
Untuk mengetahui, isi hati di dalam setiap orang. Dimana, mereka akan berubah sesuai dengan isi hati mereka. Jika, ada kesombongan dan keangkuhan di dalamnya. Maka, akan menjadi raksasa.
Namun, jika di dalam hati ada kerendahan dan sikap santun. Maka, tidak akan terjadi apapun. Satria yang mendengar hal tersebut tersenyum lebar dan mengangguk kecil. Tanda paham, akan apa yang disampaikan oleh Sis.
"Tapi, aku bukan orang yang baik, Bu Sis. Put saja sempai membenciku," terang Satria dengan sorot mata sedih.
Put yang mendengar, penuturan Satria menyeringai.
"Karena kamu jahat! Makanya, aku benci!"
"Kenapa, kamu berbicara seperti itu?" tanya Sis penasaran.
Put pun menjelaskan, jika Satria meninggalkannya. Ketika, mereka mandi di sungai. Hal itu, membuat Put merasa bersalah dalam waktu yang lama dan terus mencari keberadaannya. Tetapi, tidak ada petunjuk sama sekali. Seolah, Satria hilang bagai di telan bumi.
"Aku minta maaf, Put. Aku dibawa oleh Dewi Haruna saat itu," jelas Satria.
Raut wajah Put memerah padam, setelah mendengar apa yang Satria baru katakan. Dia cemburu ditambah dirinya yang sudah zing dengan Satria, tetapi lelaki itu seolah tidak perduli.
Put pun memilih untuk jalan duluan dan minggalkan Sis dan Satria. Dia merasa sangat kesal dengan sikap Satria yang masih belum memahami perasaannya selama ini.
Ketika, Put yang merajuk dan telah menjauh. Namun, tidak ditanggapi dengan serius oleh Sis dan Satria. Hingga, Satria teringat akan Bob.
"Bu Sis, dimana Ayah Bob?" tanya Satria pelan. Padahal, dia sudah tahu keadaan Bob yang sudah tewas. Setelah, bertarung dengan para Hunter.
Terdengar suara deru nafas berat dari Sis, Satria juga merasakan. Jika, ada beban yang sangat berat yang kini dipikul oleh Blogger yang berada di sampingnya itu.
"Entah darimana aku akan memulainya? Kaum Blogger sekarang, semakin menurun. Apalagi, telur-telur kami banyak di buru. Hal itu, membuat kami tidak bisa beranak pinak dengan baik."
Satria tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Sis, sebab ia baru mengetahui. Jika, Blogger bertelur. Bukan melahirkan, tentu saja hal ini membuatnya tercengang dan bisa mengira. Bahwa, bola yang di bawa oleh Bob. Merupakan telur Blogger dan kini saatnya. Dia menyerahkan apa yang sudah menjadi milik Sis dan kaum Blogger.
"Sis, sebenarnya ... aku sudah bertemu dengan Bob. Ketika, kembali ke sini. Bob menyerahkan sebuah bola berwarna biru kepadaku dan ... ."
"Dimana dia sekarang?" tanya Sis memotong ucapan Satria yang belum selesai. Dia buru-buru menurunkan Satria dan menatap dengan sorot mata penuh harapan.
Satria paham, apa yang Sis inginkan dan segera mengeluarkan sebuah bola berwarna biru yang disimpannya di dalam tas yang sedari awal di sikut. Tas yang diambil Satria dari tangan Bob, yang ternyata berisi telur Blogger.
Sis menerima telur tersebut, air matanya sampai menetes. Dia menatap ke arah Satria dengan perasaan haru, sebab kaum Blogger bisa di selamatkan dengan telur tersebut.
Ditengah haru–biru perasaan Sis, terdengar teriakan Put dari kejauhan. Membuat mereka segera menghampiri Put dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
"Aw! Apa mau kalian!" teriak Put dengan garang.
Beberapa Hunter datang, entah darimana. Langsung menyerang Put, dia melawan dengan kemampuan yang dimiliki dan berhasil menahan para Hunter.
Hingga, Sis datang bersama dengan Satria. Raut wajah Hunter semakin garang, sampai salah satu Hunter menunjuk ke arah Satria dengan mata yang memerah. Menahan amarah di dalam dada.
"Itu dia! Serahkan mahkluk kecil itu! Maka ... kami akan melepaskan kalian untuk sementara," katanya dengan senyuman yang menyeringai. Seperti, setan yang memancarkan seribu cara untuk menyesatkan manusia.
Satria menatap heran ke arah Hunter yang berbicara tersebut, sebab ia sudah melumpuhkannya. Namun, Hunter itu masih hidup, tentu saja. Satria merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Apa yang kalian inginkan!" teriak Put dengan garang dan bersiap-siap. Jika, para Hunter tersebut menyerangnya.
"Hahaha ... bodoh!"
Mereka tertawa mengejek Put dan mengatakan hal yang tidak pantas, membuat Put marah dan langsung menyerang. Tanpa berpikir panjang.
Bruk
"Aaa ... ."
Bruk
Terjadi pertarungan antara Hunter dan Put, namun jumlah para Hunter yang banyak. Sekitar tiga orang, sedangkan Put hanya sendiri. Tentu saja, dirinya kalah jumlah.
Satria yang juga melihat hal tersebut, menjadi geram dan naik pitam. Dia tidak tahan lagi, atau menunda. Hingga, dia meloncat dari tubuh Sis dan langsung menyerang.
Satt
Sutt
"Evalus!"
Parrr
Satu persatu Hunter tumbang, dengan mantra yang Satria ucapakan. Kecuali, satu Hunter yang masih bertahan.
"Cih! Mantramu tidak bisa berguna kepadaku!" kata Hunter tersebut dengan sisa tenaganya. Dia berdiri dan menatap tajam ke arah Satria.
"Siapa dirimu?" tanya Satria dengan tenang dan terus mendekati Hunter itu.
__ADS_1
"H! Hunter H!" jawabnya dengan suara yang keras.
"Tidak mungkin," gumam Sis. Matanya terbelalak dan segera tersadar, ketika Satria sudah berada dekat dengan Hunter tersebut.
"Satria! Dia putra Dewi Haruna!" teriak Sis. Memberitahukan, siapa Hunter H. Dia tidak menyangka. Jika, bisa berhadapan dengan putra Dewi Haruna yang sudah banyak berita burung mengatakan.
Bahwa, Hunter H. Merupakan sebuah kesalahan dan membuat Dewi Haruna menerima hukuman yang sangat berat, yaitu di buang ke dunia manusia.
Kaki Satria berhenti sejenak, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Sis. Dia menatap Hunter H yang juga membalas tatapannya, tiba-tiba saja.
Bruk
"Mati kau!" teriak Put dengan senyum penuh kemenangan.
Disaat Satria tengah berbicara dengan Hunter H, diam-diam Put mendekat dan menghunuskan sebuah senjata miliknya. Lalu, menusuk jantung Hunter H dari arah belakang.
Sebuah benda seperti jarum besar, kini tertancam di punggung Hunter H tersebut. Hingga, darah segar menyembur seketika. Satria yang berada di hadapan Hunter itu pun tidak bisa mengelak.
Sutt
"H!" teriak Satria dengan putus asa. Melihat ke adaan Hunter H yang baru diketahui putra Dewi Haruna, yang berarti juga putranya.
"Aku belum mati!" teriak Hunter H dan berusaha untuk bangun kembali. Namun, semakin ia berusaha. Semakin tubuhnya menjadi lemas dan penglihatannya menjadi kabur.
Bruk
Suara tubuhnya terjatuh seketika, bagaikan gempa bumi. Tanah yang dipijak bergetar, karenanya. Put langsung mengambil kesempatan emas ini. Dia tidak akan melepaskan Hunter tersebut.
Plas
Blus
Suara senjata milik Put yang ditancapkannya berulang-ulang kali, ketubuh H. Membuat Satria yang melihat semua itu, naik pitam. Darahnya mendidih seketika, melihat kebrutalan kepada putranya.
"Put! Hentikan!" teriak Satria.
Namun, seolah tuli. Put tidak menggubrisnya dan masih melepaskan kekesalan dengan membabi–buta menyerang Hunter H. Hingga, tidak ada pergerakan lagi.
Hunter itu mati ditangan Put, ketika Put telah merasa puas. Dia bangun dan mendapati Satria yang berada di hadapan dengan mata yang nyalang.
__ADS_1
"Evalus!"
"Apa yang kau lakukan?"