Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 119


__ADS_3

Satria berusaha berfikir keras, dirinya hanya ingin menjalani kehidupan yang damai dan tenang seperti sebelumnya.


Namun, hal itu seakan begitu sulit untuk dirinya dapatkan. Hingga tidak terasa Satria telah sampai di tepi danau, ia melihat Put yang tengah duduk termenung.


Satria segera menghampiri Put dan duduk di samping Put, "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Satria.


Put hanya menatap sekilas ke arah Satria, kemudian kembali menatap ke arah danau yang airnya begitu tenang.


"Sat, aku teringat dengan kedua orangtuaku," jelas Put.


Satria terdiam sejenak, perasaanya Bob dan Sis selamat ketika peperangan itu terjadi. Sebab, yang tewas hanyalah ayahnya Penus.


Namun, sejak tinggal di kastil, Satria tidak pernah bertemu lagi dengan keduanya. Entah ke mana kedua orang itu, Satria tidak pernah menanyakan hal tersebut kepada Jennifer.


"Coba kamu tanyakan kepada Ibu Jennifer," jelas Satria.


Namun, Put hanya menggeleng pelan. Put merasa tidak nyaman dengan Jennifer, sebab dirinya pernah menyerang keluarga Cooper dan berada dipihak Dewa Ketua.


Diamnya Put membuat Satria kembali mengajak Put berbicara dan menanyakan prihal Put yang ikut pergi bersama dengan Alice tadi, seolah ingin menghindarinya.


"Sat, semua orang berfikir kamu pembawa pedamaian dan bisa membantu mereka. Tapi, aku tidak terlalu berharap lebih padamu. Apalgi, setelah melihat bagaimana kamu bercinta dengan Haruna waktu itu." Alice menyinggung Satria tentang tentang bersama dengan Haruna di dunia atas.


Satria tidak berkutik sama dekali akan ucapan Put tersebut, terlebih Put melihat dirinya yang menikmati percintaan dengan Haruna.


Namun, entah kenapa. Setelah kejadian waktu itu,


Satria tidak memiliki respon terhadap Haruna. Terlebih Haruna yang bisa dipastikan bersekongkol dengan Ruu.


"Kenapa kamu hanya diam?" kali ini Put yang bertanya kepada Satria.


"You know, Put? Ternyata hatiku belum bisa berlabuh ke tempat yang benar," kata Satria seraya menatap wajah Put dalam dan membuat Put merasa gugup dengan.


Put membuang pandangannya dari Satria, seakan tersengat aliran listrik. Put merasakan getaran yang sangat kuat, disaat bersama dengan Satria.


Hingga, tangan Satria mulai meraih tangan Put dan menggenggamnya erat. Satria tahu betul, kalau Put amat zing dengannya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menjanjikan apapun kepadamu, Put. Tapi ... aku akan berusaha untuk membuktikannya," jelas Satria.


Mereka pun melewati malam yang panjang dengan berbagi rasa, Satria menarik ucapannya yang mengatakan bahwa merasa jijik kepada Put.


Namun, Satria masih tetap bisa bercinta kembali dengan Put. Ditambah, tidak ada yang menanggung keduanya membuat Put dan Satria menikmati penyatuan yang luar biasa sebagai seorang Blogger.


"Aku berharap, ucapanmu sebelumnya menjadi kenyataan," kata Put dengan pelan dan nafas masih memburu.


Satria mengerutkan keningnya, seraya menanyakan maksud Put. Ternyata, Put berharap bahwa akan segera hamil seperti yang Satria ucapkan kepada Alice sebelumnya.


Wajah Satria seketika menjadi memerah, ia tidak menyangka bahwa ancamannya kepada Alice membuat Put berharap menjadi kenyataan.


"Kalau itu yang kamu inginkan? Aku akan melakukannya dengan lebih banyak," bisik Satria tepat disebelah telinga Put yang berada di bawahnya.


Kemudian Satria melakukannya lagi dan lagi, hingga pagi dan matahari menampakan cahayanya. Karena kekelahan, Satria terlelep dengan keadaan polos tanpa busana sama sekali.


Padahal, Satria telah berjanjian dengan Victoria untuk menjelaskan sesuatu dan akan pergi ke sebuah tempat.


Namun, Alice telah menjuju ke danau lebih cepat daripada Victoria. Tentu saja Alice begitu terpukul dengan pemandangan yang pertama kali dilihat olehnya.


Seperti maling yang ketahuan mencuri, Satria merasa syok dan terkejut dengan suara Alice yang begitu nyaring.


"Kamu kenapa, sih, Alice?" tanya Satria seraya mengatur nafasnya yang naik–turun.


Alice tidak menjawab pertanyaan dari Satria dan memilih pergi begitu saja membuat Satria merasa jengah dan mengalohkan perhatiannya kepada Put yang mulai menenakan pakaian.


Cukup lama Satria terdiam dan baru menyadari keadaannya kemudian menjatuhkan tubuhnya kembali, tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit untuk berfikir.


"Alice marah, Sat," jelas Put.


"Biarkan saja!" balas Satria cepat dan kembali menutup matanya.


Baru saja Satria ingin memejamkan matanya, Victoria sudah datang dan menyuruhnya untuk segera bangun.


Namun, Satria merasa enggan dan memilih untuk tetap memejamkan matanya. Hingga Victoria marah-marah kepada Satria.

__ADS_1


"Satria! Ayo bangun! Memangnya apa yang kamu lakukan? Sampai kelelahan seperti ini?" pekik Victoria seraya berkacak pinggang di depan waja Satria.


"Aku habis bertempur, Bu. Beri aku waktu sampai siang hari, nanti ... baru Ibu kembali lagi," jelas Satria dengan malas.


Put mencoba menenangkan Victoria yang begitu nampak kesal dan meminta agar ibunya Satria itu kembali lagi siang nanti.


Walaupun dengan perasaan dongkol, Victoria pun mengiyakan apa yang diminta oleh Put dan kembali ke rumah.


Victoria hanya berfikir, kalau Satria merasa kelelahan sebab bertarung malam tadi melawan para Hunter. Seandainya Victoria tahu, bahwa Satria kelelahan karena bercinta dengan Put. Sudah bisa dipastikan bahwa wanita itu akan marah besar.


Setelah kepergian Victoria, Put masih setia berada di samping Satria. Bahkan secara diam-diam Put mengenakan pakian Satria satu–persatu, seraya menatap wajah Satria yang terlelap dengan tenangnya.


Perasaan Put menghangat seketika, setelah puas memandangi wajah lelaki yang membuatnya zing itu. Put memilih untuk membersihkan diri ke danau dan menangkap beberapa ikan untuk makan Satria nanti. Ketika bangun.


"Apakah ini yang selalu di rasakan oleh Haruna atau Alice? Ketika bersama dengan Satria?" gumam Put pelan seraya masuk ke danau.


Air danau masih begitu dingin, sebab belum terkena sinar matahari secara menyeluruh. Put memikirkan tentang Haruna dan Alice yang telah menikmati bercinta dengan Satria.


Sedangkan, bagi Put ini merupakan hal baru. Sebab, Put tidak bisa bercinta dengan Satria waktu itu. Di mana diriya masih menjadi Blogger, sedangkan Satria manusia biasa.


Karena tidak ingin larut memikirkan sesuatu yang nanti membuatnya semakin merasa terbakar oleh cemburu, Put segera menangkap ikan dan menyelesaikan mandinya dengan cepat.


Kemudian Put mulai menyalakan api untuk membakar ikan hasil tangkapannya yang sudah dibersihkan, ternyata di dunia nyata dirinya bisa menemukan ikan yang lumayan besar.


Seolah danau yang berada di hadapannya itu merupakan hasil mutasi atau buatan, sebab ikan yang ditangkap biasanya hidup di dunia Albiru.


"Mungkinkah keluarga Cooper?" Put tidak ingin menerka-nerka sesuatu yang tidak pasti dan memilih melihat keadaan Satria. Apakah lelaki itu sudah bangun atau belum, sebab sudah laam ia meninggalkan Satria tadi.


Namun, setelah berada di tempat Satria. Put masih melihat Satria yang memejamkan matanya, kemudian ia mendekati Satria dan duduk di samping lelaki itu.


Tiba-tiba saja tangannya ditarik dan terjatuh ke dalam pelukan Satria yang ternyata sudah bangun sedari tadi, tapi berpura-pura masih terlelap.


"Kamu nakal, ya?" kata Satria seraya mengedipkan sebelah matanya membuat Put tersenyum malu.


Satria pun mulai melancarkan aksinya, tapi Put menahan tangan kekarnya untuk kembali bermain. Satria menatap Put heran, tidak seperti semalam. Di mana Put pasrah dengan apa yang ia lakukan.

__ADS_1


Namun, kali ini Put seakan menolaknya. Satria pun menayakan alasan Put, "Kamu tidak ingin mengulangi yang semalam?"


__ADS_2