Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 92


__ADS_3

"Maaf," ucap Satria dengan pelan dan kembali duduk, ia berusaha meredam keterkejutannya.


Kenapa harus Ruu? Tidak ada kah orang lain di dunia ini? Membuat Satria menjadi geram akan lelaki paruh baya yang ia kenal dengan panggilan Profesor Ruden.


Sialnya, lelaki yang begitu ia benci merupakan orang yang telah mengajarinya banyak hal. Apalagi tentang ilmu meracik ramuan dan beberapa mantra.


Key melihat perubahan Satria merajuk, ia masih geram akan sikap kasar Satria dan memilih untuk tidur. Gubuk itu terlalu besar dan ia tidak mengetahui selut–belutnya. Bisa-bisa dirinya tersesat.


Satria yang melihat Key beranjak hanya tersenyum, dengan nada mengejek. Menambah kekesalan Key semakin menjadi.


"Katakan! Di mana kamar tidurnya!" bentak Key marah, tapi memerlukan bantuan Satria.


Satria hanya menujuk sebuah pintu yang begitu besar dan masih tertutup, Key menuju ke pintu itu dan berusaha untuk membukanya. Namun nihil, ia tidak bisa.


Seakan Satria sengaja mengerjainya, membuat Key semakin marah dan kembali menemui lelaki yang masuk dalam kategori menyebalkan.


"Sat! Pintunya tidak bisa di buka!" jelas Key dengan nada tinggi.


Satria sama sekali tidak mengambil hati akan sikap kekanakan Key, dengan santainya ia bangun dan menuju ke arah pintu lain.


Key menjadi heran dan mengekor dari belakang, matanya terbelalak melihat Satria dengan mudahnya membuka pintu itu.


"Kenapa kamu tidak membuka pintu yang tadi!" pekik Key dengan menghentakkan kakinya kesal.


"Karena, pintu tadi terkunci," balas Satria dengan santai dan seegra masuk.


Di gubuk Blogger ini hanya ada dua kamar, satu milik Put dan yang satunya milik kedua orangtuanya. Hanya kamar Put yang tidak pernah di kunci, walaupun sampai saat ini Satria tidak mengetahui apa yang disemunyikan oleh Sis dan Bob di dalam kamar mereka.


Satria tidak tertarik sama sekali dan memilih untuk seegra beristirahat, Key masih membuntutinya dan ikut naik ke atas naskah yang berukuran begitu besar.


"Apakah ini rumah raksasa?" tanya Key yang merasa lelah harus naik ke atas naskah yang begitu tinggi dan besar.

__ADS_1


Andaikan ada cara untuk terbang? Maka, dirinya tidak akan keleleahan seperti ini.


"Sat!" panggil Key, karena Satria tidak menjawab pertanyaan.


Satria hanya menatap kearah Key sebentar dan terus memajat, hingga berhasil berada di atas. Tempat tidurnya masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah satupun.


Put membuatnya sebuah ranjang kecil dari kayu dan mengisinya dengan beberapa lembar kalin yang begitu halus. Tempat yang paling nyaman menurut Satria, bahkan ia ingin menjadikan ranjangnya tempat untuk bercinta.


"Huh! Menyebalkan!" keluh Key yang berhasil naik dengan nada penuh kekesalan.


Namun, setelah melihat keadaan di atas. Key bungkam seketika, matanya mengedar dan menatap satu–persatu benda yang ada di sana.


"Tempat apakah ini?" gumamnya takjub. Key tidak pernah melihat ranjang dan semua barang yang berukuran besar, walaupun di ruangan sebelumnya sama saja. Namun, di sini lain. Banyak sekali pahatan dan lukisan yang berbentuk serta bergambar Satria.


"Apa kamu pemilik kamar ini?" tuduh Key dengan melipast tangannya di dada, setelah merasa terkejut dengan semua hal yang ada di sana. Key semakin yakin, bahwa Satria pernah tinggal di tempat ini.


Lagi-lagi Satria mengabaikan pertanyaan Key, ia memilih untuk segera naik ke ranjangnya. Mencari posisi yang paling enak untuk memejamkan mata yang begitu lelah.


"Satria!" teriak Key.


"Kamu mau apa sih, Key?" tanya Satria dengan malas.


"Aku mau kamu menjelaskan semuanya! Tentang tempat ini dan juga dirimu!" jawab Key dengan raut wajah serius dan segera anik ke atas ranjang yang sama bersama Satria.


Seakan seperti anak kecil yang ingin tidur dan menunggu untuk didogengkan, Key menatuhkan tubuhnya denga nyaman seraya menunggu cerita dari Satria.


Awalnya Satria tidak ingin mengungkapkan jati dirinya, namun desakan Key dan ancamannya yang akan menanggung Satria sampai pagi membuatnya menyerah.


Tentu saja dengan sensor, Satria mulai menceritakan awal mulanya ia berada di dunia Albiru dan sampai bertemu dengan keluarga Blogger.


Siapa sangka, baru di beberapa episode cerita Satria. Key telah terlelap dengan dengkuran halus, tentu saja membuat Satria hanya bisa geleng-geleng kepala akan tingkah Key.

__ADS_1


"Dia benar-benar lucu," gumam Satria dan menatap dalam wajah Key yang terlelap dengan begitu damai.


Tiba-tiba saja, cairan bening jatuh tanpa bisa ia cegah. Wajah Key begitu mirip dengan Lilly, tidak ada perbedaannya sama sekali. Mereka benar-benar seperti pinang yang di belah dua.


Muncul perasan menyesal di dalam diri Satria, teringat dengan apa yang telah ia lakukan kepada Lilly. Gadis yang begitu polos dan mau melahirkan anaknya.


"Aku kenapa?" Satria bertanya-tanya dengan dirinya yang sekaan semakin jauh dari kata Manusiawi, padahal ia diajari oleh rasa saling menyayangi dan mengasihi.


Semuanya berawal dari dirinya menjadi seorang Dewa dan begitu diagung-agungkan, membuat Satria terlena dan lupa diri.


Namun, saat ini tidak banyak hal yang bisa ia lakukan. Kecuali menyusun sebuah rencana dan mencari tahu akan konflik yang tengah terjadi.


Ada atau tidaknya kekuatan Dewa, Satria telah bertekad untuk menggunakan kekuatan yang ia miliki sendiri. Setidaknya sampai ia bisa bertemu kembali dengan Haruna yang merupakan kunci dari dunia para Dewa.


"Haruna, tunggu pembalasanku," ucap Satria dengan geram seraya menegrtakan giginya.


Hus


Hus


Tiba-tiba saja datang sebuah angin yang bertiup cukup kencang membuat Satria merasa heran, sebab tidak ada cela di dalam kamar yang bisa di lewati oleh angin.


Sampai Satria melihat ada sekumpulan asab yang membentuk sebuah pola, kini berada di depan matanya. Karena penasaran, Satria pun turun dari ranjang dan ingin melihatnya secara dekat.


Seakan jantung Satria ingin melompat dari tempatnya berada, ia mematung seketika tidak percaya dengan apa yang ada didepan matanya.


"Hallo Satria, kenapa? Kaget?"


Satria seakan terhipnotis, ia segera mendekati sosok itu dan memeluknya erat. Seakan tidak ingin kehilangannya lagi, Satria merasa begitu bahagia setelah apa yang ia lewati beberapa hari terakhir.


"Hey! Lepaskan aku!"

__ADS_1


Satria tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh sosok itu, ia benar-benar merasa ada harapan untuk hidup di dunia Albiru. Walaupun menjadi seekor peliharaan sekali pun, tidak masalah baginya.


"Aku Zing! Benar-benar Zing!" jelas Satria.


__ADS_2