Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 38


__ADS_3

"Aku hanya meminta kekuatan yang tidak terbatas, untuk bisa menjaga orang-orang yang kusayangi," pinta Sis.


Kemudian, cahaya muncul dari tangan Satria dan memenuhi tubuh Sis. Cahaya itu, masuk kedalam tubuh Sis. Membuat wanita itu, memiliki kemampuan yang setara dengan Dewi.


"Terimakasih, Dewa Satria." Sis tersenyum dengan bahagia, begitu pun dengan Bob. Dia memeluk istrinya, sebagai bentuk kebahagiaan.


"Apa yang terjadi?" tanya Penus yang tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Namun, mereka tidak menggubris apa yang Penus katakan.


Sedangkan Satria, yang sudah bisa memastikan keadaan ibu dan anak yang dikandung oleh wanita itu aman. Dia meminta imbalan.


"Aku ingin, kekuatan Heypeesex yang kumiliki. Bisa dikendalikan, agar tidak ada anak yang terlahir dengan begitu saja."


Apa yang Satria minta, terjadi kenyataan. Ada cahaya dengan sinar kecil, seperti bola lampu yang masuk ke tubuhnya.


Kini, Satria bisa mengendalikan kemampuan Heypersex miliknya. Kepada siapa dan mau berapa banyak anak yang dia inginkan, kini berada di dalam kendalinya.


"Menjadi Dewa bukan sesuatu yang buruk, tapi ... ada sisi baiknya."


Satria sengaja mengatakan hal itu, menyindir sang ayah yang awalnya meremehkan dirinya. Dengan keadaan yang menjadi seorang Dewa.


Ketika Satria ingin berlalu bersama Bob, Penus menghadangnya dan berlutut. Meminta maaf, atas apa yang terjadi.


"Maafkan Ayah! Ayah memang bukan orang tua yang baik."


Didalam diri Satria, ada jiwa kepahlawanan. Dia mengangkat bahu ayahnya, meminta lelaki itu. Supaya bangun, lalu menjelaskan.


Jika, menjadi Dewa. Merupakan sesuatu hal yang tidak diinginkan olehnya, tetapi dengan menjadi Dewa. Satria hanya ingin bisa memperbaiki, semua hal yang salah dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Didalam diri Manusia, ada sesuatu yang salah dan terkadang. Membuat kesalahan, tetapi tidak bisa memperbaikinya.


Satria hanya ingin, menjadi jembatan yang membantu. Banyak Manusia lainnya, untuk bisa mendapatkan kesempatan kedua.


Penus yang mendengar, apa yang Satria jelaskan. Tanpa sadar, meneteskan air mata. Dia tidak menyangka, jika putranya banyak sekali berubah.


Walaupun, dibesarkan oleh orang tua yang tidak utuh dan harus hidup di tengah kesulitan ekonomi. Karena, dirinya hanya bekerja sebagi petani dan Victoria yang menjadi pembantu.


"Maafkan, Ayah," ucap Penus dengan nada pelan.


Sesal, tentu saja menghampirinya. Apa yang Satria katakan dengan kesempatan kedua, membuatnya menyadari satu hal.

__ADS_1


Kalau, dirinya harus membuat dan memberikan kesempatan kedua. Untuk orang lain, hingga Penus teringat akan Dewi Haruna.


"Satria! Apakah, kamu akan meneruskan perjalanan? Ke timur?" tanya Penus ingin memastikan.


Satria tersenyum kecil dan mengangguk, "Aku perlu mengetahui, asal diri. Sebelum, melangkah lebih jauh."


Penus terharu dengan jawaban yang Satria berikan, membuat keyakinannya menjadi teguh.


"Kalau begitu? Izinkan aku ikut denganmu, karena ... Dewi Haruna. Ingin, aku terus bersama denganmu," jelas Penus.


Satria agak terkejut, ketika ayahnya menyebut nama Dewi Haruna. Hal itu sudah menjelaskan, jika wanita yang tinggal dengan Penus waktu itu. Memang, Dewi Haruna.


Satria semakin bersemangat, untuk mengungkapkan. Semua kebenaran, yang masih tersembunyi. Berharap, apa yang dilakukannya ini. Bisa membawa kebaikan.


"Baiklah, ayo kita ke timur," ajak Satria.


Mereka bertiga mulai melakukan perjalanan, meninggalkan Sis dan Victoria. Karena, keadaan ibunya Satria tengah hamil.


Entah bagaimana hasilnya nanti, tetapi Sis akan terus mendampingi Victoria. Hingga, melahirkan telur dari Satria.


"Dewa Satria, apakah anda yakin? Jika, ibu anda akan baik-baik saja bersama Sis?"


Bob agak ragu, meninggalkan kedua wanita tersebut. Apalagi, dirinya baru saja bertemu dengan istrinya dan kini harus berpisah lagi.


Kini mereka telah melewati hutan-hutan yang lebat, mendaki sebuah gunung yang mulai terjal. Penus beberapakali, mengingatkan Bob. Agar berhati-hati, ketika berjalan.


Karena, gerak Bob yang masih belum terbiasa dengan tubuh yang menjadi manusia. Membuatnya kadang kesulitan, berbeda dengan menjadi Blogger. Bob bisa bergerak dengan luas, tanpa takut yang namanya tersandung.


Hingga, matahari mulai meninggi. Mereka memilih untuk beristirahat sejenak, sebelum melanjutkan perjalanan. Bob pergi mencari air minum dan makanan, saat ini hanya tinggal mereka berdua.


Penus membuka pembicaraan dengan menanyakan, beberapa hal kepada Satria.


"Sat, apakah benar? Kamu menjadi Dewa?"


Satria agak tergelak, dengan apa yang ayahnya tanyakan. Ternyata, lelaki itu masih merasa ragu dengan apa yang dia miliki.


"Entahlah! Aku juga tidak yakin," balas Satria.


Jawaban yang diberikan Satria, semakin membuat Penus penasaran. Karena, semuanya masih teka-teki yang belum bisa dipecahkan.

__ADS_1


Dunia Albiru, mamang luar biasa. Dimana keharmonisan mahkluk dan apa yang berada di dalamnya telah di atur dengan demikian rupa. Demi menciptakan keselarasan dan keseimbangan.


Namun, tidak jarang. Semuanya, harus di rusak oleh beberapa kaum yang ingin menang sendiri dan ingin menguasai dunia.


Tidak heran, para Dewa harus turun tangan dan menyelesaikan setiap masalah. Tetapi, tidak semua hal bisa mereka perbaiki. Terkadang, ada yang tidak bisa di sentuh oleh tangan Dewa.


"Sat, Ayah sebenarnya ... ingin menceritakan tentang keluarga Lubis padamu. Tapi—"


Penus bingung, ingin memulai dari mana. Kisah tentang keluarga Lubis yang tidak ada satu pun, yang pernah dia cerita kepada Satria.


Satria yang paham akan tekanan yang tengah ayahnya tengah rasakan, tidak ingin memaksa. Baginya, biar waktu yang menjawab. Hingga, Bob telah datang kembali dengan membawa beberapa buah Tentum dan air.


"Dewa Satria, silahkan di makan buahnya." Bob memberikan buah Tentum yang didapat kepada Satria terlebih dahulu, setelah itu baru kepada Penus.


Mereka makan dengan lahap, sesekali Bob melirik ke arah Penus dan hal itu disadari oleh Satria. Ditambah, didalam hati Penus ada rasa penasaran yang sangat kuat.


Mungkin, jika seseorang melihat dirinya dengan sang ayah. Bisa mengatakan tidak akan percaya, kalau mereka adalah ayah dan anak.


Terlihat dengan jelas, perbedaan di antara Satria dengan Penus. Karena, Satria banyak mengambil gen Victoria.


Namun, satu yang sangat mirip diantara mereka. Yaitu, bola mata. Satria dan Penus, sama-sama memiliki bola mata yang berwarna biru.


"Paman Bob, apakah kita sudah bisa melanjutkan perjalanan?" tanya Satria tiba-tiba, membuat Bob tersedak.


"Uhuk."


Penus yang kebetulan, duduk di dekat Bob. Segera memberikan wadah air miliknya, sekali teguk Bob meminum air tersebut.


Ada perasaan lega di dada Bob, tetapi ada juga perasaan was-was. Bukan tanpa sebab, Bob memerhatikan Penus. Dia yakin sekali, jika Satria memiliki kemampuan Heypersex dari ayahnya yang merupakan keturunan Lubis.


"Anda baik-baik saja?" tanya Penus dengan pelan.


Bob hanya mengangguk kecil, kemudian menyodorkan wadah air Penus kembali. Dia tidak memiliki keberanian, walau hanya sekedar bertanya.


Satria yang sudah tidak bisa menahan diri lagi, mencoba untuk membantu Bob. "Paman Bob, apakah? Ada sesuatu yang menggangu peranmu?"


Bob hanya menatap ke arah Penus, seolah ayahnya Satria itu yang telah mengganggu pikirannya. Penus yang ditatap seperti itu oleh Bob, merasa risih dan menanyakan. Apa masalahnya.


"Maaf, ada apa denganku?"

__ADS_1


"Kamu benar-benar, keturunan keluarga Lubis?" Akhirnya, pernyataan itu yang meluncur lewat bibir Bob.


"Tentu! Memangnya ada apa?" Penus agak tidak nyaman dengan pertanyaan dari Bob.


__ADS_2