
"Ruu ... ."
Tubuh Haruna seakan kehilangan tulangnya, dia lemas seketika melihat Satria melenyapkan Profesor Ruren di saat ingatannya telah kembali.
Tangisnya pecah seketika, dia tidak menyangka kalau Satria akan melakukan hal sekejam ini. Haruna tidak bisa menerimanya begitu saja.
"Kenapa?Kenapa?" Kalimat itu terus Haruna lontarkan sebagai bentuk kekecewaan yang begitu mendalam. Andaikan saja ia bisa melawan, tapi Haruna tidak mampu.
Haruna tahu akan batas kemampuan dan kekuatannya, dia tidak mungkin bisa melawan Satria. Tidak akan pernah bisa, selama Satria masih menjadi seorang Dewa.
Dirinya hanyalah seorang Dewi yang memiliki batasan dan Haruna tidak bisa menyakal hal itu sama sekali, tapi keadaan ini mendesaknya.
"Evalius!"
Akhirnya sebuah mantra pemukasnya pun melayang begityu saja, Satria yang hanya diam dengan posisi berdiri tidak jauh dari Haruna tidak sempat untuk menghindar.
Satria terkena mantra tersebut, tapi tidak ada yang terjadi. Sampai ia baru menyadari bahwa telah berpindah tempat. Satria tidak berada di alam atas lagi.
"Apa yang baru saja terjadi?" tanya Satria tidak percaya seraya melebarkan matanya melihat keadaan sekitar yang nampak lain.
Satria berada di tempat yang begitu asing, tidak ada apapun di sana kecuali rimbunnya ilalang. Seperti padang rumput di Safana.
Bukan hanya itu saja, tempat itu begitu redup. Seakan matahari ingin tenggelam, Satria berusaha menggunakan kekuatannya untuk terbang.
Namun, apapun yang Satria lakukan semuanya sia-sia. Kekuatannya raip begitu saaj, hilang tanpa bekas sampai dirinya sendiri tidak menyadari akan hal itu.
Satria berteriak dengan sekuat tenaga memanggil nama Haruna, kini dirinya telah menjadi Manusia biasa yang telah di buang.
"Haruna! Kembalikan aku!"
Satria benar-benar merasa putus asa dengan semua ini, ia mengingatkan-ingat kembali mantra yang sebelumnya diucapkan oleh Haruna.
Kata 'Evalius' berasal dari dua suku kata yaitu Eva dan lius yang berarti Eva keadaan dan lius adalah ilusi. Mantra itu membuat Satria berada dalam keadaan ilustrasi.
Dia mendesah kesal, bagiamana Haruna melakukan hal ini padanya. Bukan hanya itu saja, sekarang bagaimana dia bisa kembali.
__ADS_1
Semakin memikirkan hal tersebut, semakin membuat Satria prestasi sendiri. Namun satu hal yang pasti, kekuatannya tidak akan hilang. Mungkin saja tersegel oleh mantra yang diberikan oleh Haruna.
Satria tahu betul, bahwa Haruna ataupun dirinya tidak bisa merubah apapun tanpa adanya transaksi. Di mana ada yang meminta dan memberi, setidaknya Satria harus mencari cara untuk bisa kembali ke dunia atas.
Di saat Satria tengah berfikir, tiba-tiba saja terdengar suara ilalang yang bergerak dan menimbulkan suara yang membuat Satria merasa terancam.
"Siapa itu?" teriak Satria dan terus waspada, entah apa yang akan ia temui di tempat ini. Di tambah keadaan yang mulai gelap, menambah perasaan tidak nyaman.
Cukup lama Satria menunggu siapa ataupun apa yang ada di balik ilalang, sampai suara berisik itu menghilang bagaikan di telah oleh bumi. Suamanya sunyi dan membuat Satria bisa bernafas lega untuk beberapa waktu, seraya mencari cara untuk tetap bertahan hidup di dunia yang tidak ia ketahui.
Dengan keadaan yang gelap tanpa adanya cahaya sama sekali, Satria membawa langkahnya menyelusuri arah angin.
Langkah yang Satria ayunkan tidak henti-hentinya menggoyang ilalang yang begitu tinggi, bahkan ketika dirinya sedang berdiri seperti saat ini saja masih hampir tertutup oleh ilalang tersebut.
"Aku mulai kelaparan dan haus, ke mana lagi aku harus mencari seseorang ataupun sesuatu yang bisaku makan?"
Satria telah berada di tahap keputus–asaan, ia benar-benar tidak bisa menggunakan kekuatan Dewannya saat ini.
Dia hanya bisa mengandalkan ilmu dan pengetahuan yang selama ini diajarkan oleh sang ibu dan juga Profesor Ruden.
"Hey! Siapa kau!"
Namun, orang itu hanya diam dan terus menariknya sampai ke sesuatu tempat yang terdapat sebuah pohon besar.
Kemudian orang itu berbalik badan dan membuat
Satria tertegun, mata mereka saling bertemu serta mengunci.
Cukup lama mereka berdua dalam posisi tersebut sampai seseorang dari atas pohon berteriak dan menyebut nama seseorang yang membuat mereka terasadar.
"Lilly!"
Tanpa berbeicara sama sekali, gadis yang membawa Satria itu kembali menarik tangannya untuk ke atas pohon tersebut.
Ternyata ada sebuah jalan rahasia dari bawah tanah, Satria begitu terkagum-kagum melihat keadaan yang berada disana sampai tidak terasa mereka telah berada di atas pohon.
__ADS_1
"Siapa yang kau bawa Lilly?" Seorang pemuda dengan wajah yang begitu tampan dan kulit yang putih bersih serta rambut yang pendek menyapa mereka.
Satria yang membandingkan wajah keduanya sudah bisa memastikan, bahwa gadis yang menariknya dan permuda yang ada di hadapannya mereka memiliki hubungan saudara.
Sebab, terlihat dengan begitu jelas wajah mereka yang seperti buah pinang yang di belah dua. Begitu mirip tanpa cela sama sekali, kecuali pakaian yang dikenakan saja yang berbeda.
"Lilly menemukan orang ini di tengah-tengah padang," jelas gadis itu.
Satria yang mendengar kembali nama itu di sebut semakin menyakini, bawa nama gadis itu adalah Lilly. Namun ada guratan emosi ketidak–sukaan pemuda yang ada di hadapannya itu.
"Antar dia kembali!" perintah pemuda itu.
"Tidak Key! Dia bisa mati jika berada di sana!" balas Lilly menolak keras.
Satria tidak ingin kedua saudara itu menjadi bertengkar hanya gara-gara kehadirannya dan mencoba menjelaskan semuanya.
"Maaf, kalau kedatangan saya membuat kalian tidak nyaman. Saya hanya di tatrik oleh Lilly ke sini, tidak ada sedikitpun maksud jahat di dalam diri saya."
Pemuda yang bernama Key itu mengusap dagunya dan menatap Satria dari atas ke bawah, seakan mengira dan menduga-duga tentang Satria yang terus berusaha untuk terihat tenang.
Padahal di dalam diri Satria begitu geram, adaikan ia tidak kehilangan kekuatannya. Mungkin saja saat ini Satria akan melemparkan pemuda yang bernama Key itu ke dalam lembah kehancuran.
"Siapa namamu?" tanya Key setelah cukup lama terdiam barulah pemuda itu berbicara kembali.
Satria tersenyum penuh arti, "Panggil saja saya Satria," jelasnya.
Key mengangguk pelan dan mempersilahkan Satria untuk masuk, pemua itu juga menunjukan kamar yang akan Satria tempati.
Sedangkan Lilly berpisah dari mereka menimbulkan tanda tanya didalam benak Satria, ke mana gerangan gadis itu pergi.
Setelah berada didalam kamar yang berukuran kecil dengan ranjang yang hanya untuk satu orang saja, Key memilih untuk pamit.
Namun, sebelum pemuda itu berlalu dia sempat memperingatkan Satria untuk tidak macam-macam ataupun mendekati Lilly.
"Ingat satu hal! Jangan dekati Lilly, kalau masih ingin hidup di dunia ini!" ancam Key sebelum menutup pintu dan meninggalkan Satria seroang diri dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya dia semunyikan?" batin Satria.