Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 29


__ADS_3

Sebelum masuk, Jennifer mengetuk pintu dan menunggu. Jawaban dari dalam dengan perasaan yang cemas.


Tok


Tok


"Siapa!" teriak seseorang dari dalam.


"Ini Ibu!" balas Jennifer dengan keras.


"Ibu?" gumam Satria tidak percaya.


"Pergilah!"


Kembali terdengar teriak dari dalam, Satria yang masih terkejut dengan apa yang baru diketahuinya. Jika, Jennifer merupakan ibu Alice.


Sampai, wanita itu berbalik badan dan menagtakan. Jika, Alice menyuruhnya untuk pergi dan Satria pun mulai tersadar.


"Maaf, Satria. Alice menyuruhku pergi!" jelas Jennifer dengan nada pelan.


"Hah! Apa!" kaya Satria yang agak terkejut. Kmeudian, dirinya kembali menetralkan perasaannya. Walaupun, seorang Dewa sekalipun. Ternyata dirinya masih memiliki perasaan yang sangat menyulitkan, dimana masih bisa merasakan hal yang sama ketika menjadi manusia.


Dia berusaha untuk tenang dan membalas tatapan Jennifer dengan tenang, Satria juga meraksan perasan tidak berdaya dari wanita yang berada dihadapannya itu.


"Pergilah! Biar ini menjadi urusanku," balas Satria dengan serius.


Awalnya Jennifer menolak dengan halus, disaat Satria mengatakan hal tersbeut. Karena, ia merasa. Jika, Satria akan tetap masuk. Walaupun, tyanpa dirinya. Bukan, dirinya marah atau merasa keberatan. Namun, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk. Jika, memaksa kehendak mereka.


"Maaf, Satria. Bukan, hamba ingin menghalangi. Tapi ... Alice."


Jennifer bingung, bagaimana cara menyampaikan. Samoai bahunya disentuh oleh Satria, ia pun merasakan sensasi yang aneh.


Perutnya terasa dikocok, ia marasa sangat mual. Tiba-tiba saja, perutnya membengkak seketika. Semakin besar dan terasa tidak nyaman, dia menatap Satria dengan tatapan tidak berdaya dan penuh tanda tanya.


"Aku kenapa?" tanya Jennifer dengan lelehan air mata.


Dia merasa, ada yang terus bergerak di dalam perutnya. Sedangkan Satria, seolah tidak perduli dan memilih masuk ke dalam ruangan yanga da dihadapan mereka.


Meninggalkan Jennifer seorang diri yang tengah merasakan kesakitan yang sanagt luar biasa dan keanehan. Namun, sebelum Satria menutup pintu. Dia sempat, mengatakan sesautu yang membuat Jennifer terkejut.


"Kamu akan melahirkan, seorang anak Dewa!"

__ADS_1


Bruk


Pintu ditutup dengan kencangnya, Jennifer hanya bisa menatap pintu tersebut dengan lelehan air mata kepedihan. Setelah mendengar, apa yang diucapkan oleh Satria.


"Apakah? Aku akan berakhir, seperti Alice?" batinya merintih.


Sedangkan Satria yang sudah berada di dalam ruangan tersebut, mengedarkan penglihatannya. Mencari keberadaan Alice, ternyata. Gadis itu, tengah berdiri di jendela yang besar dan menatap lurus ke luar.


Tanpa berpaling, dia berkata, "Aku sedang tidak ingin bertemu dengan Ibu!"


Satria terus mendekati Alice, dia pun memengang pinggang gadis itu. Membuatnya berbalik dan nampak terkejut seketika.


Sorot mata Alice penuh akan kemarahan, kebencian, serta kekecewaan yang sangat kantara. Seolah, hidupnya dipenuhi akan ambisi untuk membalas dendam.


"Apa yang kamu inginkan? Hah! Aku menderita selaam ini!" teriak Alice dan mendorong tubh Satria dengan sekuat tenangnya.


Setelah pertemuan terakhir mereka, disaat Alice sudah hampir memenagkan pertarungan mereka. Satria melakukan hal yang membuat hidupnya, benar-benar terasa berada di dalam neraka yang mengerikan.


Tidak pernah sekalipun, Alice membayangkan. Hal itu akan terjadi, dimana dirinya mendapati keadaan yang sangat mengejutkan.


Alice di nyatakan hamil, dan lebih anehnya. Alice mengelurkan sebutir telur, bukan seorang bayi. Lebih parahnya, dirinya harus kehilangan telurnya sebelum sempat menetas.


Gara-gara, sang ayah yang mengetahui hal tersebut dan membuang telur Alice kedunia Albiru. Menambah kesengsaraan untuknya, hingga saat ini. Alice belum menemukan telurnya yang mungkin saja sudah menetas dan menjadi seorang bayi manusia.


Apa yang diucapkan oleh Alice, merupakan sebuah bentuk perontakan dirinya yang sangat membenci Satria. Karena, telah datang dalam hidupnya dan membuat segalanya berubah dalam sekejap mata saja.


Satria menatap raut wajah Alice yang dipenuhi oleh kebencian, dia mencoba mendenkat. Namun, gadis itu menolak dengan kras.


"Behenti! Apa kamu belum puas, membuatku menderita selama ini?"


Suara Alice lebih nyaring dari sebelumnya, membuat Satria merasa sangat bersalah dan terus berusaha membujuk gadis itu.


"Alice! Aku bisa membantumu!" terang Satria dan terus mendekati Alice.


"Bohong!" pekik Alice dengan menutup kedua telinganya dengan tangan. Dia tidak ingin mendengar, apapun yang akan dikatakan oleh Satira.


Dia tidak ingin kecewa untuk kesekian kalinya, ia benar-benar merasa sakit. Dadanya sering bergemuruh, ketika mengingat kepergian telurnya.


"Alice," panggil Satria.


Satria melihat kerapuhan di dalam diri Alice, hal itu membuatnya merasa sakit. Ia pun terus berusaha, agar bisa meluluhkan hati Alice.

__ADS_1


"Aku bisa memberi, apapun yang kamu inginkan! Katakan! Apa permintaanmu!" kata Satria dengan sungguh-sungguh.


Alice menatap Satria dengan air mata yang terus menetes, menagis merupakan cara terbaik untuk seseorang. Dalam melupakan perasaan di dalam diri.


Cukup lama mereka saling bertatapan mata, dalam klesunyian. Karena, belum ada yang berbicara. Hingga, Alice baru mehyadari. Jika, Satria terbang dan kakinya tidak berpijak ke lantai.


Alice tersenyum pahit, melihat kepercayaan diri Satria yang datang dengan sesuatu yang ada padanya.


"Aku hanya mengingkan anakku! Walaupun ... dia hanya sebuah kesalaahn! Tapi ... hati ini sanagt menyayanginya," kata Alice dengan suara yang terisak.


Dadanya semakin terasa sesak, setelah menyatakan keinginan terbesarnya. Selain, berharap. Jika, tidak pernah bertemu dengan Satria.


Namun, hati seorang ibu yang sudah tertaut kepada buah hati. Membuatnya lemah dan tidak berdaya, tubuhnya merosot kebawah.


"Apa kamu bisa mengembalikan anakku!" tanyanya dengan sisa tenanga yang ada di dalam diri.


Satria membuang nafas panjang, dengan jentikan tangan. Didepan Alice, telah berdiri seorang anak kecil yang sangat manis.


Alice terkjut dengan hal tersebut, lalu memperhatikan anak kecil yang juga menatap kearahnya. Matanya sama persis dengan Satria, usia anak lelaki itu. Bisa ditaksir, sekitar 5 tahun.


Namun, ada keanehan di sana. Dimana anak lelaki itu, bertanya, "Aku ada dimana?"


Suaranya sama persis dengan Alice, tangisnya pecah seketika dan langung memeluk anak tersebut. Satria mengabulkan permintaannya, dimana mereka sudah mencari anak tersebut sekian tahun lamanya.


"Kamu siapa?"


Jantung Alice ingin jatuh seketika, setelah mendengar pertanyaan tersebut. Dia segera mengurai pelukannya, lalu menatap anak lelaki yang ada dihadapannya tersebut dengan sorot mata kesedihan.


"Aku adalah, ibumu," jelas Alice dengan suara yang bergetar. Menahan, rasa sesak. Disaat, sang putra tidak mengenal dirinya.


"Ibu? Apa, aku memiliki Ibu."


Satria yang mendengar dan melihat hal tersebut, kembali menggunakan kekuatannya. Kemudian, memberikan sebuah ingatan. Dimana anak tersebut keluar dari tubuh Alice, hingga menetas.


"Aaaa ... kepalaku sakit!" teriak anak tersebut.


Alice yang melihat anak lelaki itu terus saja kesakitan, kini berlaih menatap kearah Satria dengan garang.


"Apa yang, kamu lakukan kepadanya!"


Namun, Satria hanya diam dan tidak menggubris. Apa yang diatanyakan oleh Alice, membuat gadis itu marah besar.

__ADS_1


"Satria! Tolong hentikan semua ini!" teriak Alice yang semakin frustasi, melihat anak yang baru ditemunya terus menjerit kesakita.


"Tolong aku! Ini sakit!" teriaknya berulang kali.


__ADS_2