Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 57


__ADS_3

"Ayo duduk, Sayang," ajak Alice dengan suara yang nayring dan menarik kursi untuk Satria, kemudian mengecup mersa pipi lelaki itu. Seolah sengaja menujukan sebuah kemersaan, untuk memanasi Haruna yang sudah dipastikan melihat semuanya.


"Bagaimana keadaanmu, Dewa S?" tanya Antonius yang duduk di kursi dekat Satria.


"Sudah membaik, Yah," balas Satria. Bahkan dia memanggil ayahnya Alice itu dengan panggilan ayah. Hal itu menarik perhatian yang lain dan menatap ke arah mereka dengan sejuta tanda tanya.


Sampai terdengar suara, sebuah benda yang dipatahkan dan mereka mencari asal suara yang ternyata dari kursi Haruna.


Terlihat dengan jelas, wajah wanita itu memerah padam. Dengan rahang yang mengeras, tetapi Satria mengabaikan semua itu. Membuat Heruna semakin terbakar oleh api cemburu, andaikan saja dia tidak pernah menjadi manusia biasa. Mungkin saja, Haruna tidak akan merasakan yang namanya rasa cemburu atau sakit hati.


Selama menjadi Dewi, Haruna merupakan makhluk yang tidak pernah tersentuh oleh yang namanya perasaan semu. Tidak seperti manusia, yang terkadang tidak teratur. Sebentar bisa marah dan kemudian tidak, tidak ada ketetapan di dalamnya.


Sedangkan seorang Dewa atau Dewi, mereka mempunyai predikat yang berbeda-beda tentang yang namanya perasaan. Mereka bisa berempati dan tertarik kepada makhluk lain, tetapi tidak bernafsu atau berambisi untuk memiliki. Sebab, memahami akan hakikat dunia yang semu.


Antonius yang melihat gelagat tidak baik tengah terjadi, segera memerintahkan Jennifer untuk menghidangkan makanan.


"Jenny, bisakah. Kamu menghidangkan menu makanan untuk kita semua?"


Dikastil Profesor Ruden tidak ada pelayan sama seklai, hal itu mengharuskan mereka yang tinggal di sana untuk mengurus semuanya.


Bukan tanpa sebab, kastil Profesor Ruden merupakan markas untuk keluarga Cooper dan tempat portal ke dunia Albiru berada. Oleh sebab itu, tidak sembarang orang bisa masuk dan tinggal. Jika, bukan mereka yang dikenal oleh Profesor Ruden itu sendiri sebagai penjaga dan pemilik Kastil.


Jennifer pun segera menuju ke kuali besar yang terletak tidak jauh dari meja makan, dapur dan ruangan memasak memang menjadi satu. Agar memudahkan semuanya, karena bisa saja penghuni kastil tersesat. Seking banyaknya ruangan dan lorong di kastil tersebut.


Profesor Ruden yang merupakan tuan rumah, segera memulai makan malam yang telah dihidangkan oleh Jennifer dengan mengangkat gelas milikinya. Terdapat air yang berwarna merah muda, serta tercium aroma alkohol yang begitu menyengat.

__ADS_1


"Ayo bersulang," ajak Profesor Ruden dan mereka semua mengangkat gelas masing-masing, lalu meneguk air itu bersamaan. Begitu pula dengan Satria, dia sudah lama tidak meminum air yang menurutnya sangat nikmat tersebut.


Mereka pun mulai makan dengan tenang, tidak ada yang berbicara. Ritual minum sebelum makan, merupakan tradisi yang telah mereka lakukan sejak lama.


Satria menikmati hidangan sup yang sanagt lezat, dia sudah tahu. Jika yang memasak hidangan itu bukan ibunya atau Profesor Ruden.


Makan malam pun telah usai, satu persatu dari mereka meninggalkan ruangan tersebut. Pertama Atonio, paman Alice. Kemudian di susul oleh Profesor Ruden. Kemudian Victoria dan Alex, ibunya Satria itu sudah mendapatkan perintah dari Antoius untuk menjaga Alex selama mereka akan membicarakan pernikahan Alice dan Satria.


Sedangkan Haruna, wanita itu masih tidak bergeser sama sekali dari tempat duduknya yang terpisah beberapa kursi dari tempat duduk Satria.


"Dewa S, suatu kehormatan dan bangga. Anda bisa berkumpul bersama dengan kami," terang Antonius memulai berbasa-basi.


Satria hanya tersenyum sinis, jika dia menginat kembali pertemuan pertamanya dengan Antonius. Mungkin saja, saat ini dia akan berlaku kasar. Namun, Satria menghargai lelaki itu yang merupakan ayah Alice.


"Aku tidak suka terlalu lama membuat kalian menunggu, jadi ... sesuai dengan permintaan Alice? Aku akan menikahinya," jelas Satria dengan tatapan aneh.


Haruna masih mendengarkan pembicaraan tersebut dengan perasaan yang sulit di artikan, dia menggoyangkan air yang berada di dalam gelasnya dengan pelan. Seraja menunggu, kelanjutan dari uicapan Satria yang dia ketahui masih menggagntung. Sebab, dirinya merupakan seorang Dewi dan tahu akan hukum Dewa.


"Apakah besok, kita sudah bisa memulai acara pernikahannya? Ayah merasa sangat senang dan akan mengumumkan pernikahan kalian, lalu akan mengadakan acara yang besar. Bahkan paling besar di negara X."


Antusias yang Antonius tunjukkan, bukan tanpa maksud dan tujuan. Seorang pewaris dengan kekuatan Dewa telah meminang putrinya, hal ini merupakan suatu pencapaian yang sangat besar untuk keluarga Cooper.


"Tentu saja, apapun yang akan Ayah lakukan. Maka aku akan suka," ujar Alice yang menyambut baik apa yang ayahnya terangkan.


Hingga suara tepuk tangan terdengar, dan pelakunya adalah Haruna. Wanita itu menatap ke arah Satria, seolah meminta agar lelaki itu mempercepat transaksi yang semakin lama membuatnya muak.

__ADS_1


Semua orang mengabaikan Haruna, kecuali Satria dia tersenyum manis ketika menatap ke arah Haruna dan hal itu membuat wanita itu membalas tatapannya dengan dingin seraya melipat tangannya di dada.


"Jadi, kapan kami akan menikah?" tanya Satria.


"Besok lusa, itu hari yang baik dan merupakan kelahiran A." kali ini Jennifer angkat bicara, dia juga diselimuti oleh perasaan bahagia. Bahkan hadiah yang Satria berikan kepadanya, berupa anak kembar yang kini baru berusia beberapa minggu. Memiliki kemampuan dan kekuatan yang sangat luar biasa, awalnya Jennifer berfikir kalau sang suami akan marah karena dirinya melahirkan anak dari Satria. Namun, diluar persepsinya. Antonius malahan senang dan bangga, karena dirinya bisa melahirkan anak seorang Dewa.


"Baiklah," balas Satria dengan cepat.


"Karena, aku telah memberikan apa yang kalian minta? Sebagai timbal baliknya, boleh aku meminta sesuatu dari kalian?"


Akhirnya kata itu yang keluar dari bibir Satria, dan membuat Jennifer dan Antonius terkejut. Lalu, saling memandang satu sama lain. Sedangkan Alice hanya teridam, dia mencium gelagat tidak baik dari apa yang akan Satria lakukan.


"Apa yang anda inginkan, Dewa S? Anda tahu, bukan? Jika kami hanya manusia biasa, tidak memiliki kekuatan yang lebih," jelas Antonius dengan nada pelan.


Satria yang masih menatap ke arah Haruna, lalu meminta pendapat dari wanita itu dan membuat semua orang semain terkejut dengan apa yang dilakukan olehnya.


"Dewi Haruna, apakah kamu memiliki sebuah masukan untukku? Kamu merupakan Tante Alex dan memiliki hak untuk didengar."


"Alex," gumam Antonius dan Jennifer pelan.


Alice merasa geram dengan perlakukan khusus yang Satria berikan kepada Haruna, padahal dirinya telah memeluk Satria dengan erat. namun tidak bisa menguasai pandangan lelaki itu.


Cukup lama mereka menunggu jawaban dari haruna, sampai wnaita itu meletakan kembali gelasnya yang telah kosong dan tersenyum dengan manis.


"Dewa S, aku hanya ingin dijadikan sebagai istrimu juga," jawab Haruna dengan penuh kemenangan.

__ADS_1


"Itu tidak boleh terjadi!" bentak Alice dengan marah.


.


__ADS_2