
"Bu, kenapa Haruna meminta ingin menajdi Dewi? Sedangkan, dia memang seorang Dewi," tanya Satria dengan perasaan penasaran.
Namun, ibunya hanya mengangkat bahu. Dia juga tidak mengetahuimnya, malahan meminta Satria untuk menanyakan hal itu secara langsung kepada Haruna.
"Apakah, Haruna ada di sini?"
"Haruna tidak pernah meninggalkanmu, sejak kejadian perang. Bahkan, disaat yang lain sudah kembali. Dia masih menunggumu di tempat yang aman, Ibu semakin penasaran. Kenapa dia sangat perhatian kepadamu?"
Satria hanya bisa bungkam, dia tidak mungkin menceritakan hubungan yang pernah terjalin di antara dirinya dan Haruna. Hingga Satria meminta kepada ibunya, untuk memanggil Haruna untuk menemuinya.
Victoria yang mendengar permintaan Satria mengangguk kecil dan berlalu, untuk pergi menemui Haruna.
Disaat Satria tengah menunggu kedatangan Haruna, dia sempat berfikir. Jika Haruna pasti melihat semuanya, berbeda dengan ibunya. Mungkin wanita itu berfikir, jika sang ayah tewas karena Dewa Ketua. Karena Victoria tidak marah sama sekali kepadanya.
krek
Suara pintu yang didorong pelan, sampai terlihat sosok wanita cantik yang membuat Satria rindu setengah mati. Langkah Haruna berjalan perlahan, setelah menutup kembali pintu ruangan tersebut.
Hingga Haruna berada di dekat ranjang Satria, terlihat sekali wanita itu sangat gugup. Keringat menetes dengan deras di keningnya, tetapi Satrian tidak perduli dan langung meraih tangan Haruna.
"Apa kabarmu, Dewiku?" sapa Satria dengan suara yang lembut.
Tentu saja, hal itu membuat Haruna semakin salah tingkah. Ketika dirinya hendak duduk di kursi yang berada di damping ranjang Satria, namun lelaki itu malahan menarik tangannya dan membuat tubuh wanita itu terjatuh di atas tubuh Satria.
Mata mereka saling bertemu, Haruna yang memiliki bola mata yang berwarna emas. Sedangkan Satria berwarna biru, saling mengunci. Entah siapa yang dulu memulai, mereka saling menautkan bibir. Mengecap dan menikmati sensasi yang sebelumnya pernah di lalu, kenangan itu kembali hadir di pelupuk mata Haruna. Hingga, dia menorong tubuh Satria pelan dan banung dari posisi yang tidak seharunya dilakukan.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Satria dengan raut wajah kekecewaan. Karena penolakan yang dilakukan oleh Haruna, padahal dia sangat mendambakan.
Tidak ada jawaban dari Haruna, wanita itu hanya diam dengan kepala yang menunduk. Tidak berani menatap wajah Satria, sampai lelaki itu kembali menarik wajahnya agar tatapan mereka bertemu kembali.
"Kamu kenapa?" tanya Satria lagi, karena tidak mendapatkan jawaban dari Haruna. Entah apa yang salah, Satria ingin segera mengetahuinya.
Namun, Satria hanya mendapatkan tangisan yang memilukan dari Haruna. Wanita yang dicintainya itu, dipenuhi oleh perasaan sakit yang sangat luar biasa. Satria merasa menyesal, karena bisa merasakan hal itu.
Dia memilih untuk duduk, lalu menatap ke lain arah. Satria tidak sanggup dengan keadaan saat ini, sampai dirinya pun tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi ingin jatuh.
"Maaf," ucap Haruna dengan lirih.
Tentu saja hal itu menambah rasa pilu di dalam hati Satria, sebab mengetahui keadaan Haruna yang tidak biak-baik saja. Membuatnya kembali menatap wanita itu yang masih berbaring di atas ranjang, karena tarikannya tadi.
Perlahan Satria meyapu wajah wanita yang amat dicintainya itu, menghapus jejak air mata yang masih tersisa. Dikecupnya dengan lembut, kedua mata Haruna. Didalam hatinya dia berjanji, kalau tidak akan mengizinkan mata itu menetesa kambali.
Haruna menggelengkan kepalanya pelan, membuat Satria mengerutkan dahinya. Bingung dengan penolakan yang dilakukan oleh wanita itu.
"Aku tidak mengingkan apapun darimu, Dewa S. Aku hanya ingin bisa menjadi Dewi kembali dan menjaga dunia Albiru seperti sebelumnya."
"Dikabulkan," balas Satria dengan cepat.
Seketika itu juga, tubuh Haruna mengeluarkan cahaya yang sangat terang dan tidak lama kemudian lenyap. Namun, meninggalkan aura yang sangat kuat di dalaam tubuhnya.
Dia menatap tanganya yang sudah bisa mengeluarkan cahaya, kekuatan Haruna diambil oleh Dewa Ketua. Karena kesalahan yang telah dilakukannya bersama Satria, hubungan terlarang yang keduanya lakukan dan mengahsilkan Hunter. Membuat Dewa Ketua waktu itu sangat murka dan menendang Satria dari langit, sedangkan Haruna di buang ke dunia manusia setelah kekuatan serta ingatannya diambil.
__ADS_1
Setelah kembali kedunia Albiru, dia baru bisa mengingat semuanya. Nasib baik, Haruna terdampar di tempat Penus dan diperlakukan dengan baik. Disaat lelaki itu ingin pergi menemui Satria, dia membawa Haruna untukn ikut bersama dengannya.
Disaat itulah, segala-galanya terjadi. Portal dunia Albiru terbuka dan menyedot mereka semua, termasuk Haruna yang baru saja menyambangi kastil Profesor Ruden.
"Apa kamu merasa senang?" tanya Satria tiba-tiba dan membuat Haruna mengangguk dengan cepat disertai senyuma yang manis. Hal itu, membuat Satria tidak tahan dan kembali mengecup bibir Haruna yang menjadi candu baginya. Bagaikan narkotika, Satria ingin lagi dan lagi. Dia tidak bisa menghentikan, sebab tidak ada kata puas.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Haruna tidak menolak pergelutannya bersama Satria. Dirinya telah menjadi Dewi dan memiliki kekuatan yang lebih, tidak ada yang ditakutinya lagi. Sekalipun keluarga Cooper, teringat akan keluarga itu. Haruna melepaskan tautan bibir mereka dan menatap nanar kle arah Satria.
"Apakah kamu akan menikah dengan Putri Alice?" tanya Haruna dengan sorot mata penuh akan kecemburuan, Satria merasakan hal itu di setiap inci tubuh wanita yang berada di hadapannya.
Satria memilih berbaring di samping Haruna dan menatap langit-langit ruangan itu, diamnya Satria menambah rasa penasaran bagi Haruna.
"Dewa S, jawab 'lah!" Haruna menekankan ucapannya, bahkan wanita itu memeluk Satria dari samping. Tidak ada jarak di antara mereka, seperti pasang suami istri yang tengah berbagi ranjang.
"Jawaban apa yang kamu inginkan?" Bukannya memberikan jawaban, Satria malahan bertanya dan hal itu membuat Haruna mengendus kesal.
Haruna melepaskan pelukannya, dia membelakangi Satria. Wanita itu merajuk, untuk pertama kalinya. Semenjak beberapa tahun menjadi manusia biasa, Haruna melakukan hal yang baginya sendiri aneh. Namun, tetap dilakukan olehnya.
Satria yang memang tidak peka dan mengerti dengan keadaan Haruna yang tengah merajuk, malaahn tertidur. Tentu saja hal itu, membuat Haruna semakin kesal. Dengkuran halus yang Satria timbulkan, menambah rasa kesal yang abadi di dalam wanita itu.
"Kenapa seroang Dewa bisa seperti dia?" gumam Haruna geram. Dia menatap wajah Satria yang tertidur dengan damai, wajah tampan itu meluluhkan api panas di dalam hatinya.
Tidak bisa dipungkiri atau di tolak, jika Satria merupakan lelaki yang telah merenggut kesuciannya sebagai seorang Dewi. Tetapi, dosa itu tidak dia sesali lagi. Karena bisa bersama dengan Satria merupakan anugerah yang tiada tara.
Bruk
__ADS_1
Tiba-tiba saja, pintu ruangan itu di banting begitu keras. Terlibat wajah memerah dan mata yang melotot, menatap ke arahnya.
"Apa yang kamu lakukan?"