dari ibu dan anak itu pun, ikut merasa puas dengan kemampuan Satria yang semakin meningkat dengan cepat.
Terlebih dalam waktu yang, tergolong singkat. Satria yang merupakan keturunan dari Lubis, sudah mampu membuatnya terpukau.
"Vic! Kamu mempunya anak murid yang memang luar biasa!" puji Profesro Ruden. Seraya melambaikan tangannya, dia meminta Victoria dan Satria mendekat.
__ADS_1
Lelaki paruh paya itu, menawarkan sebuah minuman kepada Satria dan Victoria. Namun, Satria hanya memandang gelas yang sudah beralih tangan tersebut.
Ada keraguan, untuk meminum air yang berada di gelas tersebut. Hal itu dilihat dengan jelas oleh Profesor Ruden.
"Aku tidak sedang ingin mengerjaimu, hari ini!"
Satria tersenyum dan mengangguk kecil dan meminum air yang diberikan oleh Profesro Ruden, setelah mendengar penuturan lelaki itu.
Namun, setelah ia selesai minum. Tiba-tiba saja, Satria meraskan perasaan yang tidak nyaman.
"Prof! Anda mengerjaiku lagi!" teriak Satria yang merasakan seluruh tubuhnya yang terasa panas.
Bahkan, ia melepaskan seluruh pakaiannya yang tengah dikenakan. Kemudian, berlari ke luar. Meninggalkan Peofesro Ruden yang tertawa lepas.
Blur
Satria memilih terjun ke lautan, karena sangat merasa gerah. Dia mengumpat kesal, dengan kelakukan Profesor Ruden yang sudah dipastikan memberinya sebuah ramuan.
"Ugh ... Profesor!" gumam Satria setelah kepalanya kembali keluar dari dalam air.
"Bagaimana rasanya?" tanya Profesor Ruden, ketika Satria telah berenang ke tepi pantai.
Lelaki paruh baya itu sangat suka, mengerjai Satria. Lebih tepatnya, menjadikannya sebagia kelinci percobaan atas setiap penemuan lelaki itu.
Tubuh Satria terekspose dengan baik, badan yang etlatis dengan otot yang berisi penuh dan kekar. Menambah jiwa kesatria yang sangat kenatara, bahkan Profesor Ruden pun mengakui hal tersebut.
"Kamu sekarang, sudah bisa bernafas didalam air!"
Setelah mengatakan hal itu dengan dingin, Profesor Ruden pergi meninggalkan Satria. Ternyata ramuan yang sebelumnya diberikan oleh Profesro Ruden. Merupakan ramuan untuk bisa bernafas di dalam air, Satria yang diberitahukan. Segera kembali menyelam ke laut.
Ternyata benar, apa yang dikatakan oleh lelaki paruh baya itu. Satria bisa menarik nafasnya dengan leluasa. Tanpa merasa sesak, ataupumn takut kehabisan oksigen.
Setelah puas, bermain di laut. Satria kembali ke tepi pantai dan bergegas menuju kastil. Dia merasa kemampuannya juga sudah cukup memadai.
Satria masih berharap bisa kembali ke dunia Albiru, tetapi ia juga masih menunggu kedatangan ayahnya. Sebab, setelah kejadian beberapa tahun lalu.
Penus tidak pernah datang menemuinya, padahal Satria sangat berharap. Agar lelaki itu datang dan mau menjelaskan semuanya. Tentang keluarga Lubis.
Terlebih, Satria tidak pernah melihat Alice ke kastril. Seolah memang ada yang tengah terjadi, tanpa sepengetahuannya.
Padahal, dirinya sudah merusaha menyelidikii semua itu. Namun, nihil. Satria tidak bisa medapatkan apapun. Kecuali, sebuah tanda tanya besar di dalam benaknya.
"Ibu!" panggil Satria. Ketika melihat wanita itu yang tengah berjalan menuju sebuah ruangan.
__ADS_1
Victoria yang sebelumnya sudah memengang kenopi pintu, menydennafgr suara Satria mengurungkan niatnya dan menatap sang putra.
"Apa aku sudah boleh keluar dari kastil ini?" tanya Satria penuh harapan. Dia sudah lama di kurung, tentu saja. Satria merasa bosan dan ingin menghirup udara luar.
"Kamu baru saja keluar," jawab Victortia dengan dingin dan memilih masuk ke sebuah ruangan.
Satria mengendus nafas kasar, terkadang dia bingung dengan sikap ibunya atupun Profesro Ruden yang terlihat aneh.
Terkadang kedua orang itu, terlihat ramah dan bersahaja. Namun, tanpa adanya alasan yang jelas tiba-tiba saja. Berubah menjadi dingin dan terkesan sinis, membuat Satria tidak bisa menebak. Apa yang ada di dalam benak mereka.
Karena, tidak mendaptkan izin. Satria memilih kembali ke kamarnya, untuk mengganti pakaian. Padahal, bisa saja Satria menyelinap dan pergi dari kastil tersebut.
Namun, ia tidak mau melakukan hal tersebut. Karena, menghargai semua jasa Profesor Ruden dan ibunya yang sudah banyak mengajari berbagai hal.
Ketika, Satria tengah berganti pakaian. Tiba-tiba saja, datang sebuah angin yang sangat kencan. Menerapkan tubuhnya, membuat Satria terkesiap.
"Ini!" gumam Satria yang merasakan sebuah energi yang sangat kuat. Sedang terpusat pada suatu tempat, namun ia tidak yakin tentang apa yang tengah dirasakan tersbeut.
Satria pun mempercepat gerak tangannya dan segera berlalu keluar dari kamarnya. Dia mencari keberadaan Profesor Ruden atau sang ibu.
"Ibu!"
"Prof!"
Berkali-kali Satria berteriak, tetapi tidak ada jawaban. Sampai sebuah pintu terbuka lebar dan membuat Satria menjadi penasaran.
Ada cahaya yang sangat terang terdapat di dalam ruang tersebut, Bahkan mata Satria yang terkena cahayanya sampai menjadi silau.
Satria menggunakan kedua tanganya, untuk mengahalangi cahaya tersebut. Hingga, sebuah teriakan seseorang yang memanggil namanya. Membuat Satria membuka matanya dengan perlahan.
"Satria!"
"Satria!"
Ketika, mata Satria sudah mulai terbuka dengan perlahan. Dia sudah berpindah tempat, ternyata cahaya tadi. Merupakan pembuka sebuah portal, kedunia lain.
Namun, naasnya. Satria berada di dalam keadaan yang sangat sulit. Membuat dirinya belum siap, dan tiba-tiba saja. Sebuah anak panah terbang dan menuju ke arahnya.
"Satria!"
Terdengar lagi, suara terikan seseorang. Satria menatap anak panah tersebut dengan nanar.
"Aku belum siap untuk mati!"
__ADS_1