
"Alice, apakah? Kau ... tidak mengenaliku?" tanya Satria dengan lirih. Di sorot mata Alice hanya ada sebuah kebencian dan rasa dendam yang begitu besar.
Namun, seakan tidak mendengarkan apa yang Satria ucapkan Alice kembali menyerang. Kali ini dengan lebih agresif dari sebelumnya sampai Jennifer yang melihat semuanya berteriak.
"Alice!"
Alice menatap ke arah suara dan melihat sang ibu yang berada di atas pohon dengan tatapan mata yang sendu, hal itu membuat Alice menghentikan serangannya.
Alice memperhatikan Makluk besar di depannya, terlalu banyak hal yang terjadi selama ini dan membuat perasaan Alice menjadi lelah. Bahkan, sulit untuk berfikir jernih lagi.
"Satria," gumam Alice yang mengamati wajah Blogger yang baru saja ia serang begitu mirip dengan Satria.
Kini Alice mengerti dengan pertanyaan yang sebelumnya, dengan perasaan bersalah Alice mendekati Satria dan meminta maaf.
Alice benar-benar tidak mengenali wujud baru dari Satria, Alice begitu berambisi untuk segera menyelesaikan semua musibah yang terjadi.
Tidak ada yang menginginkan dunia nyata yang dipenuhi oleh para Makhluk Metalogi dan para Hunter yang begitu meresahkan.
Mereka bahkan menyerang para Manusia dan menimbulkan kerusakan di mana-mana, membuat Alice dan anggotan keluarga Cooper lainnya kewalahan.
Satria duduk dan meminta Alice untuk naik ke atas tangannya, kini Satria bisa merasakan apa yang dulu Put rasakan.
Dulu Satria sering sekali naik ke atas tangan Put dan di ajak jalan-jalan seperti binatang peliharaan, bahkan Put sering membantunya dan memberi makan.
"Alice, aku yang minta maaf. Sebab, pergi begitu saja. Padahal, kamu di sini begitu kesulitan dan banyak sekali hal yang harus kamu lewati seroang diri," kata Satria merasa menyesal.
Padahal niat awalnya ingin membantu Alice, tapi malahan tersesat kembali ke dunia Albiru dengan rencana lain dan berakhir dengan perubahan dirinya yang menjadi seroang Blogger.
Alice hanya tersenyum dan menggeleng kepala kecil, lalu menanyakan tentang keadaan Satria sekarang. Kenapa bisa berubah menjadi seorang Blogger.
"Sebaiknya kita pulang dulu, di sini tidak aman," ajak Satria yang sebenarnya ingin menghindari pembicaraan tersebut.
__ADS_1
Satria mengangkat tubuh Alice dengan mudahnya dan menghampiri Jennifer yang baru saja turun dari atas pohon, mereka berjalan menuju rumah keluarga Cooper.
Satria meletakan Alice dan Jennifer di atas bahunya seraya melangkah dengan langkah yang begitu besar dan membuat mereka sampai dnegan begitu cepat.
Kini keadaan rumah begitu sepi, banyak prajurit yang gugur dan menyisakan beberapa keluarga Cooper saja, Satria merasa begitu sedih akan hal itu.
"Apa rencana kalian untuk menciprtakan kedamaian di dunia nyata ini?" tanya Satria ketika mereka sudah berada di halaman rumah.
Karena ukuran tubuh Satria yang sekarang membuatnya sulit untuk masuk ke rumah dan memilih berada di halaman belakangan yang sering di gunakan untuk berlatih.
"Kita harus menghabisi para Hunter dan Makhluk lainnya, sebab ... mereka semakin beringat saat ini," jelas Alice menyapaikan informasi yang terjadi di lapangan.
Satria mengusap dagunya pelan seraya berfikir, ia teringat dengan sekelompok Blogger yang pernah diselamatkan olehnya. Di mana para Blogger itu hanya ingin pulang dna tidak ingin berperang.
Namun, Satria tidak mengetahui tentang para Hunter dan beberapa Makhluk lainnya. Entah apa tujuan mereka dan kenapa menjadi beringas.
"Kamu bisa menafsirkan berapa jumlah para Hunter dan Mahkluk metalogi lainnya?" tanya Satria ingin memastikan sebuah ansumsinya.
Satria yang mendengar hal itu pun bisa mengambil satu kesimpulan, bahwa para Hunter memang ingin melakukan penyerangan dengan skala terus-menerus dan membuat mereka semakin terdesak.
Dari segi kekuatan para Hunter akan menang telak kalau dibandingkan dengan Manusia, tubuh mereka begitu besar dan memiliki tenaga lebih. Berbeda dengan Manusia yang memiliki batasan.
"Apakah ada portal yang mereka gunakan untuk masuk ke dunia ini?" tanya Satria.
Alice menatap ke arah Jennifer yang hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, membuat Alice mendesah berat.
Satria melihat perbuahan di wajah Alice kembali bertanya ada masalah apa yang tengah mereka hadapi.
"Kami tidak bisa menemukan portal itu, padahal ... kita bisa menutupnya dan membuat para Hunter tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan energi," jelas Alice dengan serius.
Kelemahan para Hunter terdapat pada kemampuan mereka yang tidak bisa sembuh ketika terluka, kecuali kembali ke dunia Albiru.
__ADS_1
Satria yang beru mengetahui hal itu nampak begitu terkejut, sebab seakan ada seseorang yang menghasut para Hunter untuk terus melakukan serangan. Padahal, mereka bisa tinggal di dunia Albiru dengan tenang.
Memikirkan sederet nama yang berkemungkinan besar menjadi dalang akan serangan para Hunter, membuat Satria begitu mencurgai Ruu. Sebab, hanya Ruu yang memiliki akses yang begitu luas tentang dunia.
"Kalau begitu, kita harus mengirim seseorang untuk masuk ke tempat persembunyian para Hunter dan mencari koordinat portal itu dan menutupnya," jelas Satria penuh akan keyakinan, bahwa rencananya akan berhasil.
Namun, tidak semudah yang Satria pikirkan. Para Hunter begitu cerdik dan berbahaya, Alice sudah mengirim beberapa orang untuk melakukan pengintaian. Tapi, tidak pernah ada yang kembali setelah pegi.
Satria tidak menyangka sama sekali dengan apa yang telah terjadi, padahal dirinya hanya pergi beberapa hari saja. Tapi, telah banyak yang terjadi.
"Lalu, kita memerlukan seseorang yang gesit dan bisa berkamuflase," jelas Satria.
"Tapi ... kita tidak memiliki orang seperti itu!" balas Alice seraya menjambak rambutnya karena frustrasi.
Namun, tiba-tiba saja seseorang datang dan bertepuk tangan membuat perhatian mereka teralihkan. Bahkan mata Satria menatap nanar orang yang selama ini dicari olehnya.
"Ibu," panggil Satria pelan dan membuat wanita itu membalas tatapannya.
"Siapa dia?" tanya Victoria seraya menatap Blogger yang begitu mirip dengan wajah Satria. Sampai Jennifer menjelaskan semuanya kepada Victoria dan membuat wanita itu mengangguk-angguk.
"Ke mana saja Ibu selama ini?" tanya Satria penasaran, terlebih Victoria saat ini tidak bersama dengan Lubis.
Victoria pun mulai menjelaskan apa yang selama ini ia lakukan, sebenarnya Victoria tidak melarikan diri atau menghindari masalah yang terjadi. Namun, Victoria tengah menyelidiki para Hunter ditemani oleh Lubis.
"Apa! Ibu membawa Lubis?" geram Satria kesal dengan tindakan sang ibu yang begitu sembrono. Ingin sekali Satria melenyapkan sang ibu saat ini juga, kalau tidak menginginkan informasi yang dimiliki oleh Victoria saat ini.
"Memang kenapa dengan Lubis? Dia hebat dan berbakat secara alami, terlebih ... Lubis bisa berubah," jelas Victoria membanggakan Lubis dan menambah kekesalan Satria semakin menjadi.
"Ibu!" pekik Satria tidak tertahankan sampai suara Lubis terdengar memanggil Victoria.
"Ibu, misi apa yang akan kita jalankan?"
__ADS_1