Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 66


__ADS_3

"Alex, kamu besar dan lahir tanpa Ayah. Seandainya, dunia ini Ayah berikan kepadamu? Apakah hal itu bisa membayar perasaan bersalah ini, padamu?"


Satria berbicara dengan begitu tulus dari hati, dia menatap dalam ke manik sang putra. Hanya Alex yang dekat denganya, berbeda dengan putranya yang lain.


Apalagi Alex terjadi dari sebuah tindakan jahilnya yang ingin mengerjai Alice, tentu saja hal itu menambah daftar penyesalan di dalam dirinya.


"Jadikan Alex seorang kesatria."


Satria hanya tersenyum kecil, mendengar jawaban putranya yang tidak ada dalam daftar pilihan yang dia ajukan.


Alex memang unik dan berbeda, seolah mengwakili dirinya dan Alice. Hal itu pula yang membuat Satria begitu menaruh harapan pada Alex, sebagai pewaris dan mengantikan dirinya suatu hari nanti.


"Apa hebatnya menjadi seorang Kesatria? Kamu hanya akan di kirim untuk berperang dan memenagkan suatu wilayah untuk Sang Raja."


Satria ingin mengetahui, seberapa besar keinginan putranya tentang hal yang telah di pilih. Dia akan begitu senang sekali, kalau bisa terus bersama dengan Alex.


"Yah, menjadi seorang Kesatria tidak melulu tentang perperangan. Seroang Satria bisa menyembunyikan jat idirinya dan menjadi orang biasa. Namun, bila saatnya sudah tiba. Seorang Kesatria akan menjadi tameng yang paling berharga," jelas Alex dengan bangga.


Alex yang dikatakan sebuah kesalahan menjelma dengan begitu cepat menjadi sebuah barang yang begitu berharga, didikan yang tepat bisa menghantarkan bocah laki-laki itu untuk melampaui ayahnya.


Hal itulah yangb menjadikan Satria membuat sebuah dunia lain, di mana hanya akan di pimpin oleh Alex seorang. Bukan di dunia nyata ataupun dunia Albiru, Satria ingin mengukir sejarah putranya di dunia SA.


"Baiklah, sekarang kita akan mewujudkan impianmu itu," terang Satria dan mendapatkan anggukkan dari Alex.


Dengan kekuatan penuh dan memusatkan energinya, Satria mulai membangun sebuah kastil raksasa. Dia tidak ingin berada di balik bayang-bayang Profesor Ruden.


Dia ingin memiliki dunianya sendiri dan semua hal yang dia inginkan saja, tidak perduli dengan hal yang lainnnya.


Bagi Satria, ini kehidupannya dan dunia yang dia buat. Jika ada yang ingin tinggal, maka mereka harus menuruti semua perintahnya.


"Ayah," gumam Alex yang merasa takjub dengan kekuatan yang dimiliki oleh sang ayah.

__ADS_1


Dalam sekejap mata, sudah terbangun gedung yang menjulang tinggi dan begitu megah. Sungguh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.


Alex begitu bahagia dan mengajak sang ayah untuk masuk ke Kastil yang baru saja di bangun dengan begitu antusias.


"Ini luar biasa, Yah!" pekik Alex dengan gembira.


Satria sampai memberikan sedikit kekuatannya, agar Alex bisa terbang. Dia tidak ingin putranya merasa lelah berlari, terlebih mudah terbang daripada menggunakan kakinya.


Alex terus saja mengoceh, mengungkapkan semua hal yang dia inginkan. Sampai ucapannya tidak sengaja menyinggung perasaan sang ayah.


"Ayah, aku ingin ada hewan yang hidup di sini dengan bentuk yang kuat dan hebat. Jangan lupa tanaman yang indah dan berbuah terus tanpa henti, agar aku tidak harus menunggu. Terus ... aku ingin ada seseorang yang menemaniku disini."


Kata-kata terakhir Alex menghentikan tur mereka seketika, bocah itu masih belum menyadari perubahan sang ayah yang dratis dan masih saja berbicara.


"Andaikan ada ibu di sini, dia pasti akan menjadikan ruang persenjataan sebagai tempat yang sakral."


"Alex," panggil Satria.


Alex berbalik badan dan menatap ayahnya dengan raut wajah bingung, dia pun masih menunggu apa yang akan sang ayah ucapkan dengan sabar.


"Ayah kenapa?" tanya Alex yang sudah tidak tahan lagi dengan diamnya sang ayah.


Alex memang masih bocah dan tidak mengerti apapun yang pernah terjadi tentang Satria selama ini, dia hanya mendengar cerita dari sang Nenek sebagai pengantar tidurnya.


Sungguh bocah yang malang, tapi begitulah kehidupan Alex yang selama ini dia jalani. Tidak ubahnya dengan kehidupan Satria, hal itulah yang menjadikan Satria ingin hidup bersama dengan Alex.


Bagi Satria wanita hanya tempat menampung benihnya, namun Alex adalah pendamping untuknya. Dengan bersama Alex ia merasa begitu damai, berbeda saat Satria bersama dengan Alice ataupun Haruna.


"Alex, dengarkan hal ini. Di sini tidak ada orang lain, hanya ada kamu dan Ayah. Makanya, dunia ini Ayah namai dengan dunia SA. Artinya, Satria dan Alex. Tidak ada yang lain," terang Satria.


Namun, apa yang Satria ucapkan membuat Alex memilih memundurkan diri. Terlihat raut wajah yang sulit dijelaskan tergambar dengan begitu nyata pada bocah tersebut.

__ADS_1


Hingga, tanpa sengaja Alex berhenti pada sebuah tembok besar. Dia menggelengkan kepalanya pelan, seraya menatap Satria yang juga membaals tatapannya.


"Alex merasa begitu senang, ketika Ayah akan menikah dengan Ibu. Tapi ... ketika Alex baru saja datang ke gereja. Semuanya telah hancur, hanya ada Ayah di sana."


Terdengar suara isakan dari bocah tersebut, hal itu mengiris hati Satria dengan begitu pilunya.Telah terjadi sebuah kesalahpahaman di antara mereka dan Satria berusaha untuk menjelaskan semuanya.


Namun, Alex menolak dirinya untuk mendekati sang putra dengan mengangkat tangannya. Satria dibuat semakin merasa bersalah dan bingung.


"Alex, Ayah—"


"Berhenti! Alex mohon Ayah!" perintah Alex dengan suara memelas.


Perasaan bocah itu di penuhi akan rasa kekecewaan dan tidak percaya, dia berusaha keras menolak semua hal yang merasuki pikirannya.


Namun, dunia SA yang ayahnya buat menjadikan Alex merasa ingin diasingkan. Sampai kekuatan yang sempat diberikan oleh Satria memuncah dengan begitu kuat.


"Alex!" teriak Satria dengan begitu paniknya.


Seakan semuanya berjalan dengan begitu lambat, Satria tidak bisa meraih tubuh putranya tersebut. Alex melepaskan sebuah energi yang begitu luar bisa.


Energi dari seorang Dewa dan energi dari garis keturuan Lubis, sunggu sesuatu yang begitu luar biasa.


Bum


Energi Alex terlepaskan dengan kuat, tidak ada yang bisa menghentikan kekuatan yang di miliki oleh bocahtersebut.


"Aku kecewa! Aku kecewa! Aku kecewa!" kata itu yag terus Alex ucapkan, dia tidak bisa mengendalikan kekuatan yang dimilikinya. Sampai lepas kendali dan hentakan kekuatan Alex membuat gemar semua dunia dan portal pun terbuka.


Para makhluk dari dunia Albiru terlepas ke dunia nyata dan semua orang di limuti oleh ketakutan tentang yang tengah terjadi.


Tanpa di sengaja, kekuatan Alex merupakan sebuah petaka yang akan membuat dunia ini hancur. Ternyata kekuatan yang Satria miliki, tidak mampu menghentikan Alex.

__ADS_1


"Alex," panggil Satria yang sudah hampir putus asa, keadaan kastil yang baru saja dibangun. Kini telah runtuh dan menjadi puing-puing, akibat Alex.


"Apa yang telahku lakukan?"


__ADS_2