Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 33


__ADS_3

Matahari mulai menampakan cahayanya yang begitu terang, menandakan pagi telah tiba. Hampir semalam, Satria tidak bisa tidur dengan tenang. Menunggu, siang kembali datang.


Sedangkan Bob yang masih saja tertidur, membuat Satria merasa sedikit geram dan membangunkan Bob dengan kasar.


"Bob! Ayo bangun! Hari ini! Kita kan pergi!" teriak Satria. Seraya menggoyangkan tubuh Bob yang tidak sebesar dulu.


"Emmm ... tunggu sebentar lagi," jawaban dengan mata yang masih tertutup.


Hal itu, membuat Satria semakin menggoyangkan tubuh Bob dengan kuat. Agar, Bob segera bangun. Sebab, dirinya sudah tidak sabar lagi.


Ingin mencari segala sesuatu, tentang keluarga ayahnya yang masih misterius. Seraya, menemukan ibunya atau pun H.


Sampai akhirnya, Bob bangun. Dengan keadaan yang kusut, dia menatap ke arah Satria yang terbang melayang.


"Apa kamu benar-benar, ingin pergi?" tanyanya ingin memastikan.


"Aku sudah siap, sejak kamu menceritakan semuanya! Ayo berangkat," ajak Satria dengan semangat.


Bob pun mengangguk pelan, dan mereka mulai menyelusuri hutan Albiru. Padahal, Satria ingin mengajak Bob terbang.


Namun, Bob menolak. Karena, dia tidak bisa menemukan tempat yang akan mereka tuju dari atas ketinggian.


Membuat Satria kecewa dan mengekor dari belakang, sebab Bob lah yang menjadi petunjuk jalan. Hingga, keadaan mata hari yang sudah meninggi.


Ditambah perut Satria yang terasa lapar, entah kapan? Terakhir kalinya, dia makan dan meminta Bob untuk berhenti disebuah pohon buah Tentum.


Bob yang melihat Satria makan dengan lahap, terkekeh geli. Untuk pertama kalinya, dia melihat seorang Dewa kelaran.


Satria yang merasa risih akan apa yang dilakukan oleh bob, akhirnya menegur lelaki itu pelan.


"Kenapa, Bob? Apa kamu tidak suka dengan buah Tentum?" tanya Satria.


Bob hanya menggelengkan kepalanya, buah Tentum merupakan makanan yang sangat lezat. Tetapi, jika mereka hanya makan buah saja. Tidak akan bisa memelulihkan tenaga yang akan terus terkuras.


Hingga, Bob memikirkan. Untuk berburu, hewan yang ada di sana. Setidaknya, malam ini. Mereka harus makan daging.


"Satria, aku ingin berburu. Kamu tunggu disini," pinta Bob. Namun, niatnya tidak diizinkan oleh Satria. Dimana, dia merasaka hanya akan melambatkan perjalanan mereka saja.

__ADS_1


"Tapi ... ."


"Kita bisa berburu, sambil terus berjalan. Aku bisa menangkap, beberapa burung yang terbang. Itu, ucup untuk kita, bukan?" kata Satria dnegan cepat. Sebelum, Bob melanjutkan ucapannya. Dia sudah kembali melanjutkan perjalanan.


Satria yang sudah menjadi Dewa, enggan untuk menyentuh tanah. Bob juga tidak banyak berbicara lagi. Setelah, Satria memerikan perintah.


Hingga, mereka merasa haus dan memilih untuk mencari sumber mata air. Bob yang memang sangat menegnal tempat tersbeut, membawa Satria. Untuk beristirahat di dekat mata air kencana yang berada tidak jauh lagi.


Tentu saja, Satria setuju dengan apa yang dikatakan oleh Bob. Mereka pun, melepaskan penat di jernih mata air kencana.


Bahkan, Satria meminum mata air tersebut dengan rakusnya. Dia melepaskan haus di dahaganya, segar dan manis air tersebut. Membuat Satria seakan tidak mau berhenti untuk minum.


Bob yang melihat, keserakahan Satria pun menegur palan. Karena, takut. Jika, sang pemilik mata air tersebut akan marah.


"Satria, bisakah? Kamu berhenti minum sebentar? Kita juga perlu mencari makan," kata Bob.


Satria yang mendengar, apa yang dikatakan oleh Bob akhirnya berhenti untuk minum. Ketika, dia melihat ada seekor burung yang lewat. Dengan mudahnya, satria menggunakan kekuatanb yang dimiliki dan berhasil membuat burung tersebut terjatuh.


Bukan hanya satu, melainkan berpuluh burung yang berukuran lumayan besar. Bahkan, ukurannya hampir sama seperti ayam.


Satria kumpulkan, dan bawa kepada Bob. Lalu, berniat untuk berkemah di dekat mata air tersebut. Sebelum, melanjutkan perjalanan mereka.


"Bob, kita berkemah di sini! Dan ... ambil ini. Untuk kita makan malam!" perintah Satria dan menyodorkan burung yang dia dapat kepada Bob.


Dengan hati yang sangat berat, Bob mengerjakan. Apa yang Satria perintahkan kepada, karena tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Diatara mereka, membuat bob patuh kepada Satria.


Disaat, Bob tengah sibuk membersihkan burung. hasil tanggapan Satria. Lelaki itu, memilih mengambil beberapa daun yang berukuran besar dan mau membuat tenda.


Sebab, tidak lama lagi. Hujan akan turun, disaat tenga mengumpulkan daun. Dia tidak sengaja, melihat seorang wanita yang sangat cantik.


Jiwa lelaki Satria meronta-ronta, dia menatap tidak berkedip dan mengkiti wanita itu. Hingga, sampai di sebuah gubuk yang cukup besar.


Satria tidak langung masuk, dia memilih untuk menemui Bob terlebih dahulu. Karena, dirinya memiliki ide.


Setidaknya, dia tidak perlu membuat tenda dan bisa tidur dengan nyaman. Ditambah, ada teman yang akan menghangatkan tubuhnya.


"Bob, apakah? Pekerjaanmu telah selesai?" teriak Satria dari kejauhan.

__ADS_1


Bob hanya mengendus kesal, untung dia bisa mencabut bulu burung hasil buruan Satria dengan cepat.


"Sudah Satria, ada perlu apa lagi?" tanya Bob. Kemudian, memasukan semua burung yang sudah dibersihkan kedalam tasnya.


Satria pun menghampiri Bob dan membantu lelaki itu, dia mengajak Bob untuk memasak burung tersebut disebuah gubuk.


Bob awalnya ragu dengan ajakan Satria, tetapi dia tidak ingin ambil punging dan mengikuti apa yang dipinta oleh Satria.


Mereka berdua, berjalan menelusuri hutan. Bob sangat terkejut, ketika melihat sebuah gubuk ditengah hutan.


Bahkan, tas yang dipikulnya terlepas dari bahu dan dia pun segera berlari ke arah gubuk tersebut. Satria yang meliaht hal itu, segera membawa tas Bob dan menyusul lelaki itu.


Bob mengetuk daun pintu yang terbuat dari kayu itu denagn kencang, bahkan air matanya menetes begitu saja.


Satria agak heran, tetapi enngan untuk bertanya. Karena, bisa merasakan perasaan sedih dan rindu yang Bob tengah rasakan saat ini.


Hingga, pintu terbuka dan menampakkan wanita yang sebelumnya Satria lihat.


"Sis!" panggil Bob dan langung memeluk wanita itu.


Jantung Satria terasa hampir jatuh dari tempatnya, mendengar panggilan yang Bob ucapkan. Dia tidak menyangka, jika wanita yang dilihatnya adaah Sis.


Hingga, muncul spekulasi didalam otak Satria. Apa yang terjadi kepada Sis dan Put. Setelah, dia tinggal waktu itu.


Lalu, pikirannya tertuju. Kepada, telur-telur yang pernah dia berikan. Mungkin, sekarang sudah menetas dan menjadi Blogger kecil.


"Apakah, ini kamu Bob?"


"Iya, ini aku Sis!" balas Bob dengan perasaan haru–biru.


"Tunggu sebentar! Bob!" Satria menyeda pertemuan tersebut, karena dirinya masih bingung dengan apa yang terjadi.


"Apakah? Kamu benar-benar, Sis?" tanya Satria dengan sorot mata serius. Kepada wanita yang amsih memeluk Bob tersebut.


"Iya, hamba Sis. Dewa Satria," jawabnya dengan penuh rasa hormat.


"Kenapa kamu bisa berubah?" tanya Satria lagi dengan segala keheranannya.

__ADS_1


"Iya, kenapa kamu bisa berubah?" tambah Bob yang baru menyadari hal itu.


"Waktu itu ... ."


__ADS_2