
"Put, kamu benar-benar sudah mati atau ... masih hidup?"
Put tidak menjawab pertanyaan Satria, wanita itu hanya menatap nanar Satria yang sudah ketakutan. Namun, beberapa saat kemudian. Tubuhnya ikut menghilang dengan sendirinya membuat Satria bergidik ngeri melihat hal tersebut.
Kini hanya tinggal Satria seorang diri, dia tidak memiliki tujuan sama sekali. Ke mana dirinya harus pergi dan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
Kekuatan yang ada pada dirinya telah berubah mejadi sebuah petaka, bagaimana caranya dia mengendalikan semua keadaan yang telah berubah?
"Ternyata kamu ada di sini?"
Suara seseorang yang begitu familiar membuat Satria mencari asal suara tersebut dan bola mata mereka saling terkunci satu-sama lainnya.
"Kau mencariku?" tanya Satria pelan, setelah sosok itu turun dengan perlahan.
Wanita yang begitu dia cintai dan akan terus mendampinginya dalam keadaan apapun, karena cinta yang mereka miliki tidak ada yang bisa memisahkan.
Haruna seorang Dewi yang begitu cantik dan memiliki kekuatan yang begitu luar biasa, tapi bisa takhluk kepada Satria yang baru saja menjadi soerang Dewa.
"Di sini begitu berantakan," kata Haruna yang sudah berada dihadapan Satria.
Setelah guncangan yang terjadi, Haruna mencari keberadaan Satria. Dia yang terbang ke sana kemari tanpa tentu arah melihat banyak sekali ke rusakan terjadi.
Banyak Monster yang terlepas ke dunia yang tidak seharunya dan beberapa portal yang terbuka begitu saja, dia yakin telah terjadi sesuatu yang begitu buruk.
Hingga, Haruna menemukan sebuah portal yang asing. Karena Haruna begitu hafal dengan portal-portal ke dunia lain, sebab itulah pekerjaannya selama menjadi Dewi.
Bukan hanya menjaga perdamaian dunia yang dia jaga, melainkan melihat semua keadaan yang ada di dunia lain.
Namun, keadaan yang tengah terjadi menjadi sebuah tamparan yang begitu berat untuknya. Karena terlalu terpuruk akan lelaki yang dicintai akan menikah dengan wanita lain, tela membuat Haruna lalai dengan tugasnya.
"Alex yang melakukan ini semua," jelas Satria yang menrima uluran tangan Haruna.
Hatinya sedikit menghhangat, setidaknya ada Haruna di sini akan membantunya dalam memulihkan keadaan dunia yang sedikit kacau.
Namun, tanpa Satria ketahui. Haruna memiliki sebuah rencana lain dan tidak ingin melibatkan Satria di dalamnya.
__ADS_1
Haruna masih bersikap lembut dan penuh operhatian kepada Satria karena rasa cintanya yang bergitu besar dan mendalam.
Cinta bisa membutakan mata dan membuat seseorang tidak bisa berpikir dengan baik, demi memperjuangkan perasaan mereka.
"Ayo pulang," ajak Haruna dan menarik pelan tangan Satria.
Mereka terbang–melayang seperti burung yang lepas, bahkan tanpa menggunakan sayap seklaipun. Kekuatan seorang Dewa begitu mengaggumkan dan tidak bisa diterima oleh akal fikir.
Keduanya hanya tersenyum dan mengikuti cahaya matahari yang sudah mulai meredup, warna jingganya begitu indah dan membuat suasana hati semakin sahdu.
Dunia seakan milik mereka berdua, tidak perduli dengan keadaan sekitar yang telah porak-poranda. Seakan tidak menggangu keharmonisan yang tengah mereka rasakan saat ini.
Tanpa mereka sadari, bahwa keadaan esok akan menjadi mala–petaka untuk umat manusia dan mahluk hidup lainnya.
"Ke mana kamu akan mengajakku, Haruna?" tanya Satria yang terus ditarik oleh Haruna naik ke atas awan, melewati hari yang kian gelap.
Keadaan sekitar yang tidak mendapatkan cahaya matahari lagi, mulai gelap. Walaupun cahaya bintang telah menyinari seangian langit
Haruna hanya diam, dia tidak menjawab pertanyaan Satria sama sekali. Sampai mereka telah berada di mana semua kisah cinta mereka bermula.
Di mana percintaan yang indah, walaupun cuma sesat dan berujung pada nesatapa. Namun, tidak pernah akan bisa Haruna lupakan sampai detik ini.
"Tempat ini?" gumam Satria ketika kakinya telah menyentuh awan yang begitu luas dan di depan gerbang yang tidak hanya sekali itu dia lihat.
Rumah Haruna di kerajaan awan, tempat yang begitu indah dan terbuat dari kumpulan awan-awan yang berwarna putih kebiruan.
Tidak ada siapa-saiap di tempat ini, hanya ada mereka berdua. Sungguh menakjubkan pahatan dari seroang Dewa, Haruna membawa Satria masuk dan mempersilahkan lelaki itu untuk duduk di tempat yang dulu pernah dia singgahi.
"Tunggu di sini, jangan nakal! Aku hanya akan menyiapkan air minum untuk kita," jelas Haruna memepringatakan Satria agar tidak beranjak dari tempat duduknya.
Setelah kepergian Haruna, Satria merasakan perasaan bersalah. Dia telah menghilangan putranya, bagaiamana dia akan menghadapi Alice nantinya.
Wanita itu akan marah besar padanya, bukan hanya menghilang di hari pernikahan. Satria juga menghilangkan Alex, entah seperti apa dia akan menebus semua kesalahannya yang mungkin saja tidak akan mendapatkan maaf.
Hingga mata Satria yang terus mengedar sedari tadi menangkap sebuah figura lama, di mana ada lukisan Haruna.
__ADS_1
Namun, dalam lukisan tersebut. Haruna masih terlihat masih kecil dan imut, seperti anak remaja. Di dalam benaknya Satria merasa penasaran dengan sosok yang berdiri tepat di belakang Haruna.
Begitu familiar, sampai suara Haruna mengagetkannya seketika. Ternyata wanita itu sudah memperhatikannya sedari tadi.
"Itu lukisan Dewa Ketua," jelas Haruna seraya menuangkan air ke dalam wadah yang dia bawa.
Satria segera menghampirinya dan duduk tepat di depan wanita itu dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.
"Kenapa?" tanya Haruna yang melihat sorot mata Satria yang begitu di penuhi akan keingintahuan.
"Kenapa kamu bisa menjadi seorang Dewi dan bertemu dengan Dewa Ketua?" tanya Satria.
Dia ingin mengetahui sepenggal kisah hidup Haruna, wanita yang begitu dia cinta dan tidak akan pernah Satria lepaskan.
Namun, seakan enggan untuk bercerita. Haruna hanya diam dan mengesap minuman yang telah dia buat, tatapan Satria dia anggap seperti patung hidup saja.
"Kenapa hanya diam?"
Satria meraih tangan Haruna dan membuat wanita itu membalas tatapannya, dia ingin bibir yang ranum itu berbicara dan mengatakan semua hal yang ingin dia ketahui.
Sungguh, sikap Haruna yang seperti ini membuat Satria bisa mati penasaran dan tidak bisa banghkit lagi seperti Put.
Rohnya akan menolak kembali ke dunia, kalau keinginannya tidak terpenuhi. Dengan rayuan gombalnya, Satria berusaha membujuk Haruna.
"Aku begitu mencintaimu, akan aku berikan anak yang banyak untukmu."
Haruna terkekeh setelah mendengar ucapan Satria, dia melepaskan genggaman tangan mereka dan kembali menuangkan air ke dalam wadahnya.
"Ayolah, Haruna. Kita akan mengulangi percintaan yang belum selesai," bujuk Satria lagi.
"Ternyata keturunan dari keluarga Lubis tidak pernah berubah ya? Suka memaksa kehendak dan tidak pernah mau mendengarkan pendapat orang lain," saksas Haruna dengan tajam dan berhasil menyentil Satria.
"Maksudnya, kamu mengenal keluarga Lubis?" Walaupun merasa sedikit tidak nyaman, tapi Satria masih ingin mengoreks informasi dari wnaita cantik yang ada dihadapannya ini.
Haruna mengoyangkan wadah minumannya dengan begitu santai, sesekali dia mengesap cairan bening yang ada di dalamnya. Walaupun tidak memabukan, tapi rasanya yang begitu nikmat telah meracuni pikiran.
__ADS_1
"Orang yang suka mencari sesuatu? Biasanya cepat mati!"
Satria menelan silvernya dengan kasar setelah mendengar ucapan yang baru saja Haruna katakan.