Jati Diri Kesatrian

Jati Diri Kesatrian
Chapter 90


__ADS_3

"Akhirnya, tunggu aku Haruna," gumam Satria dengan senyuman penuh arti.


Satria memiliki rencana lain tentang hal ini, niat awal yang ingin menolong Alice dan mencari tahu tentang apa yang telah terjadi selama dirinya pergi. Kini berubah haluan, saat ada sebuah kesempatan untuk pergi ke dunia Albiru.


Gadis Blogger itu di perintahkan oleh Satria untuk membawa lemari yang berukuran lumayan besar, tapi tidak dengan gadis itu.


Mereka berdua berjalan dengan perlahan, Satria semakin memanfaatkan keadaan yang ada. Dia tidak hanya meminta gadis Blogger itu, tapi juga tubuhnya membawanya yang berada di atas kepala gadis itu.


Sungguh, apa yang Satria lakukan saat ini benar-benar kelewatan. Tanpa merasa bersalah sama sekali, dia memerintahkan semua Blogger untuk berkumpul. Ketika lemari itu telah berada di luar, tanpa membantah mereka menuruti semua yang Satria katakan.


Setelahnya sudah siap, Satria pun mulai mengucap mantera dan keajaiban pun terjadi seperti sebelumnya. Satria berhasil membuka portal ke dunia Albiru.


"Evalisus!"


Cahaya yang begitu terang membuat mata mereka kehilangan penglihatan untuk beberapa saat, sampai cahaya tersebut memudar dan semuanya perlahan membuka mata.


"Berhasil!" gumam Satria penuh akan kemenangan. Kini saatnya untuk membalas dendam kepada Haruna, walaupun ia tidak bisa terbang ke alam atas. Namun ia yakin sekali, kalau Haruna akan turun ke bawah.


Dunia Albiru merupakan area yang Haruna amankan, dengan penuh kepercayaan diri Satria sangat yakin akan hal itu. Namun, senyum Satria sirna seperti cahaya matahari hari di malam hari.


"Apakah?" pekik Satria dengan mulut yang mengganga melihat keadaan dunia Albiru yang porak-poranda dan hampir rata dengan tanah.


Para Blogger yang bersama dengan Satria nampak begitu terkejutnya seperti Satria, rumah mereka kini amat memperhatikan.


"Bu, apa yang terjadi dengan rumah kita?" Pertanyaan dari gadis Blogger itu membuat semua orang menatapnya, tidak terkecuali Satria. Sebab, pertanyaan itu yang ingin ia ketahui jawabannya.


"Mungkin sudah saatnya kita berpisah, terimakasih S. Mulai dari sini kami akan mencari keluarga yang lainnya," jelas Blogger ketua dan membawa Blogger yang lain berlalu meninggalkan Satria seorang diri.


Dalam diamnya Satria mengutuk dirinya sendiri, kalau ia tahu keadaan dunia Albiru telah menjadi seperti ini? Dia tidak akan pernah ke kembali ke dunia yang didominasi oleh warna biru itu.

__ADS_1


Teringat akan Alice dan orang-orang yang berada di dunia nyata membuatnya mendesah berat, kenapa ia begitu b*d*h meninggalkan kenyamanan di rumah keluarga Cooper dan memilih ke dunia yang membuatnya harus bekerja keras untuk bertahan hidup.


"Ke mana aku harus pergi sekarang?" gumam Satria seraya melangkah dengan perlahan. Dia bingung harus menuju ke arah mana saat ini, andaikan saja ada Sis atau Bob ia yakin kedua Blogger itu akan membantunya.


Dunia Albiru begitu luas, keadaannya sekarang tidak menguntungkan untuk Satria. Dulu banyak sekali pohon dan buah-buahan yang bisa dimakan, sekarang hanya ada tanah dengan gundukan tidak beraturan.


Seraya menadah ke atas langit, Satria berharap sekali ada keajaiban. Dirinya bisa mati kalau terus seperti ini, ditambah ia hanya seorang diri. Bagaimana kalau ada mahkluk atau binatang buas yang akan menyerangnya.


"Put," gumam Satria pelan teringat akan roh itu. Ya, Put adalah seorang Blogger yang dibunuh dan berubah menjadi manusia dan mengalami transit menjadi roh gentayangan.


Harapan Satria hanya Put, sebab perasaan Zing yang dimiliki oleh Put bisa Satria manfaatkan dan menjadi jalan untuknya bertahan di dunia Albiru yang telah berubah gersang sebagai ini.


Satria mencoba mencari-cari cara untuk bisa bertahan dan mencari jalan keluar dari dunia Albiru di saat Satria tengah berjalan. Ia tidak sengaja melihat sebuah cahaya yang melintas dengan cepat, seperti seseorang yang tengah terbang melintasi langit.


"Siapa itu?" batin Satria penasaran dan mengikuti jejak cahaya itu yang meninggalkan kepulan asap yang membentuk sebuah gumpalan yang membantunya untuk mencari ke mana ujung cahaya tadi.


Langka Satria terus mengikuti jejak itu sampai di sebuah sungai, ia teringat akan pertemuan pertamanya dengan Haruna.


Tidak ada Put, Haruna pun jadi. Hal itu yang ada di benak Satria, kedua-duanya sama saja. Mudah baginya untuk mengendalikan wanita itu.


Namun, ketika Satria telah sampai di tepi sungai. Dirinya harus gigit jari, apa yang sebelumnya melintas di dalam benak. Kini sirna seketika, disaat dirinya tidak menemukan apapun di sana.


"Lalu, cahaya apa tadi?" Satria berfikir keras dengan apa yang terjadi dan memilih untuk menyelidikinya seraya minegak air sungai yang begitu jernih.


Satria mengisi tenggorokannya dengan air tersebut sampai rasa haus yang sempat menderanya menghilang sudah.


Tiba-tiba saja, terdengar suara sebuah langkah yang mengusiknya. Satria menarik perlahan pedang yang ada di samping tubuhnya dengan perlahan dan bersiap-siap untuk menyerang. Siapapun itu, Satria tidak akan melepaskannya.


Sat

__ADS_1


Set


Pertarungan pun tidak bisa dihindarkan. Satria menghunuskan pedangnya dan terus menyerang seseorang yang mengenakan pakian hitan dengan menutupi hampir seluruh tubuhnya. Hal itu membuat Satria tidak bisa mengetahui, orang itu laki-laki atau wanita.


Sampai Satria berhasil membuat orang itu tumbang dengan posisi tersungkur di atas tanah, pedang miliknya telah berada di leher orang itu. Bergerak sedirkit saja, Satria tidak segan untuk memenggalnya.


"Siapa kamu?" tanya Satria dengan suara yang melengking nyaring.


"Key!"


Pedang yang Satria gunakan untuk menahan orang itu ia tarik perlahan, setelah mendengar pengakuannya yang menyebut nama Key.


Entah Key siapa, hal itu membuat Satria menjadi penasaran dan membalikkan badan orang itu dengan kasar.


"Kau!" pekiknya geram.


Satria segera bangun dari tubuh orang itu yang ternyata Key kakaknya Lilly, entah apa yang pemuda itu lakukan di sini.


Teringat akan Key, membuat Satria menaruh curiga kepada pemuda itu. Kenapa dia bisa berada di dunia Albiru? Padahal, Key berasal dari dunia lain yang tidak di ketahui.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Satria dengan tatapan mata tajam.


Key bangun dan segera menepuk-nepuk tubuhnya yang kotor karena dijadikan layasan oleh Satria. Dirinya tidak tertarik dengan apa yang ditanyakan oleh Satria, sebab hal itu juga yang ingin ia tanyakan.


"Key!" bentak Satria geram, Key mengabaikan ucapannya.


"Apa?" balas Key dengan malas.


Satria melihat tingkah dan jawaban Key membuatnya yakin, kalau Key belum mengetahui kematian Lilly yang terbakar.

__ADS_1


Namun, bagaimana bisa dia berada di sini? Tentu ada sebuah jalan atau protal yang menghubungkan dunia Albiru dengan dunianya Key.


"Apa yang kau lakukan di sini, Sat? Lalu, di mana Lily?" Pertanyaan Key membuat Satria semakin yakin, kalau Key belum mengetahui kebenarannya.


__ADS_2