
Waktu terus berjalan tanpa bisa dihentikan, kematian merupakan momok menakutkan bagi seluruh makhluk hidup.
Satria menyadari satu hal yang pasti, sekalipun dirinya telah menjadi seorang Dewa. Tapi, kematian pasti akan dia temui.
Contohnya adalah Dewa Ketua yang harus lenyap dari dunia ini dan di tendang ke alam bawah, sebelum datangnya kematian itu. Satria ingin menyiapkan pasukan.
Membentuk sebuah pasukan yang diisi oleh garis keturunannya, perang yang sempat terjadi dan menumpahkan banyak sekali darah–danginya merupakan inspirasi yang mutlak.
Satria mampu membuat sebuah kelompok yang besar dan menjadi pemimpin, tidak ada yang bisa mebantahnya. Karena Satria adalah ayah mereka, hal itu yang ada dalam benak seorang Satria Lubis.
"Aku mencarimu dari tadi."
Suara Haruna terdengar mengusik lamunan Satria yang tengah memikirkan masa depannya, wanita itu mendekat dengan membawa sebuah nampan.
Haruna membuatkan Satria sarapan, kemudian meletakkan di atas meja yang terletak di hadapan mereka.
Saat ini Satria tengah duduk dihalaman rumah, tidak ada tumbuhan ataupun tanah yang bisa dia lihta. Semuanya putih, karena terbuat dari awan.
Dunia langit memang menawan, tapi dunia bawah membutanya merasa hidup. Karena bisa melihat mahkluk lain, tidak seperti saat ini. Burung sekalipun tidak bisa naik ke atas.
"Apa yang sedang engkau pikirkan wahay Dewa S?" tanya Haruna yang melihat Satria hanya diam tidak merespon kedatangannya.
Entah sejak kapan, perasaan Haruna menjadi sensitif seperti ini dan terkesan posesif kepada Satria. Dia tidak bisa melihat lelaki yang berada di hadapannya itu acuh seperti sekarang.
Hingga terdengar suara helaan nafas panjang, Satria mengambil secangkir gelas yang berada di aats meja. Kemudian mengesapnya dengan perlahan, Haruna begitu tahu cara menikmati pagi yang indah.
Satria di sungguhkan dengan secangkir kopi hangat, entah bagaimana caranya Haruna menghadirkan minuman tersebut.
Satria tidak ingin terlalu memikirkan hal itu, setelah beberapa kali menyeruput kopi hangat. Satria menatap Haruna yang berada di dekatnya.
"Apa kamu bisa menjelaskan kehadiran Hunter H waktu itu?" tanya Satria dengan sorot mata serius.
Dia harus mengungkap Hunter H yang merupakan putranya bersama Haruna, setdiaknya Satria ingin mengetahui kekuatan yang dimiliki oleh Hunter H.
__ADS_1
Satria ingin melakukan banding kekuatan dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang garis keturunan yang telah dia buat.
Tentu saja untuk memastikan kesuksesan yang bisa dia dapatkan, ketika menjalankan niatnya untuk membangun sebuah pasukan besar. Entah untuk berperang, ataupun menjaga perdamaian dunia. Satria akan tetap membuat sebuah pasukan.
"Aku tidak tahu bagaimana pastinya, tapi ... ."
Ingatan Haruna sekaan kembali di saat dia mengalami perubahan signifikan, setelah bercumbu dengan Satria.
Tubuhnya berubah mebesar begitu saja dan tiba-tiba melahrikan seorang anak laki-laki, semuanya begitu cepat. Bahkan Haruna tidak menyadari akan kepergian Satria.
Namun, belum sempat Haruna menyentuh tubuh putranya. Dewa Ketua datang dan mengabil bayi itu, Haruna hanya mengetahui nama bayi yang dipanggil oleh Dewa Ketua denga sebuatan Hunter H.
Setelahnya, Haruna tidak diperbolehkan untuk meihat putranya sendiri dan di buang ke negri yang tidak dia ketahui. Kekuatannya berserta sebagaian ingatan Haruna dihapus, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Maksudnya, Dewa Ketua yang melakukan itu semua?" tanya Satria ingin memastikan dan mendapatkan anggukan dari Haruna.
Kembali Haruna menjelaskan dirinya yang bertemu dengan seorang lelaki yang ternyata adalah ayah Satria, setelah mendapat kembali kekuatannya. Haruna bisa mengingat semua itu dengan begitu baik.
Kenapa waktu itu Haruna tidak mengenalinya dan ia yang dibuang ke dunia nyata. Semua itu disebabkan oleh Dewa Ketua, menyebut namanya saja Satria sudah menjadi geram.
Bukan hanya kuat, Dewa Ketua begitu licik. Dia bahkan meminta kepada Dewa tertinggi untuk tidak bisa mati di tangannya.
"kenapa kamu begitu patuh dan menerima semua kelakukan Dewa Ketua lakukan padamu waktu itu?" tanya Satria penasaran. Ia tidak menyangka saja kalau Haruna diam.
Padahal, kalau Haruna melawan Dewa Ketua ataupun menentang keputusan Dewa tersebut. Namun, Haruna tidak melakukannya.
"Dewa Ketua telah menjadi seperti orangtua bagiku, dia memberiku sebuah kekuatan yang begitu luar biasa dan membebaskanku dari dunia yang begitu kejam," jelas Haruna.
Sekejam apapun Dewa Ketua, Haruna hanyalah seorang anak yang diangkat dan diperlihara dengan begitu baik.
---
Sekali lagi, Satria menjadi semakin geram dan mencekam dengan erat canggih yang berada di tangannya.
__ADS_1
Sudah jelas dari cerita Haruna, bahwa Dewa Ketua hanya memanfaatkan Haruna untuk dijadikan sebuah alat.
Sungguh kejam, hal itu yang ada dalam benak Satria. namun, sekali lagi Satria tidak menyadarinya. Bahwa ia berniat untuk membentuk sebuah pasukan yang disii oleh garis keturunannya merupakan hal yang tidak bisa di benarkan.
Apa bedanya Satria dengan Dewa Ketua kalau begitu? Sama-sama menjadikan orang lain sebagai sebuah alat untuk menguasai dunia. Bedanya hanya Satria menggunakan anak-anaknya, sedangkan Dewa Ketua mengunakan Haruna yang merupakan anak angkat saja.
namun, konsep dan tujuan keduanya sama. Satria telah dimakan oleh sebuah ambisi yang besar, di mana ada tujuan untuk menguasai dunia dan menjadikan makhluk yang lain untuk patuh padanya.
Di saat Haruna dan Satria yang masih saja membicarakan tentang Dewa Ketua yang telah tenang di alam Baka, tiba-tiba saja mereka kedatangan tamu yang tidak diundang.
Air muka Satria berubah menjadi gelap, ketika orang tersebut dengan santainya berjalan menghampiri mereka. Seolah tidak memiliki beban sama sekali.
"Apakah aku menunggu waktu kalian?" tanyanya dengan pelan dan duduk di kursi yang berada di hadapannya Satria.
Haruna yang tidak menyadari perubahan Satria, menyambut orang tersebut dengan begitu ramah. Serta menuangkan sebuah kopi hangat untuk di sunguhkan.
"Perjalanan begitu jauh, anda pasti merasa haus? Silahkan di munum," terang Haruna.
"Terimakasih Dewi, Anda benar sekali. Perjalanannya begitu jauh, tidak mudah untuk tembuh ke alam atas," terang orang itu dan mengesap secangkir kopi hangat.
Satria tidak bisa menahan diri lagi, ia menatap tajam orang yang ada dihadapannya. Bahkan ingin melenyapkannya saat ini juga.
"Apa yang kamu inginkan?" teriak Satria dengan suara yang menggelegar.
Namun, tidak ada ketakutan sama sekali pada diri orang tersebut. Dia masih begitu santai menanggapi amarah Satria, bahkan sesekali melempar senyum.
"Menjadi seorang Dewa tidak akan merubah siapa dirimu, Sat. Seorang Manusia biasa yang hanya kebetulan mendapatkan sebuah keberuntungan, hanya itu."
Satria terpancing akan ucapan orang itu. Ia mengebrak meja yang menjadi penghalang diatara mereka sampai hancur.
Seolah memberitahukan ketidaksukaannya, akan keberadaan orang itu. Tapi, di luar prediksi Satria. Terjadi sesuatu yang janggal.
"Kekuatan apa itu?"
__ADS_1