
Pergulatan mereka tidak bisa dihindari lagi, Satria tidak memiliki pilihan. Dengan tubuh Lilly di atas kepalanya, Satria berusaha mengimbangi keliaran Put.
Sampai mereka tidak menyadari kedatangan Key yang melihat kelakuan mereka berdua, hingga kayu yang dibawa oleh Key terjatuh dan menimbulkan suara yang cukup keras.
Brak
Satria dibuat kalang–kabut dan segera bangun dari tubuh Put, ia menatap Key yang nampak begitu syok dengan apa yang terjadi.
"Maaf," kata Satria lirih dengan perasaan menyesal. Namun, Key tidak menggubrisnya dan sibuk memunguti kembali kayu bakar yang berhasil dikumpulkan dan mulai menyalakan api.
Matahari mulai menghilang dan digantikan oleh malam yang gelap, tanpa cahaya mereka bisa saja dijadikan santapan oleh mahkluk liar yang berkeliaran di mana-mana.
Satria membuang nafas panjang dan menatap ke arah Put tajam, tapi Put tidak menampakkan wajah bersalah sama sekali. Sebab Put merasa begitu bahagia, sekian lama akhirnya bisa meraksan senasai yang selama ini ia inginkan.
Kini Satria menghampiri Key yang berhasil menyalakan api dan duduk menatap percikan api yang mulai membesar, Satria duduk di samping Key dan kembali meminta maaf.
"Aku tidak perduli dengan hubungan kau dengan Put, Sat. Tapi, tolong .... jangan sampai Lilly tahu. Karena, hal itu bisa menyakiti perasaannya," jelas Key. Hal yang paling tidak ia inginkan adalah ada orang yang menyakiti Lilly, tapi tanpa Key sadari. Kalau Satria telah melakukannya.
"Baiklah, aku berusaha untuk tidak menyakiti Lilly," jelas Satria pelan.
Key menyerahkan buah yang ia temukan tadi untuk Satria makan dan menyerahkan buah yang sama kepada Put.
Malam ini mereka harus tidur di bawah hamparan bintang malam, berharap hari esok datang dan membawa secercah cahaya kehidupan untuk makhluk seperti mereka.
Satria meneyrahkan Lilly kepada Key untuk di jaga, sebab dirinya merasa belum pantas untuk hal itu. Key tidak keebratan, bahkan meminta Satria untuk membujuk Put agar mau memberikan ramuan perubahan yang sama dengan ia minum sebelumnya.
Satria hanya mengiyakan apa yang diminta oleh Key, karena dirinya tidak yakin kalau Put mau memberikan ramuan itu kepada Lilly.
***
Mata Satria perlahan terbuka dan menyesuaikan cahaya yang masuk, ternyata pagi telah menyapa membuat Satria menggeliat.
Tubuh Satria terasa kaku, terlebih tidak terbiasa tidur berlasakan tanah. Begitu dingin di malam hari dan tidak nyaman.
__ADS_1
Sampai mata Satria yang terbuka lebar melihat keadaan yang telah sepi, kecuali Put yang menangis tersedu.
"Ada apa, Put?" tanya Satria penasaran, terlebih tidak melihat keberadaan Key dan Lilly.
Namun, Put tidak menjawab pertanyaan darinya dan terus saja menangis membuat Satria harus memenangkan Put terlebih dahulu.
Satria memberikan pelukan hangatnya seraya mengusap rambut panjang Put yang tergerai dan kotor karena terkena tanah.
"Ada apa?" tanya Satria lagi.
"Key pergi bersama Lilly," jelas Put dengan cigukan.
Satria menegrutkan dahinya mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh Put, terlebih melihat Put yang menagis seperti ini menimbulkan kecurigaan untuk Satria.
Untuk apa Put menangisi kepergian Key dan Lilly, hal itu tidak masuk akal. Kecuali, telah terjadi sesuatu dan Put tidak bisa menghentikannya. Sebab, Satria amat mengenal Put.
Hingga, Satria menghubungkan permintaan Key semalam dengan kepergian pemuda itu bersama Lilly dan Put yang menangis.
"Apakah mereka kembali ke gubuk?" tanya Satria ingin memastikan kalau dugaannya tidak benar. Namun, anggukan dari Put membuat tubuhnya terasa lemas seketika.
Andaikan dirinya bisa berlari dan mengejar Key dan Lilly, mungkin ia tidak akan menunggu Satria bangun seraya menagis penuh akan kekesalan.
"Baiklah, ayo naik ke atas punggungku," pinta Satria. Dengan beban yang berat, Satria mulai melangkahkan kakinya menuju gubuk.
Satria tidak menyaka, kalau Key akan melakukan hal senekat ini. Padahal, Satria sudah mulai percaya kepada pemuda itu. Tapi, malahan dikhianati.
Put juga menjelaskan, bahwa Lilly telah sadar sebelum matahari bersinar. Lalu menjelaskan kalau dirinya telah diserang Satria dan membuat Key semakin marah. Namun, tidak ingin menghabisi Satria.
Apa yang dijelaksan oleh Put menimbulkan tanda–tanya dibenak Satria, kenapa Key membuang kesempatan besar untuk melenyapkannya. Pasti ada sesuatu yang direncanakan oleh pemuda itu.
Walaupun Satria begitu singkat mengenal Key, tapi ia sudah memeprkirakan bahwa Key merupakan orang yang cerdas dan bisa bertindak sesuai dengan keadaan yang terjadi.
Sebab, Key mampu melindungi Lilly selama bertahun-tahun dan bertahan hidup hanya berdua saja.
__ADS_1
Kalau Key bukan orang yang cerdas? Maka, sejak lama telah tewas di dunia yang tidak diketahui. Hal itu yang menjadi dasar dari semua ansumsi yang Satria miliki.
"Aku lelah," jelas Satria yang merasa tidak kuat lagi mengendong Put. Ia pikir bisa berjalan dengan keadaan seperti ini.
Put merasa kasihan dengan Satria, tapi tidak bisa melakukan apapun. Sebab, keadaan luka pada kakinya yang belum sembuh.
"Sat, aku harus." Put menatap ke arah Satria yang nampak begitu kelelahan, ia yakin bahwa Satria juga haus. Tapi, enggan untuk mengatakannya. Sebab, menjaga perasaannya.
"Baiklah, kamu tunggu di sini. Aku akan mencari air dan beberapa buah untukmu," jelas Satria seraya bangun, melihat senyum di wajah Put membuat hati Satria menghangat. Setidaknya, ada Put disisinya saat ini.
Ketika Satria telah berlalu, Put berusaha mencari sebuah akar ramuan yang bisa mengobati lukanya dengan cepat.
Put tidak ingin merepotkan Satria, bagi Put apa yang bisa ia lakukan sendiri. Maka, ia tidak ingin merepotkan orang lain. Itu merupakan prinsip seorang Blogger yang telah mendarah–daging.
Dengan susah–payah Put berhasil meraih sebuah akar yang menjalar di tanah, lalu menggigitnya dengan kuat sampai keluar getahnya.
Put menelan getah dari akar itu, walaupun pahit dan tidak enak. Tapi, bisa mempercepat proses penyembuhannya.
Setelah itu, Put menyeret kembali tubuhnya ke tempat semula. Seraya menunggu Satria Put memejamkan matanya, tapi tidak berapa lama terdengar suara seseorang yang menanggungnya.
"Hay cantik."
Mata Put terbelalak di saat melihat siluman ular yang telah berada dihadapannya, orang yang amat ia hindari. Walaupun telah menjadi Manusia biasa, tetap saja Put merasa jijik.
"Mau apa kau?" tanya Put dengan garang malahan membuat siluman itu tergelak.
"Panggil aku Ruu, cantik. Sepertinya kamu tersesat ya?" tanya Ruu dengan tatapan aneh membuat Put semakin gusar.
"Apakah kau benar-benar tidak mengingatku, Put?" tanya Ruu lagi
Put menggeleng pelan, walaupun wajah Ruu tidak asing baginya. Namun, ia masih tidak bisa mengingat apapun.
"Kalau begitu, kita kenalan lagi," jelas Ruu dengan senyuman khasnya.
__ADS_1
Perasaan Put menjadi tidak enak, terlebih Ruu begitu lancang naik ke atas tubuhnya dengan kaki yang kotor. Ingin sekali Put menyentil tubuh kecil itu sampai terpental jauh. Namun, dirinya memerlukan informasi terlebih dulu.