
"Apakah, ini kamu Bob?"
"Iya, ini aku Sis!" balas Bob dengan perasaan haru–biru.
"Tunggu sebentar! Bob!" Satria menyeda pertemuan tersebut, karena dirinya masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Apakah? Kamu benar-benar, Sis?" tanya Satria dengan sorot mata serius. Kepada wanita yang masih memeluk Bob tersebut.
"Iya, hamba Sis. Dewa Satria," jawabnya dengan penuh rasa hormat.
"Kenapa kamu bisa berubah?" tanya Satria lagi dengan segala keheranannya.
"Iya, kenapa kamu bisa berubah?" tambah Bob yang baru menyadari hal itu.
"Waktu itu ... ."
Sis pun mulai menceritakan, semuanya yang telah terjadi. Sejak, Satria menjadi Dewa dan meninggalkannya bersama telur-telur yang sangat banyak. Serta Put yang terus mendampinginya, hingga Hunter datang dan membunuhnya.
Sis menceritakan hal tersebut dengan lelehan air mata kepedihan, tubuhnya yang tidak berdaya di buang begitu saja.
Untung, dirinya bisa selamat. Karena, perjanjian rekanasi yang terjadi. Ketika, Blogger dibunuh oleh kaum Hunter.
Satria yang mendengar cerita Sis, merasa ada yang tidak beres. Namun, dia masih diam dan memperhatikan. Gerak tubuh dan perasaan Sis.
"Apa kami boleh bermalam di sini?" tanya Satria tiba-tiba.
Sis tersenyum dan mengangguk, kemudian membuka pintu gubuknya. Lalu, mempersilahkan Satria dan Bob masuk.
"Sis, bagaimana? Keadaan Put?" tanya Bob. Setelah duduk di salah satu bangku yang terbuat dari kayu.
Wanita itu hanya diam, dia menatap ke arah Bob dengan sorot mata sendu dan menggeleng kepala.
Terdengar helan nafas panjang dari Bob, dia terpaku di tempatnya duduk sekarang. Andaikan dirinya memiliki kekuatan, mungkin mereka tidak akan terpisah. Hingga, tangan Satria menepuk bahunya.
"Bob, kita akan mencari keberadaan Put," terang Satria dengan nada serius.
Mereka bertiga pun memiliki tujuan dan misi yang sama saat ini, Sis pun melayani Satria dan Bob dengan sangat baik.
__ADS_1
Menyiapkan makanan, hingga perbekalan untuk mereka. Dalam perjalanan, mencari keberadaan Put. Namun, sebelum itu. Mereka akan ke tempat. Dimana, peninggalan keluarga Lubis terlebih dahulu.
Sebab, Satria mau membantu Sis dan Bob. Setelah kedua orang itu membantunya terlebih dahulu. Seperti itu, perjanjian yang mereka lakukan.
Ketika, malam tiba. Satria duduk di luar gubuk, sekedar ingin melihat bintang di langit malam yang entah mengapa. Membuatnya merasa nyaman dan damai.
"Dewa Satria," panggil Sis yang melihat Satria duduk seorang diri di luar. Seraya membawa selembar kain, yang dia sodorkan kepada lelaki itu.
"Ambilah ini," jelasnya.
"Terimakasih, Bun Sis." Satria tersenyum, menerima kain tersebut dan menyelimuti tubuhnya agar tidak kedinginan. Padahal, angin malam telah menjadi sahabat baiknya. Namun, karena menghargai Sis. Satria tetap menerima perhatian dari wanita itu.
Mereka berdua, sama-sama menatap langit malam yang banyak di taburi bintang yang berkedip-kedip. Hingga, Sis bercerita. Tentang Put kepada Satria.
"Dewa Satria, apakah anda tahu? Kalau Put zing dengan anda?"
Sis menatap ke arah Satria, dia ingin melihat ekspresi dari lelaki yang duduk disampingnya itu.
"Kenapa Bu Sis, menanyakan hal itu?" Satria malah, berbalik bertanya. Tanpa diberi tahu sekalipun, Satria sudah tahu. Karena, Put sendiri yang mengatakan hal itu.
Sis membuang pandangannya, dia kembali menatap langit sama dengan apa yang dilakukan oleh Satria.
Ingat Sis pun, seolah kembali di masa itu. Dimana, dirinya disuruh oleh Bob. Untuk menjaga telur-telur mereka, tetapi dia gagal melakukan hal tersebut.
Semua di sebabkan oleh, para Hunter yang telah membantai banyak sekali Blogger dan membuat Sis harus meninggalkan tempat tersebut.
Sis membawa, beberapa telur yang bisa dia bawa dan melarikan diri. Berharap, jika masih ada bayi Blogger yang bisa di selamat kan.
"Tenang ya, Nak. Ibu akan menjaga kalian," kata Sis. Seraya terus berlari, menghindari kejaran kaum Hunter.
Peperangan terus terjadi, entah siang atau malam. Mereka selalu diselimuti oleh ketakutan dan kematian yang terus menanti.
Begitu pun dengan Sis, entah berapa Minggu lamanya dirinya terus berjalan ke arah timur. Mencari perlindungan dari para Dewa, dengan beberapa telur yang berhasil dibawa olehnya.
Hingga, Sis berhasil mencapai tujuannya dan berada di dunia Dewa. Tempat yang sama dimana mereka membawa Satria, sampai bisa menjadi Dewa.
Dengan sisa tenaganya, Sis berhasil bertemu dengan Dewa Ketua dan meminta bantuan. Namun, tidak ada yang gratis. Dewa ketua, meminta telur-telurnya. Membuat hati Sis menjadi sedih.
__ADS_1
"Dewa, hamba mohon. Jangan ambil semua anakku," kata Sis dengan lirih waktu itu.
Dia berlutut dan terus memohon, sampai Dewa ketua mengabulkan permintaan Sis dan memberikan satu telur. Untuk dirawat olehnya dan mengambil yang lainnya.
Sejak saat itu, Sis sangat menyayangi Put dan selalu merasa khawatir dengan keadaan Putrinya itu. Namun, ketika kembali ke alam Dewa lagi. Dirinya, malah terpisah dari Put.
Satria yang mendengar apa yang Sis ceritakan, merasakan sesuatu yang janggal.
"Apakah, Put diambil oleh Dewa Ketua? Sebagai, bayaran? Atas, atas permintaanmu? Lalu, bagaimana dengan saudara-saudara Put yang telah di ambil oleh Dewa Ketua?"
Pertanyaan Satria tersebut membuat Sis baru menyadari, jika dirinya telah dimanfaatkan oleh Dewa Ketua. Sebab, semua telurnya telah di ambil oleh Dewa ketua dan sekarang Put. Putrinya, berserta telur-telur yang Satria berikan.
"Apakah, Dewa Ketua akan membuat sebuah pasukan Hunter?" gumam Sis dengan persangkaannya.
"Jika benar? Maka ... dunia Albiru akan terjadi perang besar," tambah Satria yang mendengar apa yang Sis gumamkan.
Mereka memikirkan hal yang paling buruk, jika benar? Dewa Ketua membuat sebuah pasukan yang sangat besar, apa tujuan Dewa tersebut dan apa yang diinginkan dari dunia Albiru yang merupakan dunia buatan.
Semuanya, masih tanda tanya. Mereka tidak bisa tinggal diam, jika Dewa ketua mulai berulah. Karena, dunia Albiru akan dalam bahaya besar.
Jika, kembali terjadi peperangan. Dimana, tidak ada keselarasan kehidupan lagi dan banyak mahkluk dan kaum yang akan menjadi korban.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Bob yang tiba-tiba muncul.
Sis menatap suaminya dengan senyuman, sedang Satria masih hanyut dalam pikirannya. Dia harus mencari tahu tentang keluarga Lubis dan mencari keberadaan H. Karena, putranya dengan Haruna yang bisa menjadi tameng yang paling penting. Jika, peperangan nantinya akan terjadi.
"Kami menceritakan tentang Put," kata Sis dan meminta Bob untuk duduk disampingnya.
Bob pun tersenyum dan langsung duduk di dekat Sis, lalu kembali bertanya, "Kita akan menemukan Put, sama seperti waktu itu."
Satria tertarik akan apa yang baru diucapkan oleh Bob, "Maksudnya? Kalian dulu pernah terpisah?"
Bob dan Sis mengangguk kecil, hidup di dunia Albiru. Karena, terusir dari negeri mereka sendiri. Membuat kaum Blogger sudah terbiasa berada di dalam keadaan yang sulit.
Namun, sekarang mereka tidak pernah terlalu takut lagi. Karena, jika dibunuh oleh kaum Hunter. Mereka bisa menjadi manusia biasa dan bisa kedua manusia, dengan damai.
"Kami tidak akan terpisah lagi, jika ... menjadi manusia. Karena, kamu akan ke dunia manusia."
__ADS_1
Apa yang dikatakan oleh Bob, membuat Satria terkejut, "Lalu, bagaimana dengan dunia Albiru dan segala yang ada?"