
"Kembali lah ke neraka!" teriak Satria dengan nyaring dan mengarahkan kekuatan penuhnya ke arah Dewa Ketua.
"Aaa ... ."
Serangan tersebut, membuat Dewa Ketua terpental dengan sangat jauh.
"Hentikan!"
Tubuh Satria membeku seketika, ketika bola matanya melihat seorang wanita yang berteriak. Sorot mata, gerak bibir dan tubuh itu. Membuat Satria tidak bisa bergerak, seolah mantra Evalus telah terkena kepadanya.
Langkah kaki wanita itu yang semakin mendekat, menambah argenalir di dalam darah Satria terpompa dengan cukup deras.
Bahkan jantungnya berdetak semakin cepat, seolah terpacu oleh derap langkah wanita itu. Satria benar-benar tidak menyangka, dirinya bisa selemah ini.
"Aku mohon, hentikan pertarungan ini."
Nada penuh permohonan yang diucapkan dari bibir manis itu, membuat hati Satria luluh–lantah. Disaat mereka saling berpandangan, tiba-tiba saja selibat cahaya datang dengan begitu cepatnya.
"Awas!" teriak Victoria dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Satria dari serangan Dewa Ketua.
"V!"
Penus yang melihat hal itu, berteriak dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Tubuhnya masih lemah, tidak berdaya. Setelah menerima serangan dari Dewa Ketua.
Sedangkan Satria, segera menangkap tubuh ibunya yang mulai melemah. Diterpa oleh kekuatan penuh yang Dewa Ketua berikan.
"Ibu," panggil Satria dengan nada pelan.
Tangan wanita itu menyentuh pipinya, Satria bisa merasakan sensasi aneh yang tiba-tiba saja menyeruak. Tetapi, dia coba abaikan.
Ternyata Victoria sengaja melakukan hal itu, dia ingin membuat Satria mengeluarkan kemampuan Heypersex milik sang putra dan membuat anak yang banyak untuknya.
Dewa Ketua datang dengan kecepatan penuh, ditengah keadaan Victoria dan Satria yang sama-sama terkejut dengan serangan mendadak tersebut.
"Awas!"
"Haruna!" teriak Satria dengan kuat. Bahkan, urat-urat dileher nampak timbul.
Seketika, tubuh wanita yang selama ini dia rindukan siang dan malam terkapar. Kali ini, serangan mutlak yang dilakukan oleh Dewa Ketua mengenai wanita yang dia cintai.
__ADS_1
Tangan Satria mengepal dengan kuat, dia tidak boleh memberikan kesempatan untuk Dewa Ketua dan harus membunuhnya.
Dengan perlahan, Satria meletakan tubuh ibunya yang telah tidak berdaya. Kini dia menatap lurus ke arah Dewa Ketua yang juga membalas tatapannya.
"Kamu memang harus mati!"
Satria langsung menyerang Dewa Ketua tanpa ampun, namun sayang. Kekuatan Dewa Ketua telah meningkat dari sebelumnya.
Tentu saja hal tersebut, membuat Satria merasa kewalahan dalam menghadapi dan menghindari. Setiap Serang yang dilakukan oleh Dewa Ketua, mereka saling bertarung dengan kekuatan penuh.
Dewa Ketua tidak main-main kali ini, dia tidak perduli lagi dengan pasukan Hunter nya yang telah tewas. Didalam benaknya hanya satu, yaitu kematian Satria.
"Apa kamu sudah merasa puas?" tanya Dewa Ketua yang berhasil menyudutkan Satria, sampai terbaring ke tanah.
Mereka bertarung menggunakan kekuatan Dewa, dimana hanya sihir dan mantra yang mengeluarkan cahaya. Serta energi yang diatur untuk dijadikan senjata.
Tidak perduli dengan rasa sakit yang berada didalam tubuh, karena serangan yang mereka lakukan sama-sama mematikan. Apalagi, sampai terkena mahkluk biasa.
Tentu saja akan menewaskan, tetapi tidak untuk para Dewa. Oleh sebab itu, yang bisa mengalahkan Dewa hanya Dewa juga.
"Kamu tidak akan pernah bisa menang! Kamu hanya manusia biasa!"
Namun, apa yang dia lakukan seolah sia-sia. Karena tidak terlalu berpengaruh kepada Dewa Ketua, berbeda dengan sebelumnya.
"Hahaha ... kamu tidak bisa mengalahkanku! Di dalam tubuh ini? Ada nyawa anak-anak yang kau tinggalkan!"
Aura Satria berubah menjadi gelap, entah sadar atau tidak apa yang baru saja diucapkan oleh Dewa Ketua. Membangkitkan, sisi lain dari dalam diri Satria.
Jati diri yang selama ini tersembunyi dan tidak terekspos, bahkan tidak Satria ketahui sama sekali. Jika dirinya, memiliki kekuatan yang sangat besar.
"Anak-anakku? Kamu bisa ambil dengan mudahnya?"
Dewa Ketua mudur sedikit, melihat keadaan Satria yang berubah. Dia pun memanggil bantuan, dengan cara menaburkan cahaya yang di miliki ke atas.
Dimana alam Nirwana, Dewa Ketua menyiapkan kejutan lain. Sebagai rencana cadangan, jika dirinya terdesak seperti sekarang.
"Turunlah, wahai anak-anakku."
Dewa Ketua mulai melakukan panggilan, apa yang diucapkannya menarik perhatian Satria. Anak-anak siapa yang dimaksud oleh Dewa Ketua? Kalau bukan, anak yang pernah dia berikan kepada Sis dan Put.
__ADS_1
Satria akan bertambah murka, jika dugaannya benar. Dewa Ketua menggunakan anak-anaknya, sebagai alat untuk menyerang dan senjata.
Hingga langit menjadi gelap seketika, ditutup oleh banyak sekali benda-benda yang terbang dan menutup awan.
"Tidak mungkin!" Satria berusaha untuk menolak apa yang dia lihat sekarang, tetapi semakin dirinya berusaha. Maka, semuanya semakin nyata.
Tawa jahat dari Dewa Ketua yang merasa akan menang dengan mudah, dia benar-benar Dewa yang sangat licik dan berbahaya.
"Serang!" perintah Dewa Ketua dengan penuh semangat.
Sedangkan Satria hanya bisa meneguk air liurnya yang terasa sangkut di tenggorokan. Melihat sebuah pasukan yang terbang di atas langit dan perlahan turun.
Hingga matanya tertuju, kepada seseorang yang mengenakan sebuah pakaian prajurit lengkap. Seolah, menunjukkan jika dirinya pemimpin pasukan itu.
"Put," gumam Satria tidak percaya.
Pasukan yang turun dari langit itu, merupakan anak-anak Satria yang diberikan kepada Put dan Sis. Mereka dibesarkan dan dididik langsung oleh Put, yang berada di bawah tekanan Dewa Ketua.
Apa yang diminta? Maka ada pula yang dikorbankan, Satria tahu betul akan cara Dewa menjebak setiap makhluk yang meminta sesuatu.
Namun, bukan hal itu yang membuat Satria merasa lemas. Melebihi mantra Evalus yang sering di gunakan, apa yang telah Dewa Ketua lakukan kepada Put dan anak-anaknya.
"Serang!" Suara Put menggelegar, dia memberikan perintah. Tentu saja, Satria tidak percaya dengan apa yang terjadi nantinya.
"Tidak mungkin!" Keadaan semakin pelik, bahkan Profesor Ruden yang mau tidak mau ikut berperang dan berada di pihak Satria. Karena tidak mungkin dia mau mati konyol, tanpa melakukan perlawan sama sekali.
Namun, kedatangan prajurit baru dari langit. Tentu saja membuat nyali siapapun menciut, begitu dengan Profesor Ruden. Ditambah, tinggal dirinya sendiri. Semuanya telah terbantai.
"Satria! Aku tidak tahu apa masalah yang tengah kalian hadapi! Tapi ... tolong selamatkan aku!" Suara penuh akan keputusan asaan, membuat Profesor Ruden mengatakan hal tersebut.
Dari segi manapun, mereka tidak akan bisa menang. Melawan prajurit yang berada di bawah pimpinan Put, mereka akan kalah telak.
"Perang telah di mulai!"
Terdengar suara seseorang dari sisi lain, menarik perhatian Satria dan Profesor Ruden. Siapa yang akan membantu mereka, kubu mana yang mau berjuang bersama dan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Semua pertanyaan itu, bagikan mimpi buruk yang mengahantui. Namun, ketika mereka melihat. Siapa yang memimpin pasukan yang baru saja datang itu, membuat nafas lega untuk keduanya.
"Akhirnya, aku pikir akan mati di sini," gumam Profesor Ruden.
__ADS_1
"Tidak untuk sekarang," balas Satria cepat. Membuat Profesor Ruden melongo.