Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 84


__ADS_3

"Apakah aku harus membunuhnya?" batin Satria.


Satria terus berfikir seraya menghindari setiap serangan Lilly, kalau terus begini ia akan kelelahan dan menjadi santapan Lilly.


Siluman ular itu tidak memberikannya pilihan lain, Satria berlari ke bawah dan mengambil sebuah tombak yang berada di samping tempat penyimpanan makanan.


Tidak sia-sia dirinya berkeliling tempat itu dan mengingat semua benda yang bisa dijadikan senjata. Dengan penuh kepercayaan diri ia ingin menyerang Lilly.


"Apa kamu pikir bisa membunuhku dengan benda itu?" teriak Lilly dengan tubuhnya yang diangkat tinggi-tinggi.


Tubuh Lilly yang telah berubah menjadi ular membuatnya lebih gesit, kemudian menyerang Satria dengan mengibaskan ekornya yang panjang dan kuat.


Berkali-kali Lilly menyerang, tapi tidak satu pun yang mengenai Satria. Di saat pertarungan keduanya masih berlanjut, tiba-tiba saja Lubis datang.


Tentu saja membuat Satria semakij terancam, menghadapi satu siluman ular saja dirinya sudah kesulitan apalagi menjadi dua sekaligus.


"Apa yang Ayah dan Ibu lakukan?" tanya Lubis dengan polos.


"Lubis! Pergi!" teriak Lilly yang takut putranya akan terluka.


Namun, disaat Lilly lengah Satria menyerangnya dan menacapkan tombak yang ada ditangan lelaki itu tepat di unung ekor Lilly.


"Aaaa ...," teriak Lilly kesakitan dan meronta-ronta menyebabkan kerusakan di beberapa bagian rumah.


Satria langsung berlari dan membawa Lubis, tanpa memeprdulikan Lilly yang mengamuk keskitan. Sampai rumah mereka hancur seketika, Lilly masih saja meraung-raung.


Karena panik, Satria membuat api dengan batu yang terdapat di depan rumah dan melemparkannya. Seketika api pun menyambar dan kobarannya begitu cepat menyambar.


Lubis menangis menatap ibunya yang ikut terbakar bersama rumah, bahkan ia bisa melihat sang ayah yang menjadi pelakunya.


"Ibu!" teriak Lubis ingin berlari ke arah sang ibu. Namun langkahnya di hadang oleh Satria yang merentangkan kedua tangannya.


"Dia bukan ibumu!" kata Satria dan langsung menangkap tubuh Lubis yang terus saja menangis dan memanggil Lilly.


Sungguh kejam apa yang Satria lakukan, tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Jika tidak melenyapkan Lilly, maka dirinyalah yang akan di lenyapkan.


Satria membawa Lubis semakin menjauh, walaupun sang putra terus saja meronta. Satria tidak perduli dan terus berlari.

__ADS_1


Sampai Satria merasa kelelahan dan melihat ada sebuah sungai, kemudian memilih untuk beristirahat sejenak.


Berlari dengan menggendong Lubis membuatnya merasa kelelahan, ia menurunkan Lubis dan memperingatkan sang putra untuk tidak nakal.


"Diam! Jangan pergi!" perintah Satria. Kemudian ia menuju ke arah sungai dan mengambi air dengan tangannya untuk minum.


Satria melambaikan tangan kepada Lubis untuk ikut minum air sungai yang terasa manis dan segar, Lubi hanya bisa patuh dan menuruti perintah sang Ayah.


"Ke mana kita akan tinggal sekarang?" gumam Satria berfikir sejenak.


Satria berharap bisa menemukan seseorang dan meminta pertolongan, ia bisa mati kalau terus berada dihutan seperti ini.


Apalagi adanya Lubis di dekatnya, sewaktu-waktu sang putra bisa berubah menjadi siluman ular dan bisa memakannya.


Namun, entah mengapa Satria tidak bisa membiarkan Lubis mati begitu saja seperti Lilly. Bagiamana pun Lubis adalah darah dagingnya.


"Ayo kita jalan lagi," ajak Satria seraya beranjak. Teringat cara keluar dari hutan yang pernah ia pelajari dulu, di mana mengikuti arah matahari. Sebab cahaya matahai bagikan petunjuk arah timur dan barat.


Mereka berjalan dengan perlahan, beberapa kali Satria mengambil buah-buahan yang bisa dimakan sebagai perbekalan.


Walaupun Satria tahu kalau Lubis tidak bisa makan buah, tapi ia juga tidak bisa berburu demi putranya. Karena tidak memiliki senjata apapun ditangannya sekarang, tombak yang ia gunakan sebelumnya telah ditancapkan ke tubuh Lilly.


Satria menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Lubis, ia bingung untuk memberikan sebuah jawaban kepada sang putra.


Matahari yang kian meninggi seakan membakar kulit di tambah Lubis yang merasa kelaparan membuat Satria menajdi frustrasi.


Sampai seekor tikus lewat di atara mereka, tiba-tiba saja Lubis mengejar tikut itu yang masuk ke semak-semak.


Satria segera mengejar Lubis dan melihat putranya berhasil menangkap tikus tersebut, kemudian memakannya begitu saja.


"Apa yang dia lakukan?" gumam Satira seraya menutup mulutnya karena merasa mual melihat apa yang dilakukan oleh Lubis.


Setelah makan tikus, Lubis bangun dan melihat ke arah Satria. Kemudian menghampiri ayahnya itu.


Melihat Lubis yang mendekatinya, sontak saja Satria memundurkan tubuhnya. Mengingat cara Lubis memakan tikus yang nampak menjijikan sekaligus menakutkan.


"Ayah kenapa?" tanya Lubis.

__ADS_1


Satria menggelengkan kepalanya cepat kemudian mencari cara agar Lubis merasa tidak curiga kepadanya.


"Ayo lanjutkan perjalanan kita," ajak Satria dengan cangung.


Lubis hanya diam dan memilih berjalan di depan Satria, setidaknya perutnya terisi sedikit dengan sebuah hidangan kecil.


Satria terus berjalan mengikuti Lubis, perubahan yang begitu nyata pada sang putra. Kini Lubis semakin besar, apalgi telah mencicipi seekor tikus.


Satria terus berfikir dan menyambungkan semua hal yang terjadi, di mana perubahan Lubis begitu nyata dan terbilang sangat cepat.


Satu fakta Satria temukan setelah melihat Lubis makan, putranya seakan memiliki tenaga. Tidak seperti sebelumnya dan hanya makan daging, etanh itu masih hidup ataupun sudah mati.


"Aku lelah," jelas Lubis dan berhenti berjalan. Kemudian memilih duduk di bawah pohon yang rindang untuk berteduh dari triknya matahari.


Satria juga memilih untuk beristirahat sejenak seraya memikirkan cara keluar dari dunia yang belum ia ketahui.


Andaikan mereka bisa bertemu dengan Key, mungkinkah pemuda itu mau membantunya lagi? Atau malah berbalik menyerang setelah mengetahui apa yang ia lakukan pada Lilly.


Seraya makan buah-buahan yang ia petik, Satria terus berfikir. Sampai ia mengingat kembali tempat pertama kalinya terdampar ke dunia ini.


"Padang ilalang," kata Satria dan di dengar oleh Lubis yang menjadi penasaran.


"Apa itu padang ilalang?"


Pertanyaan dari Lubis itu membuat Satria menjelaskan bahwa mereka akan menuju tempat tersebut, di mana banyak sekali ilalang yang tinggi.


Lubis hanya diam tidak tertarik dengan apa yang Satria jelaskan dan memilih untuk bangun lalu kembali melanjutkan perjalanan.


Lubis masih merasa lapar dan terus merasakan, apapun yang ia makan seakan hanya menunda rasa lapar itu saja.


"Lubis, tunggu Ayah!" teriak Satria seraya mengejar langkah sang putra yang semakin menjauh.


Walaupun harapan Satria begitu tipis saat ini, tapi ia ingin mencoba membuka portal di tempat itu. Setidaknya masih ada beberapa mantra yang bisa digunakan olehnya tanpa kekuatan Dewa.


Karena garis keturunan keluarga Lubis memiliki kemampuan yang luar biasa, Satria merasa begitu beruntung akan hal itu.


Mereka berdua terus berjalan sampai matahari hampir tenggelam barulah sampai di padang ilalang yang dituju.

__ADS_1


"Apa yang akan kita lakukan di sini?" tanya Lubis seraya menatap ke arah Satria.


__ADS_2