Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 77


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya dia semunyikan?" batin Satria.


Dalam kamar yang dengan pencahayaan minim Satria terus berfikir sampai perutnya yang sedari pagi hanya diisi dengan kopi hangat buatan Haruna mulai meraung-raung.


Keadaannya saat ini sangat berbeda ketikan menjadi seorang Dewa, di mana semua keinginan bisa dipernuhi dan hidupnya telah di atur serta diperhatikan.


Satria memilih membuka jendela yang berada tidak jauh dari ranjangnya dan menatap ke arah luar yang ternyata nampak terang karena cahaya dari bulan.


Tanpa sengaja Satria melihat sebuah buah yang berada tidak jauh darinya, hal itu membuat perut Satria yang memang lapar segera mengapai buah tersebut.


Satria langung memakan buah tersebut, ukurannya yang lumayan besar seperti bola basket dengan warna kemerahan sungguh manis dan lezat.


Dia makan dengan lahap sampai buah itu habis tidak tersisa, sedtiaknya bisa menganjal perutnya untuk saat ini sebelum esok.


"Aku ingin sekali kembali ke duniaku sendiri, walaupun tanpa kekuatan apapun. Daripada di sini, hidup tanpa ada kepastian," gumam Satria meringis dengan keadaannya saat ini.


Dia masih menatap ke arah luar, terlihat hamparan ilalang yang begitu luas. Sesekali helaan nafas berat terdengar, semakin memikirkan keadaan membuat Satria semakin tidak menemukan jalan keluar.


Di saat Satria tengah merenung pintu kamarnya di buka secara perlahan dan Satria bisa mendengar sebuah langkah kaki yang mendekat.


Namun Satria abaikan, karena berfikir kalau yang datang adalah Key. Pemuda yang tidak ada ramah-ramah kepadanya, membuat Satria malas untuk berbalik badan.


"Apakah kamu sudah makan?"


Deg


Jantung Satria berdetak seketika mendengar suara itu, dirinya yang awalnya malas kini segera menghadap arah suara yang membuatnya merasakan sensasi yang luar bisa.


Kembali tatapan mata mereka bertemu, Satria seakan terhipnotis oleh mata yang berwarna kecoklatan itu. Apalagi senyuman yang tidak mau luntur dari wajah yang begitu terlihat polos.


"Apakah kamu sudah makan?"


Kembali Lilly mengulangi pertanyaannya yang sama seraya mendekati Satria yang masih saja diam, kemudian meletakan sebuah nampan yang berisi lauk–pauk dan beberapa buah.

__ADS_1


Satria yang terhipnotis akan kecantikan yang alami milik Lilly sampai menengguk silvernya kasar, dia membayangkan hal yang jauh.


Satria baru tersadar kembali setelah Lilly menepuk pelan bahunya, getaran dari sentuhan tangan gadis itu menambah sensasi lain bagi Satria.


"Aku membawakanmu beberapa hidangan, entah yang mana kamu suka," jelas Lilly dengan wajah yang memerah padam karena terus di tatap oleh Satria.


Bagi Lilly ini adalah hal pertama kali baginya bertemu dengan seseorang selain Key, dia tidak menyangka bahwa ada sesuatu yang terus menyusik perasaannya.


Membayangkan Satria dan segala yang ada pada lelaki itu membuat Lilly tidak tenang dan ingin terus berada di samping Satria.


"Aku suka kamu." Entah sadar atau tidak, Satria mengatakan kalimat itu dan membuat Lilly membungkamkan mulutnya dengan buah.


Gadis itu membuang wajah, kemudian berkata, "Aku takut Key marah, segera habiskan makananmu."


Satria pun tersadar akan hidangan yang di bawakan oleh Lilly di saat gadis itu memberinya perintana, tanpa merasa malu Satria langung makan.


Namun, tatapan matanya tidak bisa lepas dari Lilly sampai selesai makan sekalipun. Seakan satu detikpun Satria tidak ingin melewatkanmnya, dia begitu mengagumi gadis yang telah menyelamatkannya itu.


Hingga Satria teringat akan sesuatu dan bertanya kepada Lilly, "Apakah Key akan marah kepadamu? Ketika tahu aku makan?"


"Key? Entahlah," balas Lilly dengan mengangkat bahunya.


Satria mengerutkan dahinya berfikir, gadis di depannya seperti orang yang ping–plan. Padahal baru saja dia mengatakan bahwa takut Key marah, sekarang tidak tahu.


"Baiklah, terimakasih atas hidangannya," kata Satria dan mengembalikan nampan Lilly.


Gadis itu meenrima nampan tersebut dan langsung berdiri, lalu berlalu begitu saja. Satria semakin merasa ada yang aneh pada Lilly membuatnya begitu penasaran.


Satria pun memilih untuk mengikuti Lilly keluar dari kamar, gadis itu berjalan dengan tatapan yang lurus kedepan membuat Satria dengan langkah hati-hati terus mengikuti langkah gadis itu.


Hingga Lilly berada di bawah, tempat yang pertama kali Satria lewati ketika datang ke sini. Area bawah tanah yang berada di bawah pohon besar.


Satria melihat Lilly masuk ke suatu ruangan, karena penasaran Satria pun ikut masuk ke dalam ruangan itu. Dia bisa melihat Lilly yang tengah berada di dekat meja.

__ADS_1


Karena merasa haus, Satria melihat gentong tempat menampung air. Dia pun mengagetkan Lilly yang tengah meletakan nampan.


"Lilly," panggil Satria.


"Hah! Apa yang kamu lakukan di sini?" pekik Lilly dengan air muka yang memerah.


Nyali Satria sempat menciut melihat ke adaan Lilly yang sepertinya marah, tapi dia mencoba menjelaskan bahwa dirinya merasa haus dan ingin meminta air minum.


Wajah Lilly tetap tidak berubah, gadis itu mengambil sebuah gelas dan mengisinya dengan air. Kemudian menyerahkan gelas itu kepada Satria.


Tangan Satria sampai begetar, dia semakinyakin ada sesuatu yang terjadi pada Lilly dan Key semunyikan. Tapi ia tetap tenang dan meneguk air yang diberikan oleh Lilly. Kemudian segera meninggalkan tempat itu secepatnya.


Satria merasa tidak nyaman berada di dekat Lilly, berbeda dengan saat gadis itu menghampirinya di kamar tadi.


Di saat Satria baru saja keluar dari ruangan tersebut ia tidak sengaja menabrak tubuh Key yang tengah berlari dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Hey! Apa yang kamu lakukan si sini?" pekik Key marah.


Satria mencoba menjelaskan semuanya, tapi pemuda itu telah di kuasai oleh amarah. Key menarik baru Satria dan menyudutkan ke dinding.


Pemuda itu membuat Satria merasakan sesak di leher akibat lengan Key yang menekan leher Satria, karena tidak ingin mati. Satria pun sedikit melawan dengan menendang kaki Key sampai pemuda itu melepaskannya.


Satria menghirup udara sebanyak-banyaknya, melihat kleadaan Key yang kesakitan. Satria sudah bisa memprediksi bahwa pemuda itu tidak memiliki kemampuan bela diri.


"Aku hanya pergi mencari minum, tidak lebih!" terang Satria dengan menekankan setiap ucapnya.


Menurutnya Key tidak perlu semarah ini, hanya gara-gara dirinya yang keluyuran. Toh Satria bukan seorang tahan mereka, namun semakin memikirkan hal tersebut Satria teringat akan Lilly yang masih berada di ruangan itu.


"Ini tempat kami! Kamu tidak pantas berada di sini!" teriak Key marah.


Tiba-tiba saja Lilly keluar dari ruangan sebelumnya dan membuat wajah Key menjadi pias seketika, sedangkan Satria semakin merasa keanehan pada gadis itu.


Satria melihat wajah Lilly yang memerah entah kenapa, hal itu begitu mengaggunya. Sampai Lilly mempertanyakan sesuatu yang membuatnya bungkam seketika.

__ADS_1


"Siapa kalian?"


__ADS_2