
"Jika, ada di antara kalian? Ingin meninggalkanku? Maka, silahkan." Satria kembali berbicara, kini dia menatap ke arah Bob. "Ini juga berlaku untuk Paman Bob," tambahnya.
Bob menggelengkan kepala, pertanda menolak apa yang baru saja di ucapan oleh Satria. Baginya, berada di samping Satria. Merupakan sebuah kehormatan yang sangat tinggi.
"Aku akan selalu, berada di sisi Dewa Satria." Sebuah pengakuan, akan pengabdian yang dilakukan oleh Bob. Membuat Profesor Ruden yang mendengar dan melihat segalanya, merasa muak.
"Apa yang bisa kamu dapatkan? Dari mengikuti Satria!" pekiknya.
"Tinggalkan dia!" tambahnya.
Apa yang diucapkan oleh Profesor Ruden, membuat darah Bob kembali memanas. Dia segera meraih pedangnya dan ingin menyerang lelaki itu.
Namun, aksi Bob dihentikan oleh Satria. Karena, Satria tidak ingin. Adanya pertumpahan darah diantara mereka, terlebih adanya suatu misi yang harus dilakukan.
"Aku memang tidak bisa memberikan apapun! Bahkan, segala yang kumiliki? Merupakan pemberian orang lain! Dari kemampuan ini? Tenang dan cara bertarung! Tapi ... aku hanya ingin. Orang yang bersamaan denganku bisa tersenyum, menikmati hari esok yang cerah."
Kata-kata bijak yang Satria ucapan, memberitahukan. Bahwa, dirinya tidak ingin memaksa orang lain. Dimana, Satria hanya berharap. Sebuah kesadaran dan kesukarelaan, orang-orang yang ingin berada di sisinya.
Karena muak akan hujan yang tak kunjung reda, membuat Satria menggunakan kekuatan yang dimilikinya. Untuk menghentikan hujan dan membuat langit, kembali cerah.
Namu sayang, matahari sudah mulai condong dan cahaya terangnya akan berganti dengan gelap. Hal itu, membuat Satria mengurungkan niatnya dan kembali beristirahat.
Batu tempat mereka berteduh, tidak terlalu besar untuk empat orang lelaki dewasa. Membuat setiap pergerakan, akan sulit.
Penus menghampiri Satria, dia langsung duduk di dekat putranya itu dan mengabaikan tatapan tajam dari Bob.
"Satria! Ayah tidak ingin pergi! Namun ... ayah tidak tega. Jika, terus merepotkanmu." Terlihat dengan jelas, ada gurat penyesalan di wajah Penus. Ketika mengatakan hal tersebut dan Satria bisa merasakannya.
"Jika Ayah tidak ingin merepotkanku? Lalu, kenapa Ayah tidak mau menjelaskan tentang sejarah keluarga Lubis? Andaikan Ayah mau menceritakannya? Maka, aku tidak perlu ke timur!"
__ADS_1
Apa yang Satria katakan, menambah perasaan sesal di dalam diri Penus. Mungkinkah, ini saatnya. Dia menceritakan tentang keluarga Lubis yang selama ini disembunyikan dari semua orang. Bahkan, peda putranya.
Sampai, Prosesor Ruden yang sedari tadi diam angkat bicara. Dia masih belum mengetahui apapun dan menurutnya, ini merupakan kesempatan emas.
"Benar sekali! Untuk apa pergi ke suatu tempat yang jauh? Jika, bisa diceritakan. Hal itu akan menghemat, banyak tenaga dan waktu."
Penus memikirkan, apa yang diucapkan oleh Profesor Ruden. Dia pun memantapkan hatinya, untuk menceritakan sejarah kelam keluarga Lubis.
"Satria, Ayah tidak yakin dengan apa yang akan Ayah katakan! Tapi ... percayalah! Kalau Ayah tidak berbohong."
Setelah mengatakan hal itu, Penus pun mulai menceritakan tentang keluarga Lubis. Sesuatu yang sejak lama, ingin Satria ketahui.
Di bawa langit malam dan bertaburan bintang, Penus menatap ke lurus. Dimana ingatnya kembali, kepada masa lampau.
"Ayah! Kemana kita akan pergi!" teriak seorang anak lelaki yang baru berusia 10 tahun dengan kaki yang tidak mengunakan alas, dia terus berlari mengimbangi lelaki disebelahnya.
"Jika kamu masih ingin hidup? Maka berlari lah! Jangan pernah melihat kebelakang!"
Keadaan dunia Albiru pada saat itu, sangat mencekam. Jika tidak bisa bertahan? Maka, kematian yang menemani.
Keluarga Lubis dibantai dengan sadis dan tidak memiliki peluang untuk bisa hidup, hal itu yang membuat Penus beserta beberapa orang yang berhasil kabur dari pengejaran mencari tempat bersembunyi.
Hingga Penus dan ayahnya menemukan sebuah Portal ke dunia lain, namun naas. Sebelum sang ayah masuk, lelaki itu sudah tewas. Terkena sebuah anak panah yang tertancap di punggungnya, hal itu disaksikan oleh Penus dengan matanya sendiri.
Tubuh Penus kecil gemetaran, sampai ayahnya terjatuh. Tumbang ke atas tanah, membuat air matanya terus mengalir dengan deras. Seperti air hujan yang turun dari langit.
"Ayah!" Suara teriakan Penus menarik para pemburu yang merupakan kaum Hunter, disisa tenang yang dimiliki oleh ayahnya. Lelaki itu menyuruh Penus untuk pergi.
Tragedi itu merupakan akhir dari keluarga Lubis, tangis Penus menjadi saksi bisu. Betapa mengerikannya, pembantaian yang dilakukan oleh kaum Hunter.
__ADS_1
"Pergi P! Teruskan hidupmu." Itulah ucapan terakhir yang Penus bisa ingat, ketika sang ayah belum menutup mata. Dengan kaki yang lemas dan gemetaran, Penus kecil memundurkan tubuhnya.
Cahaya portal yang sangat terang, membawa Penus ke dunia manusia. Sedangkan kaum Hunter, masih terjebak di dunia Albiru. Kerena, ukuran tubuh mereka yang besar dan tidak bisa melewati portal.
"Ayah," kata Penus dengan lirih dan duduk dengan meringkuk, dia merasa lelah. Hingga akhirnya, Penus kecil tertidur.
Disaat dia tersadar, dirinya bertemu dengan keluarga Victoria dan saat itulah Penus menjadi bagian dari Keluarga tersebut yang telah menolongnya.
Sebagai bentuk balas Budi, Penus menikah dengan Victoria dan menghasilkan Satria. Namun, kisah mereka tidak bisa bertahan lama.
Diujung musim dingin, Victoria pergi. Untuk menjadi Bubu di keluarga Cooper dengan meninggalkan Satria yang baru berusia beberapa tahun.
Masa sulit untuk Penus yang harus mengurus dan menjaga Satria, hingga setiap 5 tahun. Penus mengirim Satria kepada Victoria, begitupun sebaliknya.
Kesepakatan yang Penus dan Victoria buat, sebagai orang tua. Satria yang mendengar cerita tersebut, merasa sangat miris. Dia sempat berpikir, jika dirinya merupakan sebuah kesalahan.
Namun, setelah dia tahu. Seberapa menderita ayahnya selama ini, demi bisa bertahan hidup. Menambah keinginannya, untuk menciptakan dunia yang lebih baik semakin besar.
"Jadi! Kamu suaminya Vic?"
Semua mata tertuju kepada Profesor Ruden yang bertanya tiba-tiba, tanpa merasa beban. Lelaki itu berdecak, "Aku tidak menyangka! Jika V? Mau menerimamu!"
"Apa maksud, anda?" Penus agak terpancing emosi dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Prosesor Ruden.
"Apa kamu masih belum tahu? Jika V? Rela menjadi Bubu keluarga Cooper, hanya demi menyembunyikanmu."
Profesor Ruden tidak menjelaskan dengan signifikan, tentang apa yang baru saja diucapkannya. Menambah rasa penasaran.
"Menyembunyikanku? Anda jangan bohong! Saya sangat mengenal Victoria! Dia wanita yang penuh akan kelicikan!" balas Penus. Dia hidup dan besar bersama dengan Victoria, tentu saja sangat hapal dan paham akan beranggai wanita itu.
__ADS_1
Profesor Ruden hanya diam, dia tidak membalas apa yang dikatakan oleh Penus dan memilih untuk beristirahat. Sedangkan Satria yang masih penasaran dengan keluarga Lubis, kembali mencerca sang ayah dengan beberapa pertanyaan.
"Apakah Ibu tahu? Akan kemampuan Heypersex milik Ayah? Lalu, kenapa aku tidak memiliki saudara!"