Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 70


__ADS_3

Kenyataan yang saat ini Satria hadapi adalah sebuah bencana, dia meremas rambutnya. Dia menatap ke arah Haruna, seakan meminta agar wanita itu tidak melakukan hal gila. Seperti yang baru saja diceritakannya.


"Dunia Albiru begitu indah, kenapa kamu tidak tinggal di sana lebih lama lagi?" Satria berusaha melakukan transaksi dengan Haruna. Wanita itu tersenyum kecil, seakan mengejeknya.


"Ini merupakan bagian dari dunia Albiru, apakah kamu tidak menyadarinya wahay Dewa S?"


Deg


Jantung Satria seakan ingin lepas dari tempatnya, ketika mendengar ucapan Haruna barusan. Kenapa dia tidak menyadari, di mana saat ini dia berada.


Tempat yang sama di saat Satria mencuri waktu untuk bisa lepas dari Pun dan menjebak Haruna, ternyata kekuatan hebat tidak menjamin seseorang menjadi pandai.


Otak Satria menjadi buntu, dia tidak bisa berpikir dengan jernih dan memilih untuk beranjak dari tempatnya duduk.


Satria menuju ke peraduan, di mana dia masih ingat ranjang yang begitu empuk terbuat dari awan. Di mana dia bercinta dengan Haruna untuk pertama kalinya dan terakhir.


Dia menjatuhkan tubuhnya, seraya menutup matanya dengan sebelah lengannya. Sejenak sunyi seketika, sampai terdengar suara derap langkah mendekat.


"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu? Balas dendam bukan jalan yang baik, semua itu hanya akan menimbulkan peperangan yang tidak akan pernah selesai."


Satria berkata tanpa menatap lawan berbicaranya, dia memilih untuk memiringkan sedikit tubuhnya dan menatap sisi lain dari Haruna.


Dia hanya tidak ingin terjadi peperangan, Satria tidak bisa melihat semua orang saling menyakiti. Dia ingin sebuah kedamaian, bahkan akan menciptakan dunia yang diinginkan dengan kekuatan ini.


Kekuatan seorang Dewa, tapi kepada siapa Satria bisa bertransaksi dengan harga yang begitu besar tersebut, jika ada sekalipun. Berapa orang yang akan dia temui dan minta permohonannya.


"Aku tidak menyimpan dendam, tapi ... mereka telah memulainya. Hidupku damai selama ini, di saat menjadi seorang Dewi? Aku bisa mengatur semuanya."


Haruna berkata dengan penuh kelemah–lembutan, dia mengusap punggung Satria yang ada dihadapannya. Berharap lelaki itu mau berbalik badan dan melakukan hal yang dulu membuatnya lupa diri.


Walupun dirinya harus kembali di hukum, setidaknya dia ingin mengulang rasa yang begitu memabukan tersebut.


"Haruna, aku tahu perasaanmu waktu itu. Aku juga bisa merasakannya, walaupun keadaan kita berbeda," jelas Satria.

__ADS_1


Dia tidak kuasa menahan gejolak di dada, pada akhirnya Satria mengalah dengan sikap manis Haruna.


Satria berbalik dan menatap wanita yang membalas tatapannya dengan penuh dambaan, siapa yang bisa menolak pesona seorang Dewi Haruna.


Begitu pun dengan Satria, dia mengusap dengan lembut wajah Haruna. Hinggga tangannya menyentuh bibir ranum wanita itu, gejolak di dalam dirinya terus meronta-ronta.


"Haruna," panggil Satria dengan nafas yang tidak beraturan lagi.


Dengan sabar, Haruna menunggu. Dia tersenyum dengan begitu manis, meluluhkan seseorang kesatria di atas pembaringan adalah cara menyelinap yang paling baik.


"Lakukan apapun yang kamu inginkan, aku hanya pasra menerimanya," terang Haruna dan menutup kedua bola matanya.


Namun suara gelak Satria membuatnya segera membuka kembali matanya, dia menatap heran dengan lelaki yang berbaring di hadapannya itu.


Apakah Satria tidak mau melakukan hal itu lagi padanya, sebab telah menjadi seorang Dewa? Di saat hati dan pikiran Haruna bertanya-tanya. Satria mengecup sekilas bibirnya dan hal itu membuat kedua pipi Haruna memerah padam, menahan perasaan malu.


"Aku hanya ingin kamu di sampingku, kita berdua akan membangun sebuah dunia baru. Esok atau lusa, keluarga Lubis akan di lupakan. Aku ingin keluarga kita yang mengukir sebuah sejarah, bukan dari kisah kelam yang tidak bisa di ubah."


Betapa terkejutnya Haruna mendengar kata-kata penuh makna yang Satria ucapkan, dia tertegun untuk beberapa saat.


Membayangkannya saja Haruna bergitu merasa bahagia, apalagi jika benar-benar terjadi. Dia tidak akan pernah berhenti untuk tersenyum dan melihat hari esok, sebagia hari yang begitu indah.


"Lalu, apa nama keluarga kita?" tanya Haruna dengan begitu antusiasnya.


Keluarga dirinya dan Satria, beserta anak-anak mereka kelak. Dia akan begitu bahagia, hingga sesuatu mengusik pikirannya.


"Kamu kenapa?" tanya Satria yang dengan mudah membaca dan merasakan perubahan energi Haruna.


Namun, wanita itu malahan membuang muka membuat Satria bertanya-tanya. Apa yang tengah Haruna pikirankan, sampai berubah seperti ini.


Tiba-tiba saja terdengar suara isakan yang begitu pilu, Satria meraih tubuh Haruna yang ternyata bisa rapuh. Dalam dekapannya, Satria berusaha menenangkan hati wanita itu.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Satria dengan lembut dengan tangannya yang terus mengusap rambut Haruna yang indah dan wangi.

__ADS_1


"Alice." Hanya kata itu yang Haruna ucapkan, Satria sudah tahu apa yang tengah terjadi.


Tidak bisa dipungkiri, perasan cemburu memang sulit untuk di kendalikan. Tidak sama seperti kekuatan Dewa, bisa di pelajari dan di paham. Cemburu seperti racun yang begitu mematikan.


Satria bahkan sempat berpikir untuk tidak menemui Alice dalam kurung waktu yang cukup lama, sebab dia yakin tidak akan mendapatkan maaf dari wanita itu.


Di mana Alex yang merupakan putra Alice yang begitu dibanggakan, telah lenyap seketika. Sudah dipastikan, kalau dia akan di jadikan santapan Brongsi oleh Alice.


Membayangkan hal itu saja, membuat Satria merasa tidak nyaman. Bukan dirinya takut kepada Alice atau tidak bisa melawan. Tapi, Satria tidak ingin menyakiti Alice dan semakin merasa bersalah.


"Aku tidak akan menemui Alice, aku akan membangun dunia bersamamu. Dunia di mana ada kita saja, tanpa ada mahluk lain," jelas Satria.


Padahal dia begitu menginginkan membuat dunia bersama putranya, namun apalah daya kejadian yang tidak terduga.


Setidaknya ada Haruna yang akan menemaninya, mereka bisa membuat anak yang banyak dan membentuk sebuah keluarga besar nantinya.


"Apakah tidak apa-apa? Aku cuma takut, mereka mencari kita dan—"


"Suttt ... ."


Satria meletakan jari telunjuknya tepat di bibir Haruna, memberi isyarat agar wanita itu diam. Hingga tangan Satria yang nakal mulai berkeliaran.


Haruna tidak bisa menolak hal tersebut, dia memejamkan matanya. Menikmati setiap sentuhan demi sentuhan yang Satria lakukan.


Rasanya begitu luar biasa, sampai Haruna menginginkan yang lebih dan lebih dari sekedar sentuhan lembut itu.


"Dewa S," panggil Haruna dengan suara yang mendesah.


Dia begitu menikmatinya, Haruna menatap nanar wajah Satria yang telah di penuhi oleh keringat. Nafas lelaki itu pun memburu, mereka dimabuk oleh perasaan cinta dan hasrat.


Entah siapa yang duluan memulainya, bibir mereka telah tertaut. Decapan demi decapan terdengar saling bersahutan, bercinta lebih nikmat dari pada menjadi seorang Dewa.


"Izinkan aku masuk, jangan tendang ke dunia lagi," pinta Satria dengan penuh hasrat.

__ADS_1


"Bukan aku yang melakukan hal itu," balas Haruna pelan.


__ADS_2