
Ingin rasanya, Satria hidup dengan damai bersama AS dan Alice. Namun, dirinya harus mencari keberadaan Hunter H yang juga merupakan putranya dari Dewi Haruna.
Serta, Satria harus menemukan ibunya. Victoria yang masih belum diketahui keberadaannya sekarang, andaikan saja. Kekuatannya bisa digunakan untuk menemukan semua orang yang ingin dia ketemukan.
Namun, kekuatan sebagai Dewa. Hanya bisa digunakan, jika ada yang meminta sesuatu dan dirinya bisa mengambil sesuatu.
Satria yang terus terbang membelah langit yang mulai gelap. Membuatnya turun sebentar, untuk beristirahat dan mencari tempat yang nyaman. Hanya sekedar untuk menunggu matahari, kembali terbit.
Prok
Prok
Suara tepuk tangan terdengar, ketika Satria baru saja turun. Bahkan, kakinya belum menyentuh ke tanah sekalipun.
"Siapa kamu?" tanya Satria dengan sorot mata dingin.
"Hahaha."
Terdengar suara ketawa yang snagat nyaring dari lelaki yang berada dihadapannya, membuat Satria merasa menjadi kesal.
Dia ingin menyerahkan lelaki itu, tetapi Satria melihat sebuah pedang yang tersembunyi dibalik punggung lelaki yang ada dihadapannya.
Sudah bisa dipastikan, jika dia merupakan seorang prajurit atau pemburu. Karena, hanya dua klaim tersebut yang suka membawa senjata.
"Kenapa diam?" tanya Satria. Ketika, lelaki itu terdiam. Setelah tertawa, mengejeknya.
"Cih! Kamu memang sombong, Sat! Bahkan, kamu melupakanku?"
Satria agak terkejut, setelah mendnegar hal tersebut. Dia memperhatikan lelaki yang dihadapannya, yang memang nampak tidak asing.
Namun, Satria benar-benar tidak bisa mengingatnya. Hingga, lelaki itu kembali berbicara.
"Ternyata, didunia Albiru. Dirimu mendapatkan tempat khusus? Membuatmu, merasa nyaman disini?"
"Aku menjadi Dewa disini? Apakah, kamu Profesor Ruden?" tabak Satria.
Dia merasa, jika postur dan gaya bahasa lelaki itu. Sama persisi dengan Profesor Ruden. Ditambah, siapa lagi yang berani mengerjainya selama ini. Kalau bukan lelaki yang juga membuatnya, sering menjadi kelinci pencoban.
Ditengah pembicaraan mereka bedua, tiba-tiba saja terdengar suara pergesekan pedang.
Sat
Set
Sut
"Aku belum kalah!"
Tidak lama kemudian, terdengar suara seseorang dengan nyaring. Membuat mereka berdua, mencari asal suara tersebutdan melupakan pembicaraan yang belum selesai.
__ADS_1
Hingga, mereka menemukan asal suara. Dimana ada seorang Hunter dan lelaki yang bisa terbang sperti Satria.
"Menyerahlah! Maka, aku akan mengampuni!"
"Dewa Ketua!" teriak Satria menggema.
Membuat lelaki yang tengah terbang tersebut, yang merupakan Dewa Ketua menatap ke arah Satria. Namun, naas. Dirinya diserang, ketika legah sedikit.
Sat
Sut
Sebuah pedang terhunus ke tubuhnya, tetapi dengan sekejap mata. Dia bisa melepaskannya dengan mudah dan mengembalikan pedang tersebut kepada pemiliknya.
Bang
Seketika, pedang tersebut menembus tubuh Hunter tersebut dan membuatnya tumbang seketika. Seketika, darah segar menyembur. Membuat Satria melihat situasi tersebut naik pitam.
"H!" pekik Satria nyaring.
Dia segera mendekati Hunter yang ternyata putranya, yaitu Hunter H. Satria tidak bisa menutupi perasaannya yang sakit. Ketika, melihat tubuh tidak berdaya H dengan darah yang bersimbah.
Air matanya luntuh seketika, seperti ari hujan. Membasahi pipinya, dia segera mengobati H dan mencabut pedang yang menacap pada tubuh putranya itu.
Sedangkan Dewa Kertua, menatap jijik kearah Satria dan H. Dia merasa, jika Satria tidak pantas menjadi seorang Dewa. Karena, sanagt lemah.
"Kembalikan kekuatan Dewa yang sudah aku berikan, maka ... aku akan mengabulkan satu permintaanmu!" katanya dengan dingin.
Dimana, seorang Dewa bisa menggunakan kekuatannya. Jika, ada makhluk lain yang mmeinta sesuatu dan mereka bisa mengambil sesuatu dari mahluk tersebut.
Sebab, seorang Dewa. Tidak bisa menggunakan kekuatannya sesuka hati, ada hukum timbal–balik. Ketika, menggunakan kekuatan Dewa.
"Lalu, kamu akan membuangku kembali ke dunia?" kata Satria dan mendekati Dewa Ketua.
Dia membiarkan tubuh H yang telah disembuhkan, dan memilih untuk menghadapi Dewa Ketua yang sangat sombong. Padahal, telah dia kalahkan sebelumnya.
Satria sangat yakin, jika Dewa Ketua lah yang membuangnya kembali kedunia manusia. Setelah, hubungannya dengan Heruna yang menghasilkan H.
"Kamu memang pantas menerima hal itu! Apa kamu tahu? Hukum di dunia Dewa? Dimana tidak boleh memiliki keturunan dari bangsa lain?"
Dewa Ketua mengeram, ketika menjelaskan hal tersebut. Dimana, Satria dengan lancangnya. Sesudah berani naik ke atas ranjang Dewi Haruna dan memberikan keturunan yang dikutuk menjadi Hunter.
"Aku tidak perduli dengan hal itu! Sebaiknya, kamu pergi! Sebelum ... aku menghabisimu!" ancam Satria yang semakin geram.
Dia yakin sekali, bisa mengalahkan Dewa Ketua. Sama seperti sebelumnya.
"Hahaha ... sombong sekali!" Dewa Ketua malahan tertawa mengejek Satria. Dia mengalihkan pandangannya, kepada sosok lain di sana.
Dengan skejap mata, dirinya sudah berada dihadapannya. Lelaki, yang sebelumnya ditemui oleh Satria dan masih disana. Memperhatikan apa yang tengah terjadi dengan seksama.
__ADS_1
"Sebutkan sebuah permintaan!" pinta Dewa Ketua.
"Jangan Prof!" teriak Satria dan segera menghampiri mereka berdua.
Kini Satria juga, sudah berada di hadapan lelaki yang diyakininya. Profesor Ruden tersebut, lelaki itu masih diam tidak bergeming sama sekali.
"Apa yang akan aku dapatkan, jika ... membuat sebuah permohonan?" tanya pelan. Setelah, cukup lama diam.
Dewa Ketua tersenyum sinis, membuat Satria gelap mata dan menyerangnya dengan membabi-buta.
Tar
Tut
Kilatan cahaya yang Satria berikan kepada Dewa Ketua dan membuat Dewa tersebut terkapar seketika. Disisa, tenanganya. Dia gunakan untuk kabur.
sut
Seketika, kilatan cahaya yang sangat terang membuat mata Satria silau. Setelah, cahaya tersebut hilang. Seketika itu juga, Dewa Ketua menghilang. Membuat Satria marah.
"Dasar pengecut!" teriak Satria.
Sedangkan, lelaki yang sedari tadi memperhatikan. Kini mendekati Satria yang terus berteriak, dia menepuk pelan bahu Satria.
"Dewa, Hunter yang kamu selamatkan ... ."
Belum selesai dia berkata, Satria telah menatap ke arah tanah kosong yang sebelumnya ada tubuh H. Kemarahan Satria semakin menjadi-jadi.
"Dasar licik!" pekiknya.
Kemudian, Satria menatap ke arah lelaki yang berada di hadapannya. Dia yakin sekali, jika lelaki itu adlaah Profesor Ruden.
"Prof, ucapkan satu permintaan," pinta Satria dengan berharap.
Dahi lelaki itu mengkerut, seolah sedang berpikir. Dia membalas tatapan Satria, dengan nanar.
"Siapa yang kamu panggil Prof?" tanyanya bingung.
Satria agak terkejut, kemudian berntanya, "Kamu, Profesor Ruden 'kan? Jangan bercanda!"
Satria menekankan, setiap kata yang diucapkannya. Karena, yakin sekali. Jika, lelaki itu ingin mengerjainya.
"Aku bukan Profesor Ruden! Apa, kamu benar-benar tidak bisa mengenaliku?" tanyanya dengan suara dingin.
Satria memperhatikan dengan serius, hingga ia mengingatkan satu nama yang sudah diyakininya mati.
"Tidak mungkin!" pekik Satria menolak. Apa yang ada di dalam benaknya, kemudian menyetuh tangan lelaki yang berada dihadapannya.
"Apakah, ini? Benar-benar kamu?" tanya Satria ingin memastikan.
__ADS_1
"Aku ... ."