Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 12


__ADS_3

POV Satria.


Aku tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tetapi aku akan berusaha mencari tahu. Terlebih dahulu, aku mengenakan pakaian yang sudah ada di dalam lemari tersebut.


Kemudian mencari ke keberadaan ibuku dan Profesor Ruden, sebenarnya aku berharap tidak akan pernah bertemu dengan Alice lagi.


Gadis itu memang sangat menyebalkan, namun teringat jika dia pasti memiliki kunci untuk ke dunia Albiru. Membuatku, mau tidak mau akan mendekati gadis itu.


Kulangkahkan kaki ini, kembali ke ruangan sebelumnya. Terdengar suara riuh, membuatku menjadi penasaran dan segera menghampiri sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka.


"Aku tidak mengerti! kenapa dia bisa bermaga Lubis?"


Aku mendengar suara Profesor Ruden yang menyebut, nama belakangku. Sontak saja aku pun segera masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Satria!"


Terlihat dengan jelas, jika mereka terkejut dengan kedatanganku. Namun, aku mencoba tetap tenang dan duduk di dekat ibuku. Wanita itu tersenyum, ketika melihat kehadiranku.


"Satria, kemana saja kamu selama ini? Ibu kesulitan untuk bisa menemukanmu?" tanya ibuku dengan tatapan mata sendu.


Tidak mungkin aku menjelaskan, bahwa aku berada di dunia Albiru. Apalagi, disini ada Alice. Bisa-bisa, gadis itu akan memenggal kepalaku atau menyuruh Bulgon untuk kembali mengejarku.


"Palingan dia mencari wanita-wanita nakal diluar sana! Terlihat, dia bukan lelaki perjaka lagi," sindir Alice dengan sudut mata yang merendahkan.


Aku menjadi geram, lalu bagun dari posisi duduku dan menujuk Alice. Kemudian menantang gadis itu untuk bertarung, aku yakin dengan kemampuanku. Ketika, bersama Put. Blogger itu, banyak mengajariku ilmu bela diri.


"Aku ingin menantangmu! Alice!"


"Cih! Berani sekali kamu, ya? Jangan pikir? Aku takut dengan marga yang kamu gunakan!" Nada meremehkan itu, benar-benar membuatku muak.


"Aku tidak perduli dengan marga! Kamu bernai, atau tidak?" kecamku yang sudah tidak sabar lagi, untuk memberi gadis itu pelajaran yanga akan membuatnya menjadi penurut.


Alice pergi begitu saja, sedangkan Profesor Ruden menyuruhku untuk bersiap-siap.


"Apa dia menerima tantangku?" gumamku pelan.


"Sat, apa yang kamu lakukan? Kamu menantang Putri Alice? Sama saja, kamu mempertaruhkan hidup kita!"


Aku tertegun dengan apa yang ibuku sampaikan, hal itu menambah tekadku untuk mengalahkan alice semakin membara.


"Ibu tenang saja, aku akan memberi pelajaran kepada gadis yang tidak memiliki tata krama itu!" balasku tegas dan mengikuti Profesor Ruden yang telah berlalu.

__ADS_1


Ternyata, ada sebuah ruangan khusu di kastil tersebut. Dimana banyak sekali, senjata dan pernak-perniknya.


Aku merasa sangat takjub dengan tempat ini, dan semakin berambisi. Untuk bisa menguasai semua senjata tajam yang ada, tentu saja setelah mengalahkan Alice.


Gadis itu telah bersiap dengan sebuah pedang yang diagung-agungkan olehnya, seolah menantang ku. Tentu saja, hal itu membuatku tersenyum sinis. Tanpa aba-aba, aku langsung menyerangnya.


Bruk


Bruk


Aku mencoba menendang tubuh Alice yang lebih kecil dari padaku, namun ternyata dia dengan mudah bisa menghindar. Terus mengarahkan pedangnya ke arahku, lalu segera kutangkis dengan tangan kosong.


Namun, anehnya. Tubuhku tidak terluka sama sekali, membuatku semakin semangat untuk menyerang Alice.


Aku menangkap tangannya yang hendak menjauh, lalu kulayangkan tangan yang satunya lagi. Untuk memukul wajah gadis sombong itu.


Bruk


Ternyata, pergerakan ku telah dibaca olehnya, dia pun mengambil alih keadaan. Tidak kusangka, jika Alice bisa menjatuhkan kuda-kudaku dengan mudah.


"Ternyata, mulutmu saja yang besar! Kenyataanya, sangat mengecewakan!"


Hinaan dari Alice, membuatku geram. aku pun segera bangun, lalu menyerangnya lagi. Terjadi, adu serang. Antara aku dengan Alice, tenaga gadis itu. Ternyata kuat, tidak sebanding dengan tubuhnya yang kecil.


"Aw! Dasar!" Suara pekikannya, tidak kuhiraukan. Dengan cepat, aku menumbangkan tubuhnya dan kini terjatuh dengan posisi. Aku diatas tubuh gadis itu, kukunci semua pergerakannya dan membuatnya hanya mampu memekik.


"Dasar gila! Lepaskan aku!"


Namun, aku tidak menggubrisnya. Sampai Profesor Ruden menegur, dan membuatku sedikit tersentak dengan pernyataan lelaki paruh baya itu.


"Lepaskan dia Satria! Kalau, tidak? Alice bisa dalam bahaya!"


Sedangkan ibuku, yang juga melihat pertarungan kami. Hanya diam, sudut matanya naeh menurutku. Tidak seperti biasanya, seletah aku melepaskan Alice. Aku segera menghampiri ibuku.


"Ibu, aku ... ."


"Jangan dekati, Ibu!"


Dia menolak kedatanganku, dengan mengangkat tangannya. Meyuruhku, untuk tidak menghampirinya. aku hanya bisa mematung, karena tidak menegrti dengan apa yang tengah terjadi.


"Prof! Apa aku akan kehilangan keperawanku!"

__ADS_1


Suara Alice yang bertanya kepada Profesor Ruden, membuatku menatap kedua orang tersebut. Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan, sebab aku hanya menyentuh bagian tubuh Alice yang berada di atas. Bukan yang dibawah. Tidak mungkin, jika gadis itu kehilangan keperawanannya. Gara-gara hal tersebut.


Diamnya Profesor Ruden, semakin membuatku bingung. Terlebioh perubahan yang ibuku tunujkan.


"Kalian kenapa?" tanyaku kemudian, karena tidak tahan lagi dengan kelakukan mereka.


"Gara-gara, kamu!" pekik Alice marah.


Gadis itu membentakku dan berlalu begitu saja, kemudian di susul oleh ibuku. Membuatku, menjadi semakin bingung. Hingga, bahuku terasa di tepuk pelan.


Ternyata, pelakuknya Profesor Ruden. Aku menatapnya sekilas, lalu kami sama-sama menatap Alice dan ibuku yang pergi menjauh.


"Ada yang ingin aku tanyakan," terang Profesor Ruden dan memintaku untuk mengikuti lelaki tersebut.


Aku hanya berharap, jika lelaki paruh baya itu. Mau mengajariku tentang ilmu bela diri yang lebih baik, daripada Put.


Hingga, kami berada di sebuah ruangan yang banyak sekali terdapat buku. Aku pun mengerutkan dahi, merasa bingung. Untuk apa Profesor Ruden mengajakku ketempat ini.


"Ayo, kesini," ajaknya seraya melambaikan tanggan.


Aku pun seegra menghampriri lelaki itu dan langsung duduk di tempat yang dia pinta. Kemudian, Profesor Ruden menyodorkan sebuah buku kepadaku.


"Untuk apa?" tanyaku polos. Disampul buku tersebut, terdapat sebuah judul yang sangat besar bertulisan 'Lubis.'


"Kamu hanya perlu membacanya sampai selesai, nanti aku akan kembali. Untuk mengajakmu makan bersama."


Setelah mengatakan hal itu, Profesor Ruden pergi berlalu begitu saja. aku pun mulai menjalankan, apa yang diminta oleh lelaki itu.


Lembar demi lembar buku, aku buka dan kubaca secara perlahan. Ternyata, buku tersbeut berisi, silsilah keluarga Lubis yang merupakan Mentor di negara X.


Sampai, terjadi suatu peristiwa mengerikan, dimana kaum atas dan bawah saling bersinggungan. Membuat perpecahan, kaum Lubis yang memiliki kemampuan khusus. Menjadi yang paling dominan dan mampu menguasai seperdelapan negara X.


Kekuatan mereka tidak terbatas dan memiliki kelemahan sama sekali, dengan nama 'Heypersex'. Para keturunan Lubis, mampu membuat para lawannya kalah seketika.


"Apa maksud dari ini semua?" gumamku yang tidak mengerti dengan maksud kekuatan Heypersex, sungguh sesuatu yang tidak masuk akal.


Hingga, suara pintu yang berdenyit dan terbuka perlahan. Menampakan Profesor Ruden yang datang dengan sebuah nampan, lalu menghampiri.


"Prof! Apakah aku bagian dari keluarga Lubis?" tanyaku seketika, dan membuat lelaki itu terdiam sesaat.


"Apakah, kamu masih belum menyadarinya?"

__ADS_1


"Maksudnya?"


__ADS_2