
"Kekuatan apa itu?"
Di dalam batin Satria terus bertanya-tanya akan sebuah kekuatan yang dimiliki oleh orang itu.
"Jangan sampai anda melampaui batasan! Aku tidak akan pernah segan-segan!" Haruna memebrikan sebuah peringatan keras.
Namun, orang itu hanya tertawa lepas. Seolah mengejeknya.
"Dewi H, anda memang tidak bisa marah ya?"
"Ruden!" teriak Satria mengelegar seperti petir, kilatan kemarahannya begitu nyata. Bahkan bagian di sekitarnya mulai nampak mengeluarkan cahaya yang berkedip-kedip.
"Hahaha ... biasanya kamu memanggilku dengan seruan Profesor? Sekarang hanya Ruden saja?" gelaknya.
Ya, orang yang menyebalkan itu adlaah Profesor Ruden. Lelaki paruh baya itu telah Satria kirim ke dimensi lain, namun Ruden masih bisa kembali.
Tentu saja hal itu membuat Satria menjadi kesal, terlebih maksud dan tujuan Profesor Runde pasti untuk merebut Haruna.
Satria tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi, dia ingin menyerang dan melenyapkan Ruden. Tapi, adanya Haruna di sini membuatnya harus menahan diri terlebih dahulu.
__ADS_1
"Karena kau tidak pantas untuk di hormati lagi!" balas Satria dengan sorot mata tajam
Ruden tetap tidak terusik dengan apa yang baru saja Satria katakan, dia masih dengan tenang menatap ke arah Haruna dan Satria.
Terjebak dalam dunia yang entah di mana, membuat Ruden harus menggunakan kekuatannya untuk bisa kembali.
Tidak mudah bagi lelaki paruh baya itu untuk mencari keberadaan Haruna, setelah di hilangkan dari dunia nyata dan dilempar begitu saja.
Namun, bukan Ruden namanya. Kalau tidak melakukan sesuatu yang gila, apalagi dia merupakan garis keturunan dari Dewa.
Walaupun tidak ada yang banyak mengetahui akan hal itu, sebab dirinya yang menyembunyikan semua identitasnya dengan begitu baik.
"Cepat katakan, apa yang kau inginkan?" bentak Satria kepada lelaki yang berada di hadapannya itu.
Sebagai pemilik Kastil, Satria tahu betul kalau Ruden memang hebat dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Sebab, lelaki itulah yang mengajarnya akan banyak hal.
Dunia Albiru membuat Satria terlena dan melupakan jati dirinya yang hanya seorang Manusia, setelah menjelma menjadi seorang Dewa.
"Aku merasa tidak perlu mengatakan apapun, sebab kamu pasti sudah tahu apa yang aku inginkan? Tapi, apakah kamu mau memberikannya?" tanya Ruden.
__ADS_1
Tiba-tiba saja keadaan menjadi mencekam, desiran angin yang berhembus membuat perasaan menjadi tidak nyaman.
Apakah ada peperangan lagi? Ataukah mereka akan menghadiri pertemuan tidak menguntungkan ini dengan pertarungannya?
Di saat semuanya masih abu-abu, datanglah seseorang yang membawakan sebuah pesan. Satria sampai terkejut, melihat ada orang lain di tempat ini.
"Permisi Dewi H, saya ingin menyampaikan pesan ini," terang orang itu yang merupakan pelayan di dunia atas.
Seorang wanita yang cantik dan berkulit putih seperti awan, Satria begitu penasaran akan kedatangan wanita itu entah dari mana.
"Terimakasih, kami boleh kembali," jelas Haruna dan menerima sebuah gulungan yang berisi informasi.
Dia mengabaikan dua lelaki yang mungkin saja akan berkelahi dan memilih untuk segera masuk, sebab apa pekerjaan yang lebih penting.
Kini hanya ada Ruden dan Satria, ketika Satria ingin menyusul Haruna tangannya di oleh Ruden. Sontak saja dia menghempaskan tangan lelaki itu dengan begitu kerasnya.
"Kamu masih dalam pengawasanku!" kecam Ruden.
Namun Satria tidak menggubrisnya, ini adalah dunianya dan dia adalah Dewanya.
__ADS_1
"Hati-hati dalam berbicara, kamu hanya menumpang di sini!" balas Satria sengit.
Akankah mereka benar-benar bertarung demi mendapatkan Haruna?