Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 36


__ADS_3

"Aku Satria, Bu. Sekarang ... jangan ragukan hal itu," terang Satria dan mengulurkan tangannya.


Terlihat di sorot mata Victoria yang menampakan keraguan, membuat Satria meniupkan angin dengan bibirnya.


Apa yang Satria lakukan, membuat sang ibu. Seolah melihat kenangan demi kenangan, yang mereka lewati beberapa tahun terakhir. Hingga, wanita itu berteriak histeris.


"Satria! Kamu benar-benar Satria! Ibu pikir, akan mati disini!"


Akhirnya, Victoria menyakini. Jika, lelaki tampan dihadapannya merupakan sang putra dan langung memeluk Satria dengan sangat erat dengan Isak tangis yang menemani.


"Kenapa, Ibu?" tanya Satria dengan perasaan yang sangat penasaran.


Victoria mengurai pelukan mereka dan menatap sendu ke arah Satria, "Ibu diburu, oleh kaum Hunter!"


"Apa?"


Satria amat terkejut dengan apa yang baru saja, ibunya ucapkan. Apa maksud, dari kaum Hunter memburu ibunya dan rencana apa yang akan mereka lakukan? Semuanya masih tanda tanya, yang belum bisa dipecahkan.


"Apakah, benar? Kamu ibunya Dewa Satria?" tanya Sis hati-hati.


"Dewa Satria?" tanya Victoria dengan mengerutkan dahinya dan menatap Satria dengan nanar. Dia memperhatikan Satria dengan seksama. Tidak ada yang berubah dari putranya itu, kecuali dia bisa terbang tadi.


Satria yang paham akan tatapan penuh curiga dari ibunya, mencoba memberikan pengertian dan berjanji akan menjelaskan semuanya.


"Aku akan menjelaskannya, tapi ... nanti. Sekarang, Ibu pasti lapar dan kelaparan, bukan?"


Victoria mengangguk kecil, menanggapi apa yang ditanyakan oleh Satria. Keadaannya memang sangat miris, tetapi mau bagaimana lagi? Dirinya yang dikejar oleh kaum Hunter, nasib baik Victoria bisa melarikan diri.


Satria menatap ke arah Sis yang juga membalas menatap, seolah paham akan apa yang akan disampaikan oleh Satria. Sis, menarik pelan Victoria dan memberikan pakaiannya. Untuk di kenakan oleh ibunya Satria itu.


Sedangkan Satria menunggu dengan sabar, sampai Victoria telah berganti pakaian dan mengisi perut. Disela menunggu, tiba-tiba saja terdengar suara gesekan alat tajam.


Bob menepuk pelan bahu Satria dan menatap lurus ke depan, seolah mengatakan. Jika, ada bahaya di hadapan mereka.


Sat


Set


Suara pergesekan pedang, semakin terdengar dengan jelas. Satria meminta Bob untuk menjaga Sis dan Victoria, sedangkan dirinya yang akan melihat. Apa yang sedang terjadi.


"Paman Bob, bisa bantu aku?" tanya Satria yang telah merubah panggilannya kepada Bob dan mendapatkan anggukan kepala kecil.

__ADS_1


"Ada apa, Sat?" tanya Victoria yang sudah berganti pakaian dan melihat ada ketegangan yang tengah terjadi.


"Sutt." Satria hanya memberi kode dengan cara meletakkan jari telunjuk di bibir, meminta kepada sang ibu untuk diam sejenak.


Hingga, Bob mundur dan berada di depan Sis serta Victoria. Untuk melindungi kedua wanita itu, sedangkan Satria maju terlebih dahulu.


"Hey! Apa yang kalian lakukan?" teriak Satria kepada beberapa orang yang tengah melakukan pertarungan.


Kini, Satria bisa melihat dengan jelas. Siapa yang tengah melakukan pergeseran pedang, ternyata hanya dua orang manusia biasa.


Namun, salah seorang dari orang tersebut. Seolah tidak asing, bagi Satria dan dia menatap nanar. Lelaki, yang juga menatapnya itu.


"Jangan ikut campur! Ini urusan kami!" teriak seorang lelaki dengan wajah yang sangat garang.


"Brongsi!" teriak Victoria tiba-tiba.


Ibunya Satria itu tidak mau menurut dan ikut menyusul putranya, wajah Bob yang ikut menyusul menampakkan wajah penyesalan. Karena, tidak bisa menahan Victoria yang terus saja meronta-ronta.


"Hahaha ... Vic! Aku pikir, kamu tidak bisa mengenaliku." Lelaki itu mendekati Victoria, tetapi di halangi oleh Satria. Sebab, dia merasa energi yang buruk dari lelaki itu.


Victoria menyetuh lengan Satria, seolah menenangkan putranya. Karena, Victoria sangat mengenal Brongsi.


Keluarga Cooper, memiliki masing-masing pelindung. Semuanya dimasuki oleh energi dan mantra yang membuat benda-benda tersebut bisa hidup, serta memiliki wujud yang serupa makhluk lain.


"Apa yang membuatmu kesini?" tanya Victoria dengan tenang.


"Antonio!"


Hanya satu kata, membuat Victoria paham akan apa yang tengah terjadi. Sampai, matanya tertuju kepada lelaki yang berada dilain sisi.


Wajahnya agak terkejut, tetapi segera dia netral kan dengan mengatur nafas. Kemudian, mendekati Brongsi.


"Apa yang diinginkan Antonio?" tanya Victoria.


Namun sayang, Brongsi hanya menggeleng kepala dan tiba-tiba saja menyerang Victoria.


Trang!


Prang!


Dengan cepat pedang saling bergesekan, tidak bisa dihindari. Membuat percikan api di keadaan malam yang mulai mencekam, cukup lama mereka saling beradu. Hingga, pedang yang dipakai Brongsi berhasil jatuh.

__ADS_1


"Kamu sudah kalah!"


"Belum lagi! Tunggu! Aku akan kembali!" teriak Brongsi dan berubah menjadi pedang, lalu terbang begitu saja.


Satria ingin mengejar, tetapi dihalangi oleh Victoria. Membuat Satria mengurungkan niatnya dan kini, mereka berdua. Sama-sama, melihat ke arah lelaki yang berhasil mengalahkan Brongsi itu.


"Apakah, kamu juga tersesat?" tanya Victoria dengan nada yang dingin.


Namun, apa yang diucapkan tidak digubris samasekali. Membuat wanita itu menjadi kesal dan menghardik lelaki yang kini malahan ingin pergi.


"Penus!"


"Apa Ayah akan pergi begitu saja?" tanya Satria dengan dingin. Dia tidak mengerti, bagaimana ayahnya bisa masuk ke dunia Albiru. Akan tetapi, pasti ada sesuatu yang membuat lelaki itu inginkan.


Satria sangat hapal dengan berangai sang ayah, dimana lelaki itu tidak akan mau melakukan sesuatu. Tanpa adanya, desakan atau imbalan di dalamnya.


Victoria yang kesal diacuhkan oleh Penus, mantan suaminya itu benar-benar mengabaikan dirinya dan membuat Victoria memiliki ide untuk balas dendam.


"Evalus!" teriak Victoria dan mengarahkan jarinya kepada Penus. Dengan seketika, lelaki itu membatu ditempat.


"Apakah, kamu suka melihatku seperti ini?" tanya Penus.


Satria melepaskan mantra ibunya dan membuat wanita itu mengeram marah, tetapi tidak berani untuk menyalakan dirinya.


"Ayah, katakan! Apa yang membuat Ayah ke sini?" tanya Satria dengan sorot mata serius.


Membuat Penus membuang nafas panjang dan memilih duduk di atas tanah, dia menceritakan tentang dirinya yang terdampar di dunia Albiru lagi.


Semua disebabkan oleh Dewi Haruna yang membawa Penus, ketika dirinya tengah tertidur. Setelah terbangun, Penus telah mendapati, dirinya di dunia Albiru dan terus diserang oleh keluarga Cooper.


Entah apa yang diinginkan oleh keluarga Cooper, tetapi Penus tidak bisa kembali ke dunia manusia. Membuatnya, memilih ke arah timur.


Dimana, asal keluarga Lubis berada. Hanya itu harapannya, sampai tanpa sengaja bertemu dengan mantan istri dan putranya. Sungguh, kebetulan yang sangat tidak terduga.


Satria yang mendengar apa yang disampaikan oleh ayahnya, mengerutkan dahi. Ada bagian yang membuat Satria tertarik.


"Jadi ... keluarga Lubis masih ada?" Pertanyaan itu meluncur dengan begitu saja, Penus mengangkat bahunya. Menjawab, pertanyaan Satria. Sebab, dirinya juga tidak bisa memastikan hal itu.


"Tunggu dulu! Kenapa kalian ada di sini?" Kali ini, Penus yang bertanya. Setelah, baru menyadari. Jika, ada Satria dan Victoria di dunia Albiru.


"Bukan urusanmu!" balas Victoria dengan garang.

__ADS_1


__ADS_2