Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 11


__ADS_3

Beberapa waktu tinggal di dunia Albiru, membuat Satria seolah melupakan dunianya sendiri.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Alice tiba-tiba, mengagetkan mereka berdua. Bahkan, sorot mata gadis itu. Menyiratkan, ketidak sukaan.


"Alice!" pekik Satria.


Alice mendengar semua pembicaraan mereka, tentu saja. Gadis itu menjadi sangat penasaran, ada hubungan apa Satria dengan pengasuhnya.


"Putri Alice, anda baru datang?" tanya Victoria ramah. Namun, tidak di gubris oleh gadis itu.


Alice mendekati Satria dan mencekam erat baju lelaki itu, dia pun melayangkan ancaman yang sangat mematikan.


"Kamu jangan pikir? Bisa dekat dengan Bubuku!"


Satria mengerutkan dahinya, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Alice. Dia hanya menatap heran dengan gadis yang ada dihadapannya.


Mata mereka saling bertemu, Alice yang memiliki mata yang coklat. Dengan Satria yang berwarna biru, sama dengan Victoria. Membuat gadis itu, mulai mengerti. Jika, lelaki yang ada dihadapannya memiliki hubungan khusus dengan pengasuhnya tersebut.


"Putri Alice, bisa lepaskan Satria?" tanya Victoria dengan pelan.


Alice pun menuruti permintaan Victoria dan mendorong Satria dengan kuat, sampai terjatuh kelantai.

__ADS_1


Sungguh, kejam melakukan gadis itu. Namun, itulah Alice Cooper yang tidak mengenal rasa belas–kasih. Bahkan, dia akan suka rela menghabisi Satria. Jika, hal itu diperlukan.


"Aw!" pekik Satria merasa kesakitan dan segera bangun dia menyimpan dendam yang mendalam kepada Alice.


Victoria mengajak Satria dan Alice untuk mencari keberadaan Profesor Ruden, terlebih keadaan Satria yang terlihat sangat memperhatikan.


"Entah apa yang dia lakukan! Sampai tidak mengenakan pakaian!"


Suara Alice yang mencibir ke arah Satria, membuat Victoria menatap ke arah Satria dengan penuh curiga. Namun, dia tahan. Karena, tidak tepat menanyakan hal itu saat ini. Pikirnya.


Mereka bertiga, terus menyelusuri lorong-lorong kastil, hingga terdengar suara ledakan yang cukup besar dan membuat mereka terkejut.


Brom


Terlihat asap hitam pekat, keluar dari salah satu ruangan yang pintunya tertutup rapat. Mereka pun segera mendekati pintu itu. Alice memutar kanopi pintu tesebut dan mendorongnya dengan pelan.


"Profesor Ruden!" pekik Alice panik. Ketika, melihat tempat yang sangat berantakan dengan lelaki paruh baya itu yang terkapar di lantai.


Mereka bertiga segera mendekati Profesor Ruden, lalu menggoyangkan badan lelaki itu. Serta, terus berteriak memanggil nama Profesor Ruden.


"Profesor Ruden!"

__ADS_1


Profesor!"


Namun, tidak ada respon dari lelaki itu. Sampai Satria menyeletukan sebuah kalimat yang membuat alice dan Victoria terkejut.


"Dia hanya pingsan, mungkin karena terisap asap ini."


"Cih! Kamu jangan sok tahu! lebih baik, kamu cari pakaian. Untuk menutupi tubuhmu!" pekik Alice.


Satria pun memilih meninggalkan tempat itu dan berjalan menjauh, dia yakin. Jika, Profesor Ruden tidak apa-apa. Apalagi, Satria merasa risih dengan setiap kata yang diucapkan oleh Alice. Gadis itu memang manis, tetapi mulutnya sangat pahit.


Ditengah menyelusuri lorong, Satria mengingat kembali. Dimana kamar yang sebelumnya pernah Profesor Ruden, mengajaknya.


Di sana, ada lemari yang bisa mengajaknya kembali ke dunia Albiru. Satria memperhatikan satu demi persatu lukisan yang terletak di dekat pintu, setiap ruangan.


Hingga, dia menemukan. Apa yang dicarinya, senyum mengembang di wajah tampannya. Dia pun segera masuk ke dalam ruangan tersebut, ternyata benar. Lemari tersebut masih ada.


Satria mempercepat langkahnya, lalu membuka lemari tersebut dengan perlahan. Namun, apa yang Satria harapkan tidak terjadi.


Lemari yang sebelumnya kosong, kini di penuhi oleh banyak sekali pakaian. Dia mengerutkan dahinya, bingung dengan kejadian yang ada di hadapannya.


"Dimana portal tersebut," gumam Satria.

__ADS_1


__ADS_2